
Selepas Maghrib, Ivona sudah mengenakan baju yang dikirim Marcus untuknya. Ivona tersenyum, dia mengagumi Marcus yang sangat memahami seleranya. Meskipun mengenakan gaun, tubuh Ivona terbungkus dengan rapat. Lengan bajunya dibuat pendek, dan bagian bawahnya jatuh diatas lutut. Model simpel yang dipilihkan Marcus untuknya, dilengkapi sebuah bros besar di atas dadanya menambah kesan elegan pada Ivona. Tidak hanya gaun yang dikirim Marcus untuknya, tetapi tas tangan kecil, dan high heels ikut menyertainya. Gadis itu menambahkan riasan tipis di wajahnya yang tampak segar dan ranum, dan membuat gelungan kecil di rambutnya. Bagaimanapun, Ivona juga menghargai status Marcus, sebagai seorang peneliti senior dan dokter spesialis. Dengan menemaninya, maka dia juga harus menyesuaikan penampilannya.
"Tet.. tet.., tet.." terdengar bel pintu ruangan Ivona berbunyi.
"Masuk, tidak dikunci." ucap Ivona sambil berdiri untuk mengetahui siapa yang datang. Pintu didorong dari luar, dan masuklah Marcus. Melihat penampilan laki-laki itu, membuat Ivona terkesima. Bebeda dengan penampilannya sehari-hari, kali ini Marcus berpenampilan formal. Sebuah kemeja dengan dasi kupu, dan jas tampak match dipadu dengan sepatu kulit.
"Kenapa Ivona.., baru sadar ya jika aku ternyata ganteng?" ucap Marcus pelan sambil menyentil pucuk hidung Ivona. Gadis itu hanya nyengir..., dan gantian Marcus memandang penampilan Ivona tanpa berkedip.
"Sekarang gantian kamu ya Marc... Baru sadar jika punya teman yang sangat cantik." Ivona ganti menggoda Marcus.
"He.., he.., he.., benar juga Iv. Penampilanmu malam ini membuatku terpukau. Jangan tinggalkan aku di pesta nanti, bisa-bisa kamu diserobot laki-laki lain." ucap Marcus sambil mengangkat lengan kirinya sedikit keatas dan meletakkan telapak tangan di sisi pinggangnya. Ivona tersenyum kemudian mengaitkan tangan kanannya ke lengan Marcus. Kedua pasangan itu segera keluar dari ruangan Ivona.
"Lepasin tanganku dong, kita bisa tersungkur di tangga jika jalan seperti ini!" di depan tangga untuk turun ke bawah, Ivona berhenti. Marcus tidak menjawab.., tangannya langsung dilepaskan, dan tanpa menunggu ijin dari Ivona, laki-laki itu mengangkat Ivona dengan bridal style. Karena terlalu mendadak, dan khawatir akan terjatuh, Ivona mengalungkan tangan ke leher Marcus.
Tanpa banyak bicara, Marcus tidak melepaskan tubuh Ivona meskipun mereka sudah sampai di lantai bawah. Tidak menghiraukan tatapan penghuni rusun lainnya, Marcus langsung membawa Ivona ke Maybach yang terparkir di depan pintu masuk.
"Gila kamu Marcus..., kamu menghancurkan harga diriku sebagai gadis alim di rusun ini." Ivona memukul punggung Marcus saat laki-laki itu sudah menurunkannya di depan pintu mobil.
"Ha.., ha.., ha... tenang Iv.. Aku akan menikahimu jika tidak ada laki-laki yang mau padamu." goda Marcus di depan wajah Ivona. Laki-laki itu kemudian membuka pintu mobil untuk Ivona.
__ADS_1
"Dasar gila kamu Marcus.." Ivona langsung masuk dan duduk di atas kursi. Gadis itu terkejut, karena tiba-tiba Marcus menjatuhkan tubuh di depannya. Tetapi gadis itu segera mengambil nafas lega, ternyata Marcus memasangkan seat belt di pinggangnya. Tidak berapa lama, Marcus segera menutup pintu mobil, kemudian segera berjalan dan masuk ke kursi mobil di samping Ivona.
*************
Di lobby sebuah hotel bintang lima, Marcus menghentikan mobilnya. Petugas lobby hotel membukakan pintu mobil untuk Ivona dan Marcus. Setelah menyerahkan kunci Maybach pada petugas valley.., Marcus meraih tangan Ivona dan menggandeng tangan gadis itu serta membawanya memasuki ballroom. Pemandangan di ballroom yang tampak mewah dengan nuansa putih tulang terlihat elegan dan mengagumkan.
"Kita isi tanda kedatangan dulu." bisik Marcus di telinga Ivona. Kedua orang itu kemudian menuju pada petugas yang berjaga di guest book. Setelah menyerahkan tanda kehadiran pada petugas, seorang petugas berpakaian cantik langsung mendatangi mereka.
