Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 152 Nightmare


__ADS_3

Ivona merasa sedang berlari terengah-engah melintas padang yang sangat tandus, tidak ada tanaman dan tempat yang teduh sama sekali. Rasa haus, lapat tidak dirasakannya sama sekali. Di belakang Ivona beberapa orang tampak tengah mengejarnya. Gadis itu terus berlari, sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling padang. Tetapi dia tidak dapat menemukan tempat persembunyian untuknya.


"Ha.., ha.., ha.., mau lari kemana kamu Ivona...?? Ikutlah kembali bersamaku..., tempatmu bukan disini! Tempat ini sudah ditakdirkan menjadi milik Vaya.." terdengar suara laki-laki paruh baya mengancam Ivona.


"Jangan.., jangan tangkap aku! Biarkan aku bebas.., aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian." Ivona berteriak, dia berusaha untuk membebaskan diri dari orang-orang itu.


"Bebas...??? Hanya kepergianmu yang bisa membebaskan diri untuk tidak menimbulkan gangguan untuk putriku. Ha.., ha.., ha..., takdirmu adalah di rumah sakit jiwa." kembali orang yang ikut mengejarnya menimpali di belakang.


"Bruk..., aduh..., sakit.." Ivona berteriak kesakitan, seseorang mencengkeram lehernya kemudian membalikkan badannya.


Ivona merasa ngeri ketakutan, tiba-tiba orang yang mencengkeramnya, wajahnya tiba-tiba berubah. Laki-laki itu menyeringai dan wajahnya menjadi Direktur Rumah Sakit Jiwa. Orang-orang di belakang Direktur itu mentertawakan Ivona sambil kedua tangan mereka diarahkan untuk mencakar Ivona.


"Pergi.., pergi.., pergilah kamu dari hadapanku! Jangan sakiti aku!" kembali Ivona berteriak sekuat tenaga, kedua kakinya menjejak ke atas. Tetapi Direktur Rumah Sakit Jiwa malah semakin nekat, tangan Direktur itu akan mencekik leher Ivona.


"Jangaannnnn.." teriak Ivona.


"Nana.., Nana.., bangun. Kamu kenapa?? Apakah kamu mimpi buruk..?" terdengar suara Alexander di telinganya. Perlahan Ivona membuka matanya dengan nafas yang masih terengah-engah.., melihat Alexander ada di depannya, tanpa berpikir Ivona menubruk dan memeluk laki-laki itu dengan erat.


"Tenanglah Nana.., kamu hanya sedang mimpi buruk!! Ada aku disini, aku akan selalu menjagamu. Tenanglah!!" sambil mengusap punggung gadis itu, Alexander membalas pelukan Ivona. Sebuah kecupan diberikan Alexander di pucuk kepala gadis itu.


Thomas melotot saat melihat dengan intimnya, Alexander memeluk erat adiknya. Dia berpikir, harusnya gadis itu memeluknnya atau saudara-saudaranya yang lain, tetapi malah memeluk laki-laki yang tidak memiliki hubungan dengan keluarga Iswara. Tetapi saat ini, bukan merupakan waktu yang tepat untuk mempermasalahkan hal itu. Terlihat adiknya merasa nyaman dalam pelukan Alexander, dan laki-laki itu merawat Ivona dengan pernuh perhatian.

__ADS_1


"Kak Alex..., Ivona ada dimana saat ini?" tanya Ivona setelah mulai tenang.


"Kamu ada di rumah keluarga Iswara. Kamu mimpi buruk Nana.., sudahlah tidak perlu kamu pikirkan lagi! Kita temani kakekmu makan dulu, kemudian kamu ikut pulang denganku ke villa." ucap Alexander sambil merapikan anak rambut gadis itu.


"Alex.., apa maksudmu?? Apakah kamu akan kembali membawa Ivona pergi? Saat ini Ivona sudah berada di tempat yang tepat, di rumah keluarganya yaitu keluarga Iswara." Thomas kaget mendengar ucapan Alexander, dia mencegah laki-laki itu agar tidak membawa Ivona pergi.


"Apakah kejadian barusan tidak membuka matamu anak muda?? Bagaimana traumatik Nana muncul, saat dia tidur disini barusan?" ucap Alexander, sambil meraih tangan Ivona. Tanpa kata-kata lagi, laki-laki itu segera membawa turun Ivona untuk bergabung kembali dengan kakek.


