Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 237 Masuk Laboratorium


__ADS_3

Sambil menunggu panggilan, Ivona menggulir gawai yang dibawanya. Gadis itu menyiapkan softfile portfolio karyanya yang dikirimkan Marcus ke laboratorium ini. Tidak sembarang orang bisa masuk ke laboratorium ini, mengingat tempat ini sebagai lembaga penelitian dan penyelidikan skala internasional. Hanya yang memiliki karya khusus dan belum diujicobakan yang bisa memiliki hak privilege untuk dapat dipekerjakan di laboratorium ini.


"Miss Ivona Carminda..., Anda sudah dipersilakan untuk bertemu dengan Tuan Marshall di dalam." petugas keamanan yang tadi mengantarkannya, tiba-tiba sudah mempersilakan masuk.


"Ya., tunggu sebentar!" gadis itu membereskan dan menyimpan kembali berkas-berkasnya, kemudian mengikutinya langkah laki-laki itu.


Setelah beberapa saat berjalan, dahi Ivona berkerut saat melihat pemandangan aneh di ruangan yang dia lewati. Seperti bisa memahami apa yang dilihat gadis itu, petugas keamanan menjelaskan pada Ivona.


"Miss Ivona.., saya harap tidak kaget dengan kejadian yang ada di ruangan itu. Hal itu sudah biasa terjadi disini, untuk dapat memastikan bahwa formula yang kita produksi memang tepat untuk mengobati manusia. Kita harus memperkerjakan volunteer untuk menjadi orang untuk uji coba." ucap petugas keamanan itu.


"Okay no problem. Hanya kaget saja, tiba-tiba melihat pemandangan orang dengan mulut berbusa dan kejang-kejang seperti itu." Ivona melanjutkan langkahnya tetap di belakang orang itu.


Di depan pintu sebuah ruangan yang terlihat besar dan luas, terlihat dari tingginya tembok serta arsitektur bangunan, petugas keamanan itu berhenti di depan pintu.


"Tok..., tok..., tok..." petugas keamanan itu mengetuk pintu tiga kali. Kemudian tanpa menunggu dipersilakan masuk, laki-laki itu mendorong pintu dan memberi kode pada Ivona untuk mengikutinya.


Tanpa bersuara, Ivona mengikuti langkah kaki laki-laki itu masuk ke dalam ruangan. Sebuah ruangan yang betul-betul ergonomis dengan penataan yang menyegarkan terlihat di pandangan mata Ivona.


"Miss.., silakan duduk! Saya akan meninggalkan Miss disini. Sebentar lagi Tuan Marshall akan menemui Miss Ivona." petugas keamanan berpandangan untuk meninggalkan Ivona.


"Terima kasih atas bantuannya Sir." Ivona tersenyum, kemudian dia duduk di tempat yang ditunjukkan oleh petugas keamanan tadi.


Beberapa saat dihabiskan Ivona untuk menunggu kedatangan Kepala Laboratorium untuk menemuinya. Gadis itu mengambil majalah yang ada di depannya, kemudian membuka-bukanya.

__ADS_1


"Mama.." bisik Ivona lirih sambil menutup mulutnya. Tanpa berkedip, Ivona melihat gambar mamanya yang berada di majalah yang dia baca itu. Terlihat mamanya yang semakin kurus dari terakhir kali mereka bertemu, tetapi menambah kecantikan dan keibuan perempuan paruh baya itu. Perlahan tangan Ivona mengusap wajah mamanya tanpa berkata-kata.


"Good job..., plok.. plok.. plok.." tiba-tiba terdengar suara berat seorang laki-laki di depan Ivona. Gadis itu menengadahkan wajahnya ke atas, dan terlihat seorang laki-laki sedang menatapnya padanya.


"Mohon dimaafkan Tuan Marshall..., saya tidak menyadari kedatangan Tuan." Ivona terlihat gugup, dia berdiri dan membungkuk pada laki-laki itu. Melihat name tag yang tertera di dada, Ivona memanggilnya dengan nama yang tertera tersebut.


"Aku tidak akan pernah meragukan rekomendasi Dokter Marcus padaku..., hanya orang terpilih yang akan dia rekomendasikan untuk masuk ke laboratorium ini." sambil tersenyum,. Marshall mengulurkan tangannya untuk mengajak Ivona berjabat tangan.


