
Alexander mengantarkan Ivona menuju mall terbesar yang ada di kota itu. Karena ada rapat penting yang tidak dapat dia tinggalkan, Alexander tidak bisa menemani istrinya, tetapi hanya meninggalkan dua orang bodyguard untuk memberikan pengawalan pada istrinya. Hari ini Ivona diijinkan Alexander untuk menemani Caroline yang ada janji dengan pemilik butik untuk memesan baju pernikahan dengan kakaknya Tommy.
"Jaga dirimu baik-baik sayang, setelah selesai segera hubungi kakak!" setelah memberikan ciuman di kening Ivona.., Alexander segera menjalankan mobilnya.
"Bye kak Alex..!" Ivona melambaikan tangan, dan melihat sampai mobil yang dikendarai suaminya menghilang dari matanya. Setelah Alexander tidak ada didekatnya, gadis itu menoleh melihat ke arah dua orang bodyguard yang mengawal di belakangnya.
"Tolong pertahankan jarak dariku, aku tidak mau kalian mengikutiku terlalu dekat!" dengan suara datar, Ivona berbicara pada bodyguard.
"Tapi Nona Muda.., kami akan terkena hukuman dari Tuan Muda jika membiarkan Nona Muda jalan sendiri." satu dari mereka, tidak setuju dengan perkataan Ivona.
"Oh begitu ya.., kamu lebih memilih untuk menjaga jarak dariku. Atau kamu memilih untuk aku laporkan pada suamiku, jika kamu tidak menjalankan perintahku dengan baik?" dengan tersenyum mengejek, Ivona bertanya pada bodyguard yang menjawabnya tadi.
"Dan aku terlalu yakin sih, jika kak Alex akan lebih percaya padaku, daripada dengan perkataan kalian berdua." dengan senyum smirk, Ivona kembali mengingatkan bodyguard nya itu.
Kedua bodyguard itu saling berpandangan, dan salah satu bodyguard hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Tapi Nona Muda.., bagaimana kalau.." belum selesai salah satu bodyguard itu berbicara, Ivona langsung memotong perkataannya.
"Denganku tidak ada kata bagaimana kalau. Aku hanya memintamu untuk sedikit menjauh dariku, kalian tetap mengikutiku.. hanya menjaga jarak." ucap Ivona sambil tersenyum. Gadis itu segera berjalan cepat, dan kedua bodyguard itu hanya kembali berpandangan. Akhirnya dengan tersenyum kecut, kedua bodyguard itu hanya mengawasi Ivona dari jauh.
**********
__ADS_1
"Ivona..." terdengar suara laki-laki memanggil nama Ivona. Gadis itu kemudian menoleh ke samping, terlihat Roy Kumala berjalan menghampirinya.
Merasa tidak pernah dekat dan tidak ada hubungan dengan laki-laki muda itu, Ivona hanya melihat tetapi tidak menanggapi Roy Kumala. Tanpa diduga, laki-laki muda itu menarik kursi dan tanpa meminta ijinnya sudah duduk di depannya.
"Bagaimana kabarnya Iv.., jadinya saat ini kamu kuliah dimana?? Setelah pernikahanmu dengan Tuan Muda Alexander.., namamu semakin berkibar Iv.. Semua bidang kamu kuasai, sama sekali aku tidak pernah mengira jika kamu memiliki banyak talent." Roy Kumala malah memujinya.
"Ehmm.., semua hanya terjadi secara kebetulan. Sepertinya kita tidak terlalu dekat Roy.., untuk kita bisa duduk dalam satu meja." dengan nada halus Ivona mengusir Roy Kumala untuk meninggalkan mejanya.
"Hadeh Iv.., Iv.., tidak bisakah kita menjalin pertemanan? Aku juga tahu siapa suamimu.., satu ujung jarinyapun aku tidak akan bisa menyaingi Tuan Muda Alexander. Paling tidak hanya mengenalmu sedikit lebih akrab saja, apakah kamu tidak mengijinkanku?" Roy Kumala berusaha mencari alasan.
Ivona terdiam, gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan dia belum melihat kedatangan Caroline. Akhirnya setelah menghela nafas..,
"Okelah.., lumayan juga aku memiliki teman untuk mengobrol sambil menunggu temanku. By the way.., bagaimana hubunganmu dengan Vaya?" tiba-tiba sambil tersenyum, Ivona menanyakan hubungan antara Roy Kumala dengan Vaya.
