Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 259 Menuju Guam


__ADS_3

Ronald membawa mobil dengan kecepatan penuh menuju Weibo, dan karena pengawalan dari orang-orang dari Tentara PLA China yang dikirimkan Kolonel Jendral Johnny, mereka bebas dari pemeriksaan pihak kepolisian setempat. Setelah melewati beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka bisa masuk di markas besar tentara militer di lepas pantai. Private jet milik perusahaan Aldo yang bermarkas di Hong Kong sudah lebih dahulu berada disini, dengan pengaturan dari Ronald.


"Kita harus langsung terbang menuju Guam, seperti arahan yang diberikan Uncle Johnny agar kita memiliki suaka disana. Jika kita dari pangkalan militer ini langsung menuju Indonesia, maka bisa berdampak pada hubungan negara kita dengan negara China akan bisa memanas." Richard langsung mengatakan arahan yang diberikan Uncle Johnny pada Ronald.


"Baik Tuan.., ini mobil langsung saya kemudikan menuju private jet dari Tuan Muda Aldo. Pilot dan pramugari sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Guam. Tetapi saya hanya bisa mengantarkan perjalanan sampai ke tempat ini, selanjutnya di Guam nanti akan diambil oleh orang-orang dari Kolonel Jendral Johnny." Ronald sebagai orang asli China yang tadi juga mendapatkan arahan langsung dari Johnny, menanggapi perkataan Richard.


Semua yang ada di dalam mobil terdiam, Ivona yang sudah terbangun dari tidurnya tidak mampu berkata apa-apa. Dia sendiri merasa bingung dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Gadis itu betul-betul tidak menyangka, jika kepergiannya ke laboratorium untuk bertemu mamanya, akan berakhir menjadi suatu kejadian heroik seperti ini. Melihat Ivona yang terdiam, dan bingung akan melakukan apa.., tiba-tiba..


"Kenakan head phone ini, musik yang terdengar bisa untuk sedikit merilekskan pikiranmu." dengan suara lembut, Aldo memasangkan hear phone ke telinga Ivona, dan sebuah musik lembut mengalun di telinga gadis itu.


"Hal ini tidak akan berlangsung lama, sebentar lagi kita akan langsung menuju Guam," lanjut Aldo lagi. Ivona menganggukkan kepala, dan gadis itu kembali memejamkan mata menikmati alunan musik yang ada. Marcus yang duduk di sebelah Ivona, hanya melihat bagaimana perhatian yang diberikan Aldo pada perempuan muda itu dengan terkesiap.


"****..., beberapa tentara menghadang kita di gerbang pintu masuk." seru Ronald ketika melihat dua orang menghalangi jalan mereka untuk langsung menerobos menuju pangkalan militer.


"Tuan Richard.., bisakah anda keluar menunjukkan surat rekomendasi dari Kolonel Jendral Johny?" seru Ronald memerintah Richard.


"Okay.., tepikan mobilnya di dekat dua orang itu!" Richard langsung menyiapkan sebuah kertas yang tadi sudah disiapkan oleh Uncle Johny. Ronald segera menghentikan mobil, dan Richard langsung melompat keluar. Beberapa tentara menggunakan detector memeriksa penumpang yang duduk di dalam mobil, dan karena tidak menemukan sesuatu yang berbahaya, akhirnya mereka kembali keluar.

__ADS_1


"Sudah aman.., ayo kita akan segera masuk. Nanti akan ada dua pesawat tempur yang akan memberikan pengawalan kita menuju Guam. Hal itu untuk mengelabui pihak-pihak yang dikhawatirkan akan dapat menghalangi penerbangan kita." Richard segera kembali masuk ke dalam mobil, kemudian Ronald menekan pedal gas, dan mobil kembali melaju menuju lapangan udara di pinggiran lepas pantai.


Sesampainya di dekat pesawat, Ronald segera menghentikan mobilnya. Semua penumpang bergegas turun dari dalam mobil, dan Aldo tanpa bicara langsung mengangkat tubuh Ivona dengan bridal style dan membawanya memasuki pesawat yang sudah siap di depan mereka.


"Sorry Dokter Marcus atas ketidak nyamanannya," Richard menepuk punggung Marcus, kemudian merangkul dan mengajaknya segera memasuki private jet.