"Saya antar ke tempat duduk Dokter Marcus.., seharusnya Dokter bisa langsung masuk ke dalam, tidak perlu ikut antri disini." gadis cantik itu langsung memberi sapaan pada Marcus, kemudian berjalan di depannya untuk menunjukkan tempat duduk yang sudah disiapkan untuknya. di round table yang ada di depan sendiri, gadis tadi mempersilakan Marcus dan Ivona duduk.
"Silakan duduk Dokter Marcus.., dan Nona...!" gadis tadi mempersilakan Marcus dan Ivona duduk. Marcus hanya menganggukkan kepala, kemudian mengajak Ivona duduk. Begitu mereka duduk, waiters mendatangi mereka dan menyajikan minuman dan snack pembuka.
"Hot tea dua.." Marcus menjawab cepat, dan waiters langsung menuangkan teh panas di cangkir yang sudah disiapkan di atas meja.
"Buat dirimu nyaman disini Ivona.." bisik Marcus ke telinga Ivona. Gadis itu hanya tersenyum, karena sebenarnya jika Ivona boleh jujur, gadis itu merasa tidak nyaman berada di lingkungan seperti ini. Tetapi untuk menemani Marcus yang selalu berbuat baik untuknya, Ivona tidak keberatan.
"Okay.., don,t worry about me." ucap Ivona sambil mengambil cangkir, dan menyesap sedikit teh langsung dari cangkirnya.
"Hi.. Doktor Marcus..., bagaimana kabarmu?" tiba-tiba seorang gadis muda datang menyapa Marcus. Melihat kedatangan gadis muda itu, Marcus langsung berdiri dan menyambit kedatangan gadis itu.
__ADS_1
"Sylvia.. is that you..?" Marcus langsung memeluk tubuh gadis yang dipanggil dengan nama Sylvia itu di depan Ivona. Tetapi Ivona tidak mempermasalahkannya, karena dia dan Marcus pure berteman. Setelah beberapa saat..,
"Siapa yang kamu ajak kesini Marcus.., jangan bilang padaku jika gadis ini calon istrimu?" Sylvia menunjuk Ivona, dan Marcus hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Khawatir akan menimbulkan kesalah pahaman, Ivona menoleh dan melihat pada Sylvia.
"Jangan khawatir denganku Nona..., aku hanya teman Marcus." ucap Ivona sambil tersenyum, kemudian gadis itu mengambil kue dengan pucuk garpu dan menggigitnya di depan mereka.
"Okay.., terima kasih atas penjelasanmu Nona. Marcus..., temani aku dulu ya!! Kamu belum menyapa mama dan papa.." tidak menunggu jawaban dari Marcus, Sylvia menarik tangan Marcus dan membawanya pergi. Saat Marcus meminta tolong dengan menggunakan isyarat mata, Ivona hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.
Beberapa saat berlalu, dan acara segera dimulai dengan dipandu oleh host. Tetapi tidak ada sedikitpun ketertarikan bagi Ivona untuk melihatnya. Bahkan saat artis ibukota yang khusus didatangkan untuk acara itu, Ivona tidak tertarik untuk melihat. Merasa bosan, Ivona melangkahkan kaki menuju rest room.
"Dokter..., dokter Ivona.., tunggu!" Ivona kaget, saat merasa ada yang memanggilnya dengan sebutan Dokter. Gadis itu berhenti, dia menolehkan wajahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Terlihat Richard dengan senyum lebar berjalan menghampirinya.
"Ternyata tidak selalu membosankan, kali ini aku mau datang di gala dinner. Berhari-hari aku mencarimu Dokter.., ternyata malah bisa menemukanmu disini." Richard mengulurkan tangan mengajak Ivona berjabat tangan. Untuk menghormati, Ivona menerima uluran tangan tersebut.
"Aku sangat berterima kasih padamu Dokter.., karena tindakan operasi yang kamu lakukan untuk papaku, berhasil dengan baik. Katakan.., apresiasi apa yang ingin kamu dapatkan dariku, aku akan memberikannya padamu." Richard melanjutkan kalimatnya, senyuman cerah muncul di bibir laki-laki yang jarang tersenyum itu.
"Maaf Tuan Richard.., jangan panggil aku dengan sebutan Dokter, langsung namaku saja. Apresiasi yang kuinginkan saat ini, biarkan aku pergi ke rest room Tuan.." ucap Ivona dengan tatapan polos.
"Ha.., ha.., ha.., okay.. Silakan ke rest room, aku harap kita bisa berbincang banyak Ivona.." khawatir dengan urusan dasar gadis itu, Richard mengijinkan Ivona menuju rest room.
__ADS_1
************