Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 143 Galau


__ADS_3

Di dalam kamar, Ivona membuka berita online. Banyak media massa online mendiskusikan tentang syair dan lirik lagu yang dia tulis, dan sampai sekarang publik belum mengetahui siapa penulisnya. Caroline menepati janjinya, sedikitpun dia tidak membocorkan siapa Ivona, hanya mengatakan jika penulisnya masih duduk di bangku SMA. Selain berita tentang lagu baru, Ivona masuk ke dalam jaringan pusat komputer nasional, dan ramai dibincangkan hacker yang pernah mengacaukan website dan memberi peringatan pada mereka.


"Ternyata hal ini yang disampaikan Marcus tadi.., tapi bagaimanapun aku ingin kembali ke negaraku. Ternyata melarikan diri dari rumah, tidak seperti yang aku bayangkan. Kehidupanku sama seperti sebelum berada di tubuh Ivona.., berlari, pura-pura miskin karena otak yang aku miliki. Aku tidak menginginkan semua itu." gumam Ivona.


"Masih banyak hal yang harus aku cari ujung pangkalnya, aku tertarik ingin melakukan penyelidikan tentang kasus tertukarnya Vaya dengan Ivona. Melihat reaksi Vaya dan ayahnya waktu di rumah sakit jiwa, sepertinya ada yang mereka sembunyikan. Jangan-jangan ayah Vaya sengaja melakukan penukaran itu." tiba-tiba muncul pemikiran baru di benak Ivona.


Gadis itu melirik jarum jam, dan waktu menunjukkan pukul 11.45 menit. Tiba-tiba Ivona berdiri, kemudian mengambil iPad, ponsel dan tas selempangnya. Tidak lama kemudian gadis itu, sudah berjalan keluar dari hotel. Seperti tanpa tujuan, Ivona mengarahkan kakinya ke Victoria Harbour  sambil menikmati Symphony of lights Hong Kong, sebuah  "permainan lampu" yang merupakan hasil perpaduan lampu dari 45 gedung besar yang berada di kedua sisi pelabuhan. Perpaduan lampu warna warni, laser  dengan latar belakang musik yang dimainkan Hong Kong Philharmonic Orchestra sangat indah dilihat dengan mata telanjang.


"Ternyata sangat indah, dan lumayan bisa mengurangi kegundahan hatiku. Besok aku harus menyampaikan pada Marcus, jika aku akan pulang ke Indonesia." Ivona memantapkan hatinya. Bibir gadis itu tersungging senyuman, dengan mata tanpa berkedip memandang lampu-lampu yang membentuk lampu sorot yang kuat. Tangannya bersedekap karena hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya, dia lupa membawa mantel untuk menahan angin.


"Kamu butuh hiburan juga ternyata Iv.., aku pikir kamu merasa nyaman hanya dengan berada di dalam kamar saja." tiba-tiba terdengar suara Michael di belakangnya, dengan menyampirkan jaket di pundak Ivona.


Ivona membalikkan badannya, dan melihat senyuman Michael di depannya. Laki-laki muda itu mengeluarkan gelas dari kertas yang berisi coklat panas pada Ivona.


"Terima kasih Mike.." setelah mengenakan jaket Michael, Ivona menerima uluran coklat panas dari tangan laki-laki itu. Gadis itu kembali duduk dan mengarahkan pandangan mata ke arah air sambil melihat pemandangan sinar lampu.


"Oke.. By the way.., apa yang kamu pikirkan disini? Dari tadi aku melihatmu, sepertinya kamu sedang berpikir serius." Michael tiba-tiba bertanya dan melihat pada gadis itu.


Ivona diam tidak menjawab, tetapi kemudian gadis itu tersenyum.

__ADS_1


"Aku ingin kembali pulang Mike.., ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Aku belum siap untuk menikmati kehidupan seperti ini, usiaku masih terlalu muda. Masih banyak hal yang belum aku lakukan.." ucap Ivona lirih.


"Itulah yang akan kamu hadapi Iv.., memiliki kecerdasan pada usia yang masih terbilang muda sepertimu, bagi segelintir orang merupakan satu anugrah, tapi bagi orang lainnya merupakan satu siksaan berat. Yakinilah apa yang akan kamu yakini benar.." Michael seperti bisa menebak apa yang sedang dialami Ivona. Hal itu menjadikan Ivona merasa nyaman melakukan curhat pada laki-laki muda itu.


