
"Terima kasih Marcus.., kamu memang selalu bisa aku andalkan. Jika kamu membutuhkan bantuan di lain waktu, kamu bisa menghubungi aku." Ivona mengucapkan terima kasih pada Marcus. Tidak salah dia tadi meminta pada laki-laki itu untuk membantunya, karena selalu dia dapatkan solusi setiap menghubunginya.
"Tidak perlu seperti itu. Kita kan satu tim, sebagai sesama anggota tim, kita harus saling membantu. Aku akan menghubungi Institut Komputer di negaramu, secepatnya aku akan membersihkan namamu. Sehingga kamu tidak menjadi target pencarian mereka." ucap Marcus berusaha meyakinkan Ivona.
"Baik.., kamu memang selalu bisa untuk aku andalkan Marcus. Aku tutup dulu ya panggilan telponnya. Aku tunggu kabar baik selanjutnya." akhirnya Ivona mengakhiri panggilan.
Ivona merasa lega setelah menghubungi Marcus, dia kembali merasa berhutang budi pada laki-laki itu. Tidak ada salahnya dia telah menerima tawaran kerja sama yang diberikan oleh Institut Komputer Internasional, karena selain mendapatkan gaji lebih besar dari standar gaji dari perusahaan-perusahaan yang ada di negaranya, dia juga dengan mudah meminta bantuan perlindungan pada mereka.
Dia kemudian kembali ke ruangan kerja Alexander, dia pura-pura tidak terjadi sesuatu dengannya. Sambil membuka-buka kembali buku pelajarannya, dia mengistirahatkan matanya. Lumayan untuk mengurangi radiasi dari cahaya gadget pada matanya.
*************
Melihat website mereka di hack oleh orang yang tidak dikenal, Institut komputer nasional akhirnya menyadari ada yang salah pada sistem mereka. Mereka berpikir jika tidak ada orang diluar institut mereka yang akan bisa membobol sistem pertahanan mereka, karena mereka menjadi regulator dan penguasa di negara ini. Di dalam unit yang bertanggung jawab dan memiliki kapabilitas, 6 anggota tim di dalamnya saat ini sedang membicarakan masalah ini.
"Siapa yang main curang, sudah mempermainkan website kita?" tanya salah seorang dari anggota itu, sambil memukul meja di depannya.
"Kok kamu malah nanya sama aku. Ya pasti bukan akulah, apakah kamu pikir begitu longgarnya pekerjaanku sehingga aku memiliki waktu untuk menciptakan malware?" anggota lain membela dirinya, memastikan bahwa bukan dia pelakunya.
__ADS_1
"Tapi siapa lagi, kalau bukan orang-orang kita sendiri. Bagaimana orang luar bisa tahu sandi untuk masuk dan melakukan peretasan pada sistem kita, kalau bukan orang-orang kita sendiri." terdengar salah satu anggota di pusat Institut Komputer Nasional. Keenam orang anggota itu saling meragukan antara satu dengan lainnya.
Orang-orang yang ada disitu terdiam, saling memikirkan apa yang sudah mereka hadapi saat ini. Mereka saling curiga mencurigai antara satu dengan yang lain.Mereka merasa sudah membuat sandi yang sangat privat, bahkan mereka disumpah untuk tidak membocorkan sandi pada orang yang tidak memiliki kepentingan pada divisi mereka. Diberhentikan dengan tidak hormat tanpa pesangon, menjadi ancaman serius yang akan mereka hadapi. Tetapi saat ini, dengan mudah sistem mereka dibobol oleh malware yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
6 orang anggota itu masih terdiam, tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini untuk membersihkan mereka dari tuduhan publik. Sampai Kepala Institut datang dan berkunjung ke divisi mereka.
"Apa yang sudah kalian lakukan terhadap Institut kita ini??? Aku sudah menyumpah kalian untuk setia dan taat dengan kode etik profesi kalian. Ternyata apa yang aku dapatkan?" tanpa bertanya terleboh dahulu, Kepala Institut langsung marah-marah pada mereka.