********


Di dalam pesawat


Pramugari menyiapkan makanan untuk mereka yang sudah berada di dalam private jet. Empat orang dalam diam, duduk dalam pikiran mereka masing-masing. Ivona yang biasanya selalu ceria dan segera menguasai segala keadaan, saat ini gadis itu diam seribu bahasa. Kejadian dua hari terakhir dalam hidupnya, membuatnya mengalami sebuah goncangan. Gadis yang sejak dulu hanya mengetahui dia sebagai seorang putri dari Nyonya Carminda, dalam dua hari terakhir ternyata dia sudah menjadi seorang adik dari Richard, dan seorang cucu dari penguasa militer di negara China. Hanya semalam merasakan pelukan dari mamanya, hari ini dia mengalami kejadian yang sangat memukul perasaannya.


"Terima kasih kak Richard.." ucap Ivona lirih, sambil mengambil cangkir di atas cawan kecil dari tangan kakaknya.


Laki-laki itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dan perlahan gadis itu mulai menyesap kopi menggunakan sendok kecil. Setelah berhasil mengembalikan kesadarannya, Ivona meletakkan cawan di atas meja kecil di sampingnya.


"Aaa... aa.." tiba-tiba Aldo menyodorkan garpu berisi potongan sandwich di depan mulutnya. Seperti teringat dengan pelayanan yang dilakukan Alexander dalam kehidupannya terdahulu, gadis itu dengan cepat membuka mulutnya. Saat Ivona mulai mengunyah, gadis itu menghentikan kunyahannya tersebut, ketika merasakan potongan tuna.

__ADS_1


"Laki-laki ini seperti kak Alex.., dia seperti mengetahui apa makanan kesukaanku." Ivona berpikir sendiri. Sudut matanya menatap Aldo, dan senyuman lembut muncul di bibir laki-laki itu.


"Bagaimana perasaanmu Nana.., apakah kamu sudah merasa jauh lebih tenang?" tiba-tiba Aldo bertanya pada Ivona dengan suara pelan. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Nana..., setelah makan. Kembalilah dulu untuk istirahat. Masih membutuhkan waktu sampai tujuh jam perjalanan lagi, agar kita bisa sampai di Guam. Jika memungkinkan, kita akan menginap semalam di kota itu, yah... healing dulu sehari, baru kita kembali menuju negara kita Indonesia. Sepertinya sangat melelahkan perjalanan kita hari ini." Richard tiba-tiba mengajak bicar Ivona.


Gadis itu menoleh ke arah kakaknya sebentar.


"Terserah apa kata kakak saja. Ivona ngikut saja.." kata Ivona, tangannya menghentikan suapan Aldo yang terus diarahkan padanya.


"Marcus.., sorry banget ya!! Karena menuruti permintaanku, kamu selalu berada dalam bahaya. Padahal kamu harus mengeluarkan banyak sumber daya dan koneksi untuk dapat memasukkanku ke laboratorium itu. Akhirnya harus menjadi seperti ini." teringat Marcus, Ivona mengajak bicara sahabat yang selalu setia membantunya itu.


"Halah..., lupakan Na..!! Kita sudah terbiasa melakukan itu sejak kita masih kecil." perkataan Marcus seperti menotok perasaan Aldo, laki-laki itu melirik ke arah wajah Dokter Marcus. Tetapi melihat, laki-laki itu seperti tidak memiliki maksud lain dengan berbicara seperti itu, akhirnya Aldo kembali bersikap dewasa.


"Baiklah.., setelah semua menyelesaikan makan malam, kita harus istirahat dulu semuanya. Perjalanan masih panjang." ucap Richard, dan laki-laki itu kemudian menyetel sandaran kaki dan tubuh pada kursinya. Tidak lama kemudian, Richard sudah terbaring lurus di kursinya. Aldo juga tidak ketinggalan, laki-laki itu juga menyetel kursi untuk duduk gadis itu, dan kemudian menutup tubuh Ivona menggunakan selimut di atasnya.


"Tidurlah.. sweet dream." bisik Aldo lembut. Ivona hanya mengangguk menanggapinya.

__ADS_1


***********


__ADS_2