"Tuan Marshall terlalu meninggikan saya.., kenalkan saya Ivona." gadis itu menerima uluran tangan dari laki-laki itu, kemudian Tuan Marshall mengajaknya duduk kembali.


"Tuan Marshall... ini berkas hardfile portfolio saya. Kiranya Tuan Marshall akan melihat dan memberikan evaluasi terhadap saya." dengan nada merendah, Ivona menyerahkan berkas pada laki-laki itu.


"Aku sudah percaya pada anak laki-laki itu, ceritakan bagaimana kabar Marcus sekarang!" Marshall menyingkirkan berkas ke samping.


*******


Hampir satu jam dibutuhkan Ivona dan Marshall untuk saling berkenalan. Pukul sepuluh pagi, barulah Ivona diserahkan ke sebuah unit yang sedang melakukan penelitian tentang peralatan medis. Marshall mengantarkan sendiri Ivona ke unit tersebut.


"Aku harap.. kalian semua bisa bekerja sama dengan gadis ini. Banyaklah belajar darinya, banyak ilmu dan keahlian yang dia miliki." Marshall berpesan pada empat orang yang bertugas di situ.


"Siap Tuan Marshall.." sahut laki-laki muda yang bernama Frans. Keempat orang lainnya tersenyum dan membungkukkan badan menyambut kedatangan Ivona.


"Baiklah Miss Ivona..., aku harus segera kembali ke ruanganku. Kenalilah dulu ruangan dan timmu disini. Besok kamu bisa melanjutkan apa yang harus kamu kerjakan." setelah mengenalkan Ivona di unit tempat gadis itu ditempatkan, Marshall segera balik ke ruang kerjanya. Semua anggota tim ikut mengantarkan Marshall sampai keluar ruangan.

__ADS_1


"Hey... kenalkan aku Erick.. Kamu pasti memiliki identitas yang luar biasa, sampai Tuan Marshall mengantar kamu sendiri ke unit ini." Erick langsung menarik tangan Ivona dan mengajaknya duduk di kursi.


Tapi baru saja Ivona akan duduk, seorang perempuan muda memegang pundak Ivona.


"Namaku Stephanie, call me Annie! Hati-hati dengan para lajang yang berat jodoh di ruangan ini ya!" dengan bergurau, Annie pura-pura menasehati Ivona. Sebagai orang Asia.., Ivona memiliki tubuh paling kecil di antara mereka.


"Okay.., aku senang bergabung dengan tim yang menyenangkan seperti kalian semua. Kemarin aku berpikir, jika aku akan masuk pada lingkungan yang terisolasi, bahkan kita tidak mampu untuk menjalani kebutuhan sosial kita. Ternyata aku keliru dan terlalu under estimated tentang pekerjaan ini." Ivona terlihat senang mendapatkan tim yang sangat humble.


"Baik.. call me Andrew Miss Ivona.., dan ini Jack temanku." dua laki-laki dalam tim itu ikut mengenalkan diri mereka.


"Okay kita back to discuss room.., Miss Ivona langsung bergabung untuk sekalian bersosialisasi dengan unit kita." akhirnya setelah waktu mereka tersita untuk saling mengenalkan diri, Frans kembali mengajak semua anggota tim untuk masuk berdiskusi.


"Siap.." serentak kelima orang itu memasuki discuss room, dan Ivona mengikuti mereka dari belakang.


Frans langsung menyalakan projector, dan sebuah draft rancangan peralatan medis terpampang di screen. Ivona mengerutkan dahinya melihat konsep yang seperti acak-acakan. Tetapi dia menahan diri untuk tidak memberi sorotan pada materi tersebut. Dia memutuskan untuk mencoba berdamai dengan keadaan, dan jika ada kesempatan, baru akan menyampaikan pendapatnya.


"Bagaimana pendapat kalian dengan konsep ini? Jika okay, akan segera aku kirim ke unit produksi untuk membuat prothotype produknya." Frans menawarkan timnya untuk memberikan masukan.


"Kenapa harus prothotype.., produk kita terkait dengan nyawa manusia. Apa tidak sebaiknya langsung produk jadi, kemudian kita uji cobakan pada manusia secara langsung." Annie memberi tanggapan atas konsep yang dipaparkan Frans.


Diskusi mengalir dengan apik dan saling menerima. Tidak ada yang mencoba memaksakan pendapat agar idenya yang akan digunakan. Ivona lebih banyak menjadi pendengar, sambil mempelajari karakter teman-temannya.


********

__ADS_1


__ADS_2