"Hendrawan..., apakah kamu mengetahui, kenapa bisa terjadi masalah pada perusahaan kita?" salah satu anggota bertanya pada anggota tim yang termuda disitu, namanya adalah Hendrawan.
"Sebentar.., ada apa ini? Kenapa kamu bertanya padaku, dari tadi kita sudah berdiskusi membicarakan masalah ini. Aku juga berkata jika tidak tahu apa penyebab dan si pembuat kekacauan ini. Apakah kalian semua mencurigai saya?" Hendrawan merasa dipojokkan oleh teman-temannya sesama anggota tim.
"Kepala..., berapa kali aku harus menjelaskan kepada Bapak? Atau juga kepada anggota tim lainnya, aku tidak memiliki motif apa-apa untuk melakukan tindakan melawan hukum ini. Apakah hanya karena aku termuda di antara kita semua, juga memiliki masa kerja paling rendah, menjadi sangat tepat jika dijadikan sebagai sasaran tersangka dalam kasus ini. Aku tidak melakukannya, dan tunjukkan bukti-bukti jika memang aku yang melakukannya! Aku bersedia untuk mengundurkan diri, jika kalian bisa menemukan bukti kalau aku adalah pelakunya." dengan nada tinggi pula, Hendrawan membela dirinya.
Semua orang yang ada di ruangan pusat komputer itu langsung terdiam mendengarkan perkataan Hendrawan, mereka memang hanya asal menuduh dan tidak dapat menunjukkan bukti siapa pelakunya. Mereka sama sekali tidak menyangka, jika seorang gadis yang menjadi korban bully an di media sosial menjadi pelaku utamanya. Tetapi Ivona sangat pintar untuk menyembunyikan identitasnya, dan tidak ada yang bisa menembus pertahanan yang sudah dia buat.
"Baiklah.., aku hanya akan berpesan. Segera selidiki kasus ini, siapa pelaku yang ada dibalik semua kekacauan ini! Siapa tahu ini bisa menjadi keberuntungan dan rejeki bagi kita. Mungkin dengan menemukan pelakunya, kita akan dapat merekrut anggota baru disini." akhirnya setelah mencoba memahami semuanya dengan kepala dingin, Kepala Institut menyampaikan pernyataan ini.
"Siap Kepala!" jawab ke-6 anggota divisi ini dengan serempak.
__ADS_1
********
Para petinggi di Pusat Institut Komputer Nasional masih berdiskusi tentang cara mengatasi kehebohan dan kericuhan masalah di internet. Mereka masih belum menemukan titik terang tentang siapa yang menjadi pelaku dari semua kekacauan ini. Hacker profesional menjadi topik perbincangan hangat di berbagai platform penyedia jasa media sosial. Para Youtuber langsung mengadakan podcast dadakan dengan trending topik #Hacker Profesional.
"Kring.., kring..., kringg." saat rapat masih berlangsung, pemimpin rapat mendapatkan telpon. Segera dia minta ijin untuk mengangkat panggilan masuk. Dia terkejut, dan seketika merasakan bahagia begitu melihat siapa yang melakukan panggilan masuk terhadapnya. Dia bahkan merasa tidak percaya melihat siapa yang menelponnya saat ini.
"Selamat siang Tuan Marcus..., saya merasa sulit percaya jika Tuan melakukan panggilan saya saat ini." petinggi itu langsung menyapa Marcus.
Marcus memang sangat dihormati di negara mereka, karena laki-laki ini merupakan peneliti yang sangat potensial menghasilkan karya-karya yang mendatangkan manfaat untuk orang banyak. Jadi mendapatkan telpon darinya, seperti mendapatkan undian jackpot yang langsung menerbangkan mereka.
"Aku ingin membahas kejadian di perusahaanmu kali ini." tiba-tiba dengan suara dingin, Marcus berbicara pada petinggi itu.
Petinggi itu langsung panas dingin mendengar perkataan yang disampaikan oleh Marcus. Mendadak rasa bahagia yang baru saja dia rasakan, seakan langsung menghilang.
__ADS_1
*************