
Tanpa berani membantah, Ivona mengikuti keinginan Alexander. Sejak dari pantai, mobil yang membawa mereka, langsung menuju ke airport Chek Lap Kok. Hanya 50 menit perjalanan, mobil sudah sampai di halaman privat parking. Di tengah perjalanan, Ivona berhasil mencuri untuk membuka ponselnya dan mengucapkan kata pamit pada Marcus. Bagaimanapun, dia datang ke negara ini karena upaya yang dilakukan oleh laki-laki itu, sehingga tidak sopan jika membiarkannya laki-laki itu bingung mencari keberadaannya. Tetapi begitu pesan terkirim, gadis itu langsung menon aktifkan pesawat ponselnya.
"Jam berapa kita akan terbang?" tanya Alexander dengan nada dingin pada pengawal yang bersama dengan mereka. Ivona memiliki banyak pertanyaan pada laki-laki itu, yang bisa dengan mudah bisa memasuki kamarnya Presidential Suites, dan membuat semua pengaturan untuknya. Dia tidak tahu, identitas apa yang disandang oleh laki-laki yang sudah sering memberinya pertolongan, tetapi juga banyak mengambil kesempatan darinya.
"Tuan Muda dan Nona Muda bisa makan terlebih dulu.., untuk ijin penerbangan sudah kita kantongi. Jam berapapun Tuan Muda menghendaki jadwal terbang, pengatur traffict bandara sudah memberikan ijin." salah satu pengawal menjawab pertanyaan Alexander.
"Kami akan makan dulu.., dimana kamu mengatur tempat untuk kami berdua makan?" dengan arogan, Alexander kembali mengajukan pertanyaan.
"Plaza Premium First Hong Kong Tuan Muda.., tempat sudah kami sterilisasi. Tuan Muda dan Nona Muda dapat langsung masuk ke private room. Mari ikuti kami!" pengawal langsung mengarahkan Alexander dan Ivona di pintu masuk khusus ke area bandara, dan kembali Ivona berpikir betapa ngerinya identitas yang disandang laki-laki muda itu. Tetapi Ivona tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Alexander. Dia hanya mengikuti kemana langkah kaki laki-laki muda itu melangkah, karena gadis itu yakin jika Alexander tidak mungkin akan mencelakkainya.
Pengawal akhirnya membawa mereka berdua ke sebuah private room yang ada di lounge tersebut. Berbagai jenis masakan China tersaji di atas meja, dan Alexander langsung menarik kursi.
"Nana.., duduklah dulu! Aku akan mengambilkan makanan untukmu." dengan lembut Alexander memperlakukan Ivona. Kedua tangan Alexander memegang Ivona, dan mendudukkan gadis itu ke kursi yang sudah dia siapkan. Setelah memastikan Ivona duduk dengan nyaman, dengan sigap laki-laki itu mengisi piring dengan nasi dan sayur serta lauk dan meletakkanya di depan Ivona.
"Makanlah dulu.., aku akan mengambilkan daging kepiting untukmu." kembali tangan kanan Alexander mengambil tang kecil, dan membuka kepiting kemudian mengambil dagingnya dengan meletakkannya di piring Ivona.
Dalam diam, Ivona mengambil sendok dan mulai menikmati makanan yang sudah disajikan itu. Menuruti keinginan laki-laki itu saat ini, akan melancarkan keadaan. Setelah beberapa saat, Ivona melihat jika Alexander belum mulai makan sedikitpun. Laki-laki itu hanya sibuk melayaninya dari tadi.
"Stop kak.., Ivona sudah cukup. Kakak sendiri.., makanlah jangan hanya menyiapkan untuk Ivona!" tidak tahan dengan perlakuan dan sikap berubah-ubah Alexander, akhirnya Ivona mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Terima kasih.., ternyata diam-diam kamu memperhatikan aku Nana.. Aku pikir kamu marah padaku." Alexander tersenyum dan malah menggoda Ivona.
Ivona melengos, dan kembali mengerucutkan bibirnya enggan melihat laki-laki itu. Tanpa Ivona sadari, tiba-tiba bibir Alexander sudah menyambar bibirnya..
