
Alexander membuka pintu mobil bagian depan disamping kemudi, kemudian menunggu Ivona untuk naik ke dalamnya. Setelah gadis itu naik, Alexander menutup pintu dan berjalan ke depan mobil untuk mengemudi. Laki-laki itu memberi isyarat pada Tommy untuk mengantarkan Rico pulang kembali.
"Kenakan seat beltmu!" Alexander membungkukkan tubuhnya di depan Ivona, untuk memasangkan seat belt. Ivona kaget dan bingung, berkali-kali dia berhadapan dengan laki-laki itu. Tetapi setiap kulit mereka tanpa sengaja bersentuhan, gadis itu merasakan jantung berdebar dan deg-degan.
"Kenapa jantungmu lari-lari Na..?" ucap usil Alexander saat telinganya menatap jantung Ivona yang berdetak cepat. Laki-laki itu tersenyum smirk, dan langsung menegakkan kembali tubuhnya, dibawah pelototan mata jernih Ivona. Setelah melambaikan tangan sebagai tanda pamitan dengan anggota keluarga Iswara, Alexander kembali menjalankan mobilnya. Mereka berdua dalam diam menyusuri jalan menuju pulang.
"Apa yang tadi kamu mimpikan Na..?? Teriakan ketakutanmu terdengar sampai di lantai bawah." tiba-tiba Alexander bertanya tentang mimpin buruk yang tadi didapat gadis itu.
"Sampai keraskah tadi kak..?? Ivona juga tidak tahu, kenapa hampir sering mimpi buruk mendatangi. Jika Ivona menginap di rumah keluarga Iswara." dengan suara pelan, Ivona menjawab pertanyaan Alexander.
Alexander kembali melihat ke wajah gadis yang duduk disampingnya itu.
"Ivona merasa berada di gurun pasir yang panas, dan herannya merasa dikejar oleh Direktur Rumah Sakit Jiwa beserta anak buahnya. Ivona mau bersembunyi tetapi tidak ada tempat. mereka berusaha untuk mencekik Ivona." Ivona menceritakan mimpi buruk yang tadi dia alami.
"Direktur Rumah Sakit Jiwa..?" Alexander mengingat kembali ketika pertama kali dia bertemu dengan gadis itu. Bagaimana Direktur itu mengerahkan semua security dan orang-orang untuk menangkap Ivona, mengatakan jika gadis itu gila. Padahal sedikitpun, Alexander tidak merasakan jika gadis yang ditolongnya dulu itu mengalami gangguan jiwa. Laki-laki itu mengerenyitkan keningnya.
"Sebenarnya Direktur itu adalah ayah kandung Vaya. Ivona juga baru tahu saat melarikan diri dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu." tiba-tiba Ivona menyampaikan apa yang dia dengar pada Alexander, dan laki-laki itu sedikit kaget. Tiba-tiba laki-laki itu tersenyum sinis, dia kembali fokus memegang kemudi.
**********
Sesampainya di rumah, setelah memastikan Ivona masuk kamar dan istirahat, Alexander masuk ke dalam ruang kerja yang ada di kamar atas. Laki-laki itu menekan tombol panggilan keluar pada asistennya.
"Ada apa Tuan Muda?" Rico menerima panggilan telpon dari Alexander.
__ADS_1
"Selidiki DIrektur Rumah Sakit Jiwa tempat saat pertama kali kita menemukan Ivona. Cari informasi tentang laki-laki itu, dan juga dapatkan informasi tentang kejadian belasan tahun lalu, saat kelahiran Ivona dan Vaya!" Alexander memberi informasi atas tugas yang dia berikan pada asistennya.
"Direktur Rumah Sakit Jiwa.., untuk apa Tuan Muda?? Kemudian juga apa hubungannya dengan kelahiran Nona Ivona dan putri keluarga Iswara?" dengan penuh tanda tanya, Rico memberanikan diri bertanya pada Alexander.
"Laksanakan saja perintahku, dan serahkan semua padaku! Aku sendiri yang akan mencari keterkaitan antar semua informasi yang berhasil kamu kumpulkan." Alexander tidak memberi informasi tambahan pada Rico, dia ingin mendapatkan secepatnya.
"Siap Tuan Muda.., segera Rico laksanakan." Rico memberi kesanggupan. Tanpa bicara lagi, Alexander langsung mematikan panggilan telponnya.
Dengan membawa iPad di tangannya, Alexander memasuki kamarnya yang digunakan untuk tidur Ivona. Laki-laki itu langsung menuju tempat tidur, dan duduk sambil berselonjor kaki di samping gadis itu.