"Nikmati masa mudamu, selesaikan urusanmu.., karena situasi itu akan menguap seiring  waktu berlalu. Sampaikan pada Marcus Iv.., karena bagaimanapun karena laki-laki itu, kamu bisa berada di negara ini." lanjut Michael lagi.


Ivona merasa tenang mendengar perkataan Michael, dia merasa mendapat teman yang cocok untuk mengobrol malam itu. Tanpa terasa sudah berjam-jam mereka berdua berada di pinggiran Victoria Harbour, karena khawatir dengan kesehatan gadis itu, Michael mengajak Ivona kembali.


*************


"Tommy.., besok kamu ada waktu tidak??" terlihat Thomas sedang menghampiri Tommy yang masih melihat youtube via ponselnya.


Thomas kemudian duduk dengan menarik kursi di samping laki-laki itu.


"Ada panggilan dari SMA Dharma Nusa.., pihak sekolah akan melakukan konfirmasi keberadaan Ivona. Gadis itu sudah melewati masa ijinnya untuk tidak masuk sekolah.., maksudku jika kamu memiliki waktu longgar, besok kamu ke sekolah untuk melakukan konfirmasi tentang Ivona." Thomas menyampaikan adanya panggilan wali murid untuk datang ke sekolah Ivona.


Tommy menekan tombol pause, kemudian dia menengok ke arah Thomas.


"Baik.., untuk adik kandungku aku akan melakukan konfirmasi ke sekolah, meskipun aku ada jadwal untuk wawancara dengan pendatang baru. Tapi itu bisa aku wakilkan dengan asistenku." Tommy menyanggupi untuk datang ke sekolah Ivona.

__ADS_1


"Aku akan menemanimu Tomm.., tapi aku menyusul ya. Karena ada jadwal pagi pelatihan e-sports di camp." setelah mengatur janji dengan Tommy, akhirnya Thomas meninggalkan kakaknya kembali.


**************


Vaya dan ayah kandungnya diam-diam melakukan pertemuan rahasia di rumah ayahndanya. Perempuan itu mengadukan bagaimana perlakuan keluarga Iswara saat ini padanya. Selama kakek masih berada di rumah, Vaya tidak diijinkan untuk menginjakkan kakinya di rumah kediaman keluarga Iswara.


"Yang penting kamu bisa mendapatkan pembagian atas kekayaan dan asset dari keluarga Iswara Vaya. Setelah itu kamu bisa kembali padaku." ayah Vaya menekan putrinya atas asset keluarga Iswara.


"Vaya belum tahu ayah.., tapi sepertinya hasil pembicaraan terakhir, hak yang harusnya Vaya miliki semua sudah dialihkan pada Ivona. Vaya tidak mendapatkan pembagian apa-apa lagi," terlihat Vaya bersedih.


Ayah Vaya terlihat marah, mukanya merah padam dan berubah menjadi menghitam.


"Kita harus berusaha untuk merebut harta warisan keluarga itu. Vaya.., katamu Nyonya dan Tuan Iswara belum bisa menerima Ivona sebagai putri kandung mereka. Gunakan kedua orang itu.., kamu harus bisa meyakinkan keduanya, agar kakek tua yang sudah bau tanah itu mengganti nama Ivona dengan namamu." dengan muka seram, ayah Vaya memerintah putrinya.


"Akan Vaya coba ayah.., apalagi ini sudah hampir dua minggu, Ivona telah meninggalkan Indonesia. Anak itu juga tidak mengikuti pembelajaran di sekolah, mungkin saat yang tepat untuk Vaya mempengaruhi papa dan mama." Vaya memberi janji pada ayahnya.


"Kamu memang putri ayah yang bisa diandalkan. Karena apakah kamu mau kehilangan kehidupan mewah, jika ayah hanya mengandalkan gaji dari rumah sakit jiwa. Tidak berapa lama lagi, ayah juga sudah akan pensiun, dari mana kita bisa bertahan hidup jika tidak ada asupan materi dari luar."


Vaya menunduk, dia membayangkan jika semua sumberdaya dari keluarga Iswara sudah dicabut darinya. Dia tidak akan dapat berpikir lagi, bagaimana dia harus bersikap.

__ADS_1


******************


__ADS_2