"Tidak ada hubungan apapun antara aku dengan Vaya Iv.. Aku tidak menyangka jika gadis itu ternyata hanya penuh dengan tipu muslihat. Berbagai prestasi yang dulu dia banggakan ternyata bukan karena kepintarannya, tetapi karena dukungan sumberdaya yang besar dari Nyonya Iswara, mama kandungmu. Dan kedekatannya denganku, ternyata juga tidak tulus. Aku menyesal Iv.., dulu telah memperlakukanmu dengan tidak adil, aku lebih mengutamakan dan memperhatikan Vaya." ucap Roy Kumala lirih.
"Lupakan saja Roy.., tidak ada manfaat mengingat satu keburukan! Sepertinya sudah cukup deh kita ngobrolnya, itu kak Tommy sudah datang." Ivona tiba-tiba berdiri meninggalkan Roy Kumala. Laki-laki muda itu hanya memandangi Ivona dengan pandangan rendah diri, dan dia tidak memiliki kuasa untuk menahan Ivona.
***********
Caroline tersenyum melihat kedatangan Ivona, gadis itu langsung melepaskan gandengan tangannya dari Tommy.
__ADS_1
"Sudah lama sampai sini Iv.., sorry aku telat. Habisnya nunggu kak Tommy, dia maksa mau ikut kita." Caroline menyapa Ivona.
"Yap ga pa pa.., langsungan saja yok kita ke butik. Kak Tommy ngawal saja.., tidak boleh banyak bicara." Ivona langsung mengultimatum kakaknya. Laki-laki itu hanya nyengir, kemudian mengikuti langkah dua gadis itu di belakangnya.
Setelah beberapa langkah mereka berjalan, tatapan Ivona penuh tanda tanya saat melihat gadis seperti Vaya. Gadis itu berpakaian seragam sales promotion girl sebuah produk biscuit.
"Kak Tomm.., lihat arah jam 9 samping kakak!" Ivona meminta kakaknya untuk melihat ke samping. Tanpa bertanya, Tommy melakukan apa yang diperintahkan oleh adiknya. Dahinya langsung berkerut saat melihat Vaya yang sedang duduk dan tampak malu menawarkan biscuit yang ada di depannya.
"He.., he.., he.., bukannya itu Vaya. Kita samperin yukk!" muncul keisengan Tommy untuk menghampiri Vaya.
"Malas kak.., ntar malah dibilang kita cari masalah lagi sama dia. Syukurlah jika Vaya bisa merubah gaya hidupnya, takutnya dia tidak mengingat siapa dirinya saat ini.., dia tetap bergaya sok sosialita." Ivona tidak menyetujui usul kakaknya. Gadis itu malah mengajak Tommy dan Caroline untuk ambil jalan memutar, agar tidak berpapasan langsung dengan Vaya.
Dari sudut agak kejauhan, Tommy dan Ivona tidak mengetahui jika gerak-gerik mereka diamati oleh kakak Vaya. Ternyata Vaya mau bekerja sebagai SPG, karena dipaksa kakaknya untuk mendapatkan penghasilan. Dengan tatapan sangar.., kakak Vaya mengikuti arah mereka berjalan. Laki-laki dengan penampilan preman itu kemudian melakukan panggilan keluar.
"Ikuti dua orang yang masuk ke butik Anne Amanatie.., buat kericuhan dengan mereka!" dengan perintah menyeramkan, kakak Vaya terlihat berbicara dengan seseorang.
"Aku akan mendatangi mereka.., tunggu aku sebelum melakukan tindakan. Jangan lakukan kesalahan apapun, aku tidak akan mengampunimu!" kakak Vaya segera mematikan panggilan telpon, dengan tersenyum sinis, laki-laki itu kemudian menghampiri Vaya.
"Vay.., kakak tinggal sebentar! Jangan hanya duduk berleha-leha, kamu harus mendatangi pengunjung. Rayu mereka agar mau membeli barang daganganmu." dengan nada agak tinggi, kakak Vaya berpamitan. Laki-laki itu kemudian berjalan ke arah butik Anne Amanatie. Terlihat di depannya, ada tiga orang laki-laki dengan penampilan punk menunggunya.
"Ayo kita segera kesana! Kita akan bisa memeras mereka, dua perempuan itu bukan dari kalangan orang biasa. Dan yang laki-laki adalan boss di industri film dan music negeri kita." kakak Vaya segera memberi instruksi pada tiga orang itu.
__ADS_1
"Siap Boss.." keempat orang itu kemudian berjalan dan memasuki butik tempat Vaya dan kakaknya melihat-lihat koleksi baju.
**************