Thomas tidak mampu berkata apa-apa, dia mengikuti Alexander yang berjalan keluar meninggalkan kamar Ivona. Hal yang terlihat di depannya barusan, memberikan kembali ingatan bagaimana perlakuan keluarga Iswara terhadap Ivona di masa lalu. Kali ini, dia terpaksa membiarkan adiknya tinggal bersama dengan Alexander, sambil dia dan kedua saudaranya menyelidiki kasus tertukarnya bayi Vaya dan Ivona di masa lalu.


***********


"Ini untuk kakek juga ya.., Ivona sudah kebanyakan." Ivona mengambil beberapa potong lauk dan meletakkan di piring kakeknya. Kakek tersenyum menatap cucunya, kehangatan mengalir di hati laki-laki tua itu.


"Bagaimana sekolahmu Ivona.., selama dua minggu lebih, baru kamu kembali untuk menengok kakekmu yang tua ini?" sambil mengunyah makanan di mulutnya, kakek menanyakan kabar gadis itu.


Ivona memandang Alexander untuk merahasiakan kepergiannya ke Hong Kong dari kakeknya, tapi laki-laki mengacuhkan tatapan Ivona, dia malah pura-pura tidak melihat Ivona. Gadis itu sedikit dongkol melihat perilaku Alexander.


"Sekolah Ivona baik kakek.., bulan depan akan ada ujian kelulusan. Doakan ya kek, nanti Ivona bisa lulus dengan nilai bagus." Ivona membuat pembelaan sendiri, sementara kakak-kakaknya juga hanya diam.


"Begitu penuhkan jadwalmu, sampai tidak ada waktumu untuk kakek?? Kakek sudah tidak butuh apa-apa lagi, hanya kemunculan cucu-cucu di sekitar kakek, itu yang kakek butuhkan." ucap kakek sambil meletakkan sendok di piringnya.

__ADS_1


"Maafkan Alex kek.., karena Alex yang terlalu mengekang Nana. Sepulang sekolah, sudah ada guru les privat yang menunggunya di rumah. Menjelang istirahat malam, baru Nana bisa tidur." Alexander menjawab pernyataan kakek, padahal dia tahu persis ada dimana Ivona.


"Terima kasih nak Alex.., begitu besarnya rasa perhatian nak Alex pada cucu kakek. Rio.., Tommy.., Thomas..., lihat itu Tuan Muda Alex. Tanpa ada hubungan darah saja.., Tuan Muda bisa memberi perhatian seperti itu pada adikmu. Kalian kenapa tidak bisa memperlakukan hal yang sama pada adikmu?" kakek menasehati ketiga cucu laki-lakinya.


Nyonya Iswara dan Tuan Iswara merasa tersindir dengan kalimat yang barus saja disampaikan kakek. Warna merah karena malu terlihat di pipi mereka berdua.


"Ya kek.., maafkan kami!" Tommy menanggapi perkataan kakek.


"Kek.., setelah makan malam, Alex minta ijin untuk membawa kembali Ivona! Besok pagi dia harus pergi ke sekolah. Lihat saat iji, jam sudah di angka jarum jam 20.15 wib, agar tidak kemalamam maka kami akan segera kembali." Alexander seperti mendapatkan angin segar, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk sekaligus berpamitan.


"Kok bisa begitu Lex..? Biarkan untuk malam ini adikku tinggal di rumah, apalagi sudah 2 minggu baru kali ini Ivona pulang." Tommy langsung menolak perkataan Alexander.


Alexander menoleh pada Tommy, tatapan arogan mendominasi seperti menindas putra kedua Keluarga Iswara.


"Sepertinya bukan saatnya kita berdebat malam ini Tomm.., kakek sudah mempercayakan pengawasan Ivona ke depannya padaku. Bukankah begitu kek?" sambil tersenyum sinis, Alexander berbicara pada Tommy.


"Iya.., sudah semuanya. Tidak perlu berdebat, benar yang dikatakan nak Alex. Malam ini Ivona biarkan pulang bersama Nak Alex. Kamu setuju cucuku??" ucap kakek sambil mengarahkan pandangannya pada Ivona.


Teringat dengan mimpi buruk yang selalu datang saat dia berusaha tidur di rumah keluarga Iswara, Ivona tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepala. Kedua sudut bibir atas Alexander tiba-tiba naik ke atas.


***************

__ADS_1


__ADS_2