
Setelah menjalani wawancara singkat untuk formalitas di Kantor Imigrasi, Ivona segera keluar lewat pintu belakang. Petugas suruhan Marcus menyampaikan jika passport dan Visa untuk tinggal di negara China untuk sementara waktu, akan dikirim ke rumah besok siang. Merasa kurang privacy jika dikirim ke rumah Keluarga Iswara, Ivona menuliskan alamat villa Alexander sebagai alamat tujuan. Dia bisa minta bantuan pada Bi Mina untuk meletakkan di kamar, jika dia belum pulang dari sekolah.
"Kode booking tiket keberangkatan sudah aku kirim via email." membuka chat di whattsapps, Ivona membaca pesan yang dikirim Marcus.
"Ok, makasih." jawabnya singkat.
Dengan menundukkan muka, Ivona bergegas keluar untuk mencari mobil online untuk mengantarnya pergi mencari tempat tongkrongan. Dia tersenyum, saat melihat jarum jam karena waktu baru menunjukkan pukul 13.00.
"Masih ada waktu sekitar 3 atau 4 jam untuk ngopi." gumamnya.
"Dug.., aduh.." karena jalan sambil menundukkan muka, kening Ivona membentur punggung seseorang yang berdiri di depannya.
"Non.., ada urusan apa Nona Ivona ke kantor imigrasi?" saat mengangkat wajahnya, Ivona terkejut karena orang yang punggungnya dia tabrak ternyata Rico asisten Alexander. Ivona menoleh ke kanan kiri, karena biasanya di sekitar Rico selalu ada Alexander, tapi akhirnya dia tersenyum sendiri karena tidak menemukan orangnya.
"Non..?" Rico kembali memanggilnya.
"He.., sorry. Lagi ga fokus." jawab Ivona singkat.
"Iya.., sekarang ada apa Non kesini? Mau urus passport, memang Non Ivona mau ke luar negeri?" tanya Rico banyak tanya.
"Ketemu teman saja, sudah ya.., aku harus segera balik." Ivona langsung berjalan meninggalkan Rico yang masih berdiri disitu, dan untungnya mobil online yang dia pesan sudah menunggunya di depan.
Rico dengan dahi berkerut memandangi punggung gadis yang ditemukan Alexander dengan penuh tanda tanya.
*************
"Kenapa kamu tidak menahannya, atau paling tidak kamu ajak Ivona masuk mobil, dan antarkan dia ke perusahaan." Alexander marah-marah saat diberi informasi oleh Rico.
"Maaf Tuan.., semua terjadi secara spontan! Apalagi saat tadi, saya masih menunggu Jack yang sedang dilakukan screening oleh petugas imigrasi. Jadi, saya hanya melihat Nona Ivona pergi menggunakan mobil ojek online." Rico mencari alasan, maksud hati ingin memberi informasi pada Alexander, tetapi malah omelan Boss yang dia terima.
__ADS_1
"Cara kuno..., untuk urus passport kenapa tidak hubungi Tegar. Tinggal foto, langsung jadi." Alexander masih merasa kesal.
"Ya Tuan.., saya hanya ikut kemauan Tuan Jack saja. Sudah ya Tuan, itu Tuan Jack sudah keluar dari kantor imigrasi." Rico ijin untuk mengakhiri panggilan telponnya.
"Cek dulu ke rumah, Nona Ivona sudah sampai rumah belum. Jika belum, segera kirim orang untuk menyelidiki dimana gadis itu sekarang! Jika sudah ditemukan dimana lokasinya, segera share loc." Alexander langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.
Rico terduduk, dia mengambil nafas lega karena komunikasi dengan Tuannya sudah berakhir. Menjadi bawahan dan asisten dari Alexander memang harus menyiapkan hati berlipat ganda. Emosi apa yang dirasakan bossnya, akan langsung berdampak pada dirinya. Tetapi jika hati bossnya itu sedang senang atau terpuaskan, pundi-pundi uang juga akan mengalir ke rekeningnya.
"Kenapa Rico, sepertinya kamu baru bad mood?" tanya Jack yang sudah berdiri di sampingnya.
"Iya Tuan, biasalah kena omelan Tuan Boss." jawab Rico sambil cengar-cengir.
