
Ivona dan Aldo menikmati sarapan pagi dalam diam. Berkali-kali Aldo mengambilkan lauk dan menempatkan di piring gadis muda itu, tetapi Ivona menolaknya. Dari dekat ruang makan, Bibi Ijah memperhatikan interaksi dua manusia itu dengan senyum-senyum sendiri.
"Terima kasih sudah menolongku.., setelah sarapan pagi Ivona minta ijin untuk pergi dari mansion ini." akhirnya Ivona memecah kesunyian, gadis muda itu berpamitan untuk meninggalkan mansion. Aldo menghentikan aktivitas makannya, laki-laki muda itu meletakkan sendok dan garpu kemudian meraih gelas air mineral, dan langsung meminumnya sampai habis.
"Apakah kamu lupa.., jika kamarmu yang ada di rusun Cempaka sudah terbakar habis..?" dengan sedikit keberatan, Aldo mengingatkan kejadian sedih yang sudah dialami oleh gadis itu. Ivona mengangkat wajahnya, dia memberanikan diri melirik wajah Aldo.
"Kak Al.., kakak tidak perlu mengkhawatirkan Ivona. Untuk tempat tinggal sementara, Ivona bisa menyewa kamar hotel untuk beberapa hari sambil mencari tempat untuk aku sewa ke depannya." tanpa diduga, Ivona menjawab pertanyaan Aldo dengan cepat. Sepertinya kehilangan tempat tinggal bukan merupakan masalah bagi gadis muda itu, dan dahi Aldo sedikit berkerut. Dia sudah meremehkan kemampuan Ivona di dalam kehidupan ini.
Mendengar jawaban gadis muda itu, Aldo tiba-tiba merasa kesal. Matanya menatap tajam ke mata gadis itu, dan Ivona sedikitpun tidak merasa takut. Gadis itu juga membalas tatapan laki-laki muda itu.
"Kenapa untuk sementara kamu tidak tinggal disini terlebih dahulu, sembari kamu mencari tempat tinggal tetap?? Ataukah kamu merasa tidak masalah mau tinggal dimanapun, toh saat ini banyak laki-laki kaya kan, yang akan menawarkan perlindungan dan tempat tinggal untukmu." tiba-tiba Aldo berbicara dengan nada sedikit tinggi. Laki-laki muda itu merasa memiliki banyak pesaing untuk membawa Ivona kembali ke pelukannya. Ada Dokter Marcus, Tuan Muda Richard yang sama-sama memiliki kedekatan emosional dengan gadis muda itu. Sedangkan dirinya bisa membawa Ivona untuk datang ke mansionnya saja, harus menunggu gadis muda itu pingsan terlebih dahulu.
"Terima kasih jika kak Al.. sudah bisa menilai siapa aku. Yakinilah apa yang memang kakak yakini itu benar.., tidak perlu mendengarkan penjelasan dari orang lain. Permisi kak.." tanpa diduga.., Ivona merasa tersinggung dengan kalimat terakhir yang diucapkan laki-laki itu. Gadis itu langsung berdiri, dan meninggalkan Aldo sendiri. Tetapi...,
"Tunggu.., mau kemana kamu?" tangan Aldo dengan cepat menahan pergelangan tangan Ivona. Gadis muda itu menengok ke tangannya, kemudian melihat ke wajah Aldo.
"Kan barusan kakak bilang, jika banyak laki-laki yang akan menawarkan perlindungan dan tempat tinggal untukku. Aku akan menjemput peluang itu kak.., mohon kak Al lepaskan tanganku." Ivona meminta Aldo melepaskan tangannya, tetapi laki-laki muda itu langsung berdiri dan menarik Ivona ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan kata-kataku.., aku hanya tidak ingin kamu pergi meninggalkan aku!" Aldo memberi kecupan di kening gadis muda itu, dia tidak menginginkan gadis itu pergi meninggalkannya.
"Kak Al.., lepaskan aku dulu!! Kita perlu untuk bicara." Ivona berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Aldo. Laki-laki itu melonggarkan pelukannya, kemudian mendudukkan kembali Ivona di kursinya.
"Kak Al.., di pandangan mata masyarakat, tidak pas jika saya berada di mansion ini. Apalagi kakak hanya tinggal sendiri di mansion. Aku masih seorang gadis kak.., aku harus menahan diri untuk menjaga dan melindungi martabat dan harga diriku di mata masyarakat. Apalagi kita berdua belum lama saling kenal.." ucapan yang keluar dari bibir Ivona.., secara tajam mengulik hati Aldo. Laki-laki muda itu teringat, jika saat ini mereka bukan lagi berstatus sebagai suami istri. Tetapi mereka terlempar ke dunia ini dengan identitas yang lain.