"Kamu jangan takut dan khawatir Ivona... Aku akan berusaha untuk menyibak tabir misteri yang melingkupimu!" Alexander mengusap pipi Ivona dengan tangan kanannya, kemudian membetulkan selimut untuk menyelimuti gadis itu. Melihatnya gadis yang ada disampingnya tidur terlelap dengan sangat nyenyak, Alexander meletakkan iPad yang dia pegang di atas lemari kecil. Dia meluruskan tubuhnya, kemudian meletakkan tangannya di pinggang Ivona, dan tidak berapa lama keduanya terlelap.
***********
"Selamat pagi Tuan Tommy.." Caroline dengan senyumannya, memberi sapaan pada Tommy yang saat ini duduk di belakang meja kerjanya.
"Yapz.., selamat pagi juga. Nyaman tidak duduknya, jika kurang nyaman, kita bisa pindah duduk di atas sofa." Tommy memberi jawaban atas sapaan dari Caroline, kemudian laki-laki itu berdiri dan mengajak Caroline untuk duduk di atas sofa. Caroline mengikuti laki-laki itu, gadis itu kemudian duduk di depan Tommy dengan dibatasi meja tamu.
Setelah mereka duduk, petugas pantry menyiapkan dua cangkir kopi panas dengan dua piring kecil potongan cake.
"Minumlah dulu Nona.., baru nanti kita bicara lebih serius!" Tommy mengambil cangkir, kemudian menyesapnya sedikit dan kembali meletakkan cangkir diatas meja. Caroline melakukan hal yang sama.
"Mungkin bisa kita mulai Tuan.., hal apa yang terakhir sudah disampaikan oleh Tuan via panggilan telpon!" Caroline meminta Tommy untuk segera menyampaikan maksud utama mereka berdua ketemu.
__ADS_1
"He.., he.., he.., ternyata nona Carol sangat terburu-buru. Tenanglah dulu.., apakah aku tidak pantas untuk mengundang dan mengajak Nona Carol untuk berbicara sedikit lebih lama?" dengan tatapan langsung ke mata Caroline, Tommy menanggapi perkataan gadis itu.
Caroline diam, dia hanya melihat laki-laki yang saat ini duduk di depannya itu. Mata jeli Caroline, melihat kemiripan antara Ivona dengan pemilik perusahaan yang bergerak di bidang film dan music itu. Tetapi gadis itu kemudian menepis pikirannya itu.
"Silakan Tuan.., saya sangat terhormat dan tersanjung sudah mendapatkan kehormatan untuk bisa berbicara dan diundang langsung oleh Tuan." sahut Caroline sarkasme.
Tommy tersenyum.., kemudian...
"Agar terkesan lebih akrab.., panggil aku langsung dengan nama panggilanku. Panggil aku Tommy.., dan bolehkan jika aku memanggilmu langsung dengan namamu Carol?" Tommy kembali bertanya pada Caroline.
Gadis itu menganggukkan kepala..
"Baiklah Carol.., kita langsung ke pokok inti pembicaraan. Aku sudah mendengarkan lagu yang kamu bawakan. Sebelumnya aku sangat mengapresiasi kemampuanmu melakukan penghayatan untuk lagu barumu itu. Pitch control dan setiap getaran dari nada suaramu betul-betul terasa masuk dan begitu menjiwai pada bait-bait syair lagu tersebut. Aku sudah melakukan diskusi dengan timku.., hasil rapat menyimpulkan jika kami tertarik untuk membuat syair lagu itu ke layar lebar dalam filem." Tommy akhirnya menyampaikan keinginannya.
Caroline kembali melihat tidak percaya pada perkataan Tommy.., tapi laki-laki itu malah tersenyum.
"Bagaimana tanggapanmu Carol?" kembali Tommy menanyakan kesediaan Caroline.
"Untuk jawaban persetujuan atas kesempatan yang kamu tawarkan saat ini, maafkan aku! Aku belum bisa menjawabnya, karena aku hanya penyanyi yang membawakan. Keputusan iya dan tidaknya, ada di tangan penciptanya." Caroline memberikan tanggapan.
"Ehmmm.., begitu ya?" gumam Tommy.
"Jika kamu tidak keberatan.., aku akan mengatur pertemuanmu dengan pencipta lagunya. Silakan tetapkan tanggal, nanti aku akan sampaikan pada penggubahnya."
__ADS_1
*************