"Ha.., ha.., ha.., masih hobby marah-marah itu anak rupanya. Sabar Rico.., tapi sebenarnya Alexander itu orang yang baik. Hanya mungkin karena asuhan dimanjakan sejak dia masih kecil, terbawa sampai dengan sekarang. Apa yang dia inginkan harus terpenuhi." ucap Jack sambil menepuk punggung Rico.
Rico tersenyum kecut, kemudian dia berdiri dan segera mengantar Jack.
*************
"'Ada yang bisa saya bantu kak?" petugas jaga menanyakan keperluan Ivona.
"Carikan tempat yang privacy, tapi bisa fokus lihat live music." kata Ivona sambil menyerahkan kartu debit pada petugas jaga.
"Baik.., untuk minuman minta disediakan apa kak? Ringan, menengah, atau keras?" tanyanya lagi.
"Tequilla Rose, sama corn flakes saja." sahut Ivona singkat. Menyadari posisinya saat ini masuk pada gadis usia teen setingkat SMA, Ivona berpikir ulang untuk pesan minuman keras.
Petugas jaga melambaikan tangannya memanggil waiters, dan tidak lama seorang waiters perempuan menghampiri mereka.
"Antar kakak ini ke corner di kanan belakang happy room!" petugas receptionis langsung memberi perintah waiters.
__ADS_1
"Ikuti saya kakak!" Ivona langsung berjalan mengikuti waiters, dan setelah masuk ke dalam terdengar alunan musik lembut yang dibawakan secara live oleh sebuah grup lokal.
Setelah duduk, Ivona langsung masuk ke Ipad untuk mendownload booking code yang dikirim Marcus. Saat dia akan login ke akun sistem komputer nasional, sebuah running text mengingatkannya.
"Careful .., you've been marked!" membaca peringatan itu, Ivona menaikkan dua sudut bibirnya ke atas.
Dengan cepat, jari-jarinya bermain diatas keyboard qwerty diatas Ipad-nya. Sesekali sudut matanya menyipit..
"Permisi.., mau mengantarkan pesanan." Ivona mengangkat wajahnya, dia melihat waiters mengantarkan pesanannya. Tetapi yang membuatnya kaget, dia melihat William dan dan 2 temannya berdiri di belakang waiters tersebut.
"Selamat menikmati, jika butuh bantuan, silakan panggil saya kembali." dengan ramah waiters pamit.
"Ya, terima kasih." untuk menghargainya, Ivona menjawab waiters.
William dan kedua temannya duduk di hadapan Ivona.
"Boleh ya, sekali-sekali kami menemanimu disini." kata William sambil tersenyum sinis.
Ivona menyesap tequilla rose, kemudian meletakkan kembali ke atas meja. Dia mengambil corn flakes dan memasukkan ke mulutnya, kemudian dia memandang William yang tidak berhenti menatapnya.
"Sebenarnya tadi aku sudah pesan sama receptionis untuk mencarikan tempat privat buatku, tapi yach.., karena kamu sudah berada disini, untuk apa aku melarangmu." Ivona menjawab tidak kalah sinisnya.
William yang sudah membawa minuman di tangannya, meneguk beberapa teguk minuman di depan Ivona. Teman-temannya segera memposisikan duduknya menghadap acara live music. Sedangkan seperti di kelas, Ivona kembali mengabaikan William, dia fokuskan penglihatan pada layar Ipad di depannya. Tidak lama, Ivona sudah berhasil masuk ke website pusat komputer nasional dengan menggunakan identitas lain. Tiba-tiba muncul keisengan untuk mengerjai orang-orang di balik layar pada institusi tersebut.
"You sell I buy..!" satu kalimat yang dikirimkan ke website institusi tersebut, memiliki makna mendalam. Setelah memastikan setting kalimat tersebut berada pada running text, dia melakukan log out.
"Ivona.., apakah kita tidak bisa menjadi seorang teman yang baik?" tiba-tiba William bertanya pada Ivona.
Mendengar pertanyaannya, Ivona tersenyum. Gadis itu mengangkat wajahnya dan melihat pada laki-laki yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Prinsipku Will... You sell I buy..! Aku akan memperlakukan orang sama, dengan bagaimana orang tersebut memperlakukanku. Maknai itu!" mata Ivona berkilat saat mengucapkan kalimat tersebut.
*****************