"Sorry Nana..., bibirmu terlalu menggodaku." tanpa rasa bersalah, laki-laki itu segera melepaskan pagutannya. Laki-laki itu mulai fokus pada makanannya, diiringi tatapan melotot dari Ivona.
**************
Mulut Marcus menganga membaca pesan yang dikirim Ivona padanya. Berkali-kali Marcus mencoba untuk menghubungi ponsel Ivona, tetapi nomor yang sedang dia tuju sedang tidak aktif. Tanpa bicara apapun, laki-laki itu langsung bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan. Leony segera menatap dan memberi instruksi pada Richard melalui tatapannya, dan segera Richard berlari keluar mengikuti Marcus.
"Marcus.., tunggu aku!" Richard berteriak memanggil Marcus yang berjalan cepat menyusuri koridor menuju tempat parkir.
Richard segera berlari dan berhasil menjejeri langkah Marcus, dan menyambar kunci mobil yang dipegang oleh Marcus.
"Siapa gadis yang kamu maksud? Apakah Ivona?" Richard bertanya pada Marcus, dan laki-laki itu tidak menjawab, tetapi hanya menganggukkan kepala.
"Kamu sedang kalut.., aku akan mengantarmu ke airport. Tunggu di depan, aku akan mengambil mobil." merasa prihatin dengan kondisi temannya, Richard mengalah. Laki-laki itu segera mengambil mobil, dan membawanya ke depan Marcus, dan langsung menekan pedal gas menuju airport.
"Dari mana kamu dapat informasi jika Ivona akan balik ke Indonesia?" tanya Richard sambil fokus pada setir kemudinya.
__ADS_1
"Barusan gadis itu mengirim pesan padaku, dia pamit jika akan terbang saat ini juga. Aku heran, darimana gadis itu bisa mendapatkan tiket penerbangan, padahal tidak ada jadwal terbang ke Indonesia hari ini." Marcus menyampaikan pesan yang dia terima dari Ivona.
Richard diam, dia menambah kecepatan mobilnya, dan untungnya jalanan menuju airport lumayan sepi.
"Benar apa yang disampaikan Michael kemarin Richard. Dia mengatakan padaku, jangan terlalu menekan gadis itu.., dia bilang dalam sekejap gadis itu memiliki kemampuan untuk pulang ke negaranya. Apakah Michael ada dibalik kepergian Ivona kali ini?" dengan lesu Marcus bertanya.
"Setelah kita sampai di airport.., kita akan menemukan jawabannya Marcus. Tenanglah dulu.., tapi meskipun apa yang dikatakan Michael benar. Kamu juga tidak bisa bertindak apa-apa, karena kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan gadis itu." Richard menanggapi perkataan Marcus.
Marcus terdiam mendengar perkataan Richard, dalam hatinya dia membenarkan perkataan itu. Karena menunggu Ivona lulus dari High School, laki-laki itu belum mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Sampai saat ini, gadis itu masih free, dia belum memberi ikatan apapun. Dia sedikitpun tidak memiliki kemampuan untuk memaksa gadis itu mengikuti perkataannya.
Tidak sampai 30 menit perjalanan, Richard sudah menghentikan mobil di pintu keberangkatan.
"Turunlah.., aku akan mencari parkir dulu. Melihat status misteri gadis itu, dan tidak ada jadwal penerbangan ke Indonesia hari ini, cari gadis itu di executive lounge. Atau gunakan identitasmu untuk bisa masuk tanpa pemeriksaan." Richard menyampaikan pesan pada rekan kerjanya itu, sebelum dia kembali menjalankan mobilnya.
Marcus langsung masuk ke informasi, dan setelah menunjukkan ID Cardnya, dia memiliki kebebasan untuk memeriksa atau masuk ke ruangan apapun. Setelah mendapatkan bocoran dimana saat ini Ivona berada, Marcus segera menuju ke Plaza Premium First Hong Kong.
"Apakah ada booking tempat atas nama Ivona Carminda untuk penerbangan menuju Indonesia?" tanya Marcus pada receptionis.
"Untuk nama gadis itu, ada di private room Tuan Marcus, tadi dia masuk dengan Tuan Muda Alexander. Anda bisa langsung masuk menuju kesana!" receptionis menjawab pertanyaan Marcus, dan laki-laki itu langsung pergi meninggalkan petugas itu.
__ADS_1
*************