"Sabarlah Nana.., jika kamu mau.., saat ini juga aku akan memberimu status baru." sambil memegang kedua tangan gadis itu, Aldo berbicara sambil menatap mata Ivona.
"Banyak urusan yang harus aku selesaikan kak.., tolong ijinkan aku pergi." Ivona menatap Aldo dengan tatapan puppy eyes. Melihat tatapan itu, Aldo tidak tega untuk menolak gadis itu.
"Aku akan mengantarkanmu.., kemanapun kamu akan pergi." ucap Aldo lirih sambil mengecup tangan gadis muda itu. Ivona hanya terdiam.., dia tidak mampu menolak perlakuan lembut yang diberikan Aldo padanya.
Ivona terdiam.., mereka saat ini berada dalam perjalanan menuju apartemen Maestro. Aldo mengorbankan waktunya hari ini untuk mendampingI Ivona untuk menemui tetangganya yang semula tinggal di rusun Cempaka. Gadis muda itu tidak menyangka jika Aldo.., laki-laki yang saat ini bersamanya, mau berkorban dengan meminjamkan unit apartemen yang baru saja mereka kembangkan untuk memberi penampungan pada warga korban kebakaran. Bahkan para warga itu dijanjikan untuk tidak dipungut iuran apapun selama satu tahun.
"Kenapa kak Al mau melakukan ini..?? Apakah kakak tidak merasa rugi?" Ivona bertanya pada Aldo.
"Kakak melakukannya karena kamu Nana.. Kamu selalu bersikap baik pada semua warga rusun itu, aku tidak mau membuatmu bersedih karena memikirkan nasib mereka." ucap Aldo menjawab pertanyaan gadis muda itu. Mendengar jawaban itu, Ivona menjadi terkejut. Tetapi gadis muda itu hanya terdiam dan mengarahkan pandangannya keluar jendela.
__ADS_1
"Drrtt.., drrttt.., drttt..." tiba-tiba ponsel Ivona bergetar. Gadis itu melirik ke arah screen, dan melihat Dokter Marcus melakukan panggilan masuk untuknya.
"Selamat pagi Marc.." Ivona langsung menyapa Marcus setelah menerima panggilan itu. Aldo melirik Ivona dari samping.
"Aku dengar jika rusun Cempaka kebakaran Na.., barusan aku dari lokasi. Ternyata rusun sudah hancur dan tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Kamu ada dimana sekarang..?" Marcus langsung memberondong Ivona dengan pertanyaan. Ivona mengambil nafas dalam, kemudian menghembuskannya keluar.
"Aku baik-baik saja Marcus.., tidak perlu kamu mengkhawatirkan aku. Warga rusun juga aman, untuk sementara mereka direlokasi ke Maestro Apartment. Saat ini aku dalam perjalanan menuju apartemen tersebut.., untuk menyapa dan menguatkan tetanggaku." Ivona memberi tahu tujuannya pada Marcus, dan ekspresi Aldo menjadi tidak enak dilihat. Tetapi laki-laki muda itu mencoba menahan diri, karena tidak mau ada kesalahpahaman dengan Ivona.
"Okay.. Ivona.. Setelah aku selesai jadwal visiting pasien., aku akan menyusulmu ke apartemen. Bye.., take care." Marcus langsung terburu-buru mengakhiri panggilan telpon. Ivona menyimpan kembali ponsel ke dalam tasnya.
"Siapa yang melakukan panggilan telpon?" Aldo menanyakan siapa yang barusan menghubungi Ivona. Gadis muda itu menoleh..
"Dokter Marcus temanku kak.., dia sudah terbiasa menjadi penolongku di setiap ada masalah. Aku pikir laki-laki muda itu masih di Dubai.., karena terakhir kali kita ketemu, dia pamit akan menjadi keynote speaker pada acara International Conference di Dubai. Ternyata dia sudah kembali ke Indonesia." dengan ringan, Ivona menceritakan tentang Marcus pada Aldo.
"Kalian ternyata dekat sekali ya..? Ada hubungan apa sebenarnya di antara kalian berdua?" tanpa sadar, Aldo bertanya dengan sikap menyelidik, dan sepertinya Ivona tidak menyadarinya.
"Hmm.., laki-laki muda itu selalu ada untukku sejak kami masih kecil. Dulu.., kami bersekolah di tempat yang sama, sehingga kami saling tolong menolong dari dulu. Untuk hubungan, aku sudah menganggap Dokter Marcus seperti saudaraku sendiri..., yah.., maklumlah aku dilahirkan sendiri di dunia ini oleh mama. Aku tidak pernah merasakan bagaimana aku memiliki kakak." sambil menghela nafas, Ivona menjawab pertanyaan Aldo. Mendengar jawaban gadis muda itu, rasa lega menghampiri perasaan Aldo. Tanpa sadar senyuman kecil muncul di bibirnya.
__ADS_1
***********