
William yang sebenarnya mendengar pembicaraan Ivona di telpon merasa bingung, untuk apa Ivona bekerja paruh waktu. Apalagi gadis itu tinggal di keluarga Iswara, salah satu keluarga terkaya di kota ini. Karena penasaran, William menanyakan langsung pada Ivona.
"Ivona.. barusan kamu telpon siapa?" tanya William sambil menjejeri langkah gadis itu.
"Penting ya, kamu mau tahu urusanku?" jawab Ivona acuh.
"Penting tidak penting sih, sebenarnya ga manfaat juga untukku. Tetapi tidak bolehkah aku heran, barusan aku dengar kamu setuju bekerja dengan seseorang, bahkan sampai minta gaji 3 bulan dibayarkan di depan."
"Kamu menguping pembicaraanku?"
"Tidak perlu dikuping saja, kamu telponnya kencang banget. Jadi speaker di sekolah sini saja tidak diperlukan lagi."
"Lagian siapa sih, yang tidak kenal dengan keluarga Iswara. Bahkan keluargamu itu membangunkan dan menghibahkan sebuah gedung di sekolah ini, masak meskipun kamu keluarga jauh, mereka membiarkan kamu bekerja mencari penghasilan sendiri."
"Not your business..., tidak usah kepo jadi orang."
William tersenyum kecut, karena dari tadi Ivona menanggapinya dengan angin-anginan. Tetapi karena dia merasa ada keunikan di diri gadis itu, dia malah semakin semangat untuk mendekatinya.
"Tapi ingat Ivona. Kamu murid baru di SMA Dharma Nusa ini. Masih banyak yang perlu kamu pelajari, jadi meskipun kamu sudah sepakat menerima pekerjaan, tugas utamamu tetap belajar, jadi jangan sampai keasyikan mencari uang, malah pelajaran kamu lupakan." tanpa sadar William sangat panjang berusaha menasehati Ivona.
"Bagiku semua aku sudah bisa. Jadi..., tidak ada yang perlu aku pelajari. You know?" selesai mengucapkan kalimat terakhir, Ivona langsung meninggalkan William sendiri.
Laki-laki itu tersenyum kecut dan menjadi semakin penasaran. Dia hanya bisa melihat punggung gadis itu yang berjalan meninggalkannya. Padahal selama ini, meskipun dia terkenal sebagai tukang bully, tetapi murid-murid perempuan selalu berusaha mencari perhatian padanya.
"Ivona is truly a unique girl." bisik William sambil tersenyum, dan saat dia membandingkan sikap Ivona dengan Vaya yang katanya saudara jauh, banyak perbedaan di antara mereka.
**********************
__ADS_1
Malam hari di rumah keluarga Iswara.
Ivona yang baru saja pulang berjalan-jalan dari sepulang sekolah, memasuki rumah keluarga Iswara. Terdengar di telinganya suara alunan piano, tetapi dia tidak tertarik untuk mendengarnya. Setelah melepaskan sepantu yang dipakainya dari pagi, Ivona langsung nyelonong masuk rumah tanpa permisi.
"Nona Muda sudah datang.., ada yang perlu saya bantu Nona?" pelayan yang melihat kedatangan Ivona, berusaha menyambut gadis itu dan siap untuk melayaninya.
Tetapi Ivona tidak menjawab, hanya mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk menyetop pelayan yang menawarkan jasanya.
"Baik Nona Muda..., jika butuh bantuan bisa memanggil saya."
Ivona melirik ke sudut rumah tempat bunyi piano berasal, dan dia melihat Vaya sedang bermain piano dengan akrab didampingi mamanya. Karena merasa tidak ada hubungannya dengan mereka, Ivona langsung memutuskan untuk ke kamar. Kemudian dia membayangkan Ivona yang asli.
"Gadis itu mesti sangat tersiksa melihat keakraban dua manusia itu." gumam Ivona sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Ivona.., kamu sudah pulang adikku sayang?" baru saja dia mengambil dua langkah kaki, dia dikagetkan dengan suara Thomas.
"Ya." jawab Ivona singkat.
"Kamu membuat kakak khawatir, harusnya sejak sore kan sudah sampai ke rumah. Tetapi kenapa malam begini baru pulang?" Thomas bertanya dengan nada khawatir. Dia segera menghampiri adik kandungnya itu.
"Aduh..., tangan Vaya kenapa tiba-tiba kembali nyeri? Hiks.." Vaya yang licik langsung bersandiwara, agar mamanya tidak mengacuhkan dirinya.
"Kenapa sayang? Lukanya kambuh lagi. Besok mama antar kamu ke dokter, jika sampai besok kamu masih merasakan nyeri." dengan penuh perhatian Nyonya Iswara meniup luka di tangan Vaya, dan mengabaikan kehadiran Ivona di rumah itu.
Ivona melihatnya sekilas, kemudian tersenyum sinis. Thomas dengan muka masam juga melihat mereka sekilas. Tuan Iswara papa kandung Ivona, melihat suasana yang aneh langsung berucap untuk mencairkan suasana.
"Wah.. putri ayah Ivona sangat cantik sekali malam ini. Padahal kamu belum mandi ya sayang, kalau Ivona sudah mandi, papa yakin akan semakin terlihat glowing wajahnya."
"Selamat malam pa.., maaf tadi Ivona mampir dulu jalan-jalan. Tidak langsung pulang ke rumah." Ivona meminta maaf pada Tuan Iswara.
"Tidak apa-apa Ivona. Kamu memang perlu lebih mengenal kota ini, tetapi besok-besoknya lagi, ada baiknya kamu pulang dulu. Kemudian minta sopir keluarga untuk mengantarkan kamu jalan-jalan." Tuan Iswara menasehati Ivona.
"Iya pa." jawab Ivona singkat.
__ADS_1
"Ayo.. mumpung sudah pada di rumah, kita segera makan malam." Tuan Iswara mengajak semua segera ke ruang makan untuk makan malam.
Ivona yang merasa capai dan muak berbasa-basi dengan keluarga ini, terlihat ogah-ogahan untuk makan malam bersama.
"Pa.., Ivona ke kamar dulu ya! Mau menaruh tas dan mandi dulu, biar bersih."
"Oh begitu.., baiklah. Segera turun kalau semuanya sudah selesai."
"Ya pa." jawab Ivona singkat sambil berjalan menuju kamar.
Merasa khawatir jika papanya mulai dekat pada Ivona, tiba-tiba Vaya berusaha mengalihkan perhatian papanya.
"Pa.., Vaya ada kabar baik lho. Tadi di sekolah, kan ada ujian. Vaya berhasil mendapatkan peringkat dua pa."
"Benarkah sayang? Hebat sekali putri papa."
"Iya pa, nanti papa ikut hadir ya dalam acara pertemuan orang tua. Karena Vaya akan mendapatkan penghargaan dari sekolah, dan Vaya ingin papa yang akan menerimanya." dengan manja Vaya merayu papanya.
"Baiklah.., nanti papa akan datang. Apa sih yang tidak untuk putri papa?" karena sudah bersama dengan Vaya sejak masih bayi, terlihat Tuan Iswara juga sangat menyayangi Vaya.
Perlahan perhatian Tuan Iswara sudah teralihkan ke Vaya, dan suasana di rumah itu mulai mencair. Thomas agak jengkel dengan sikap manja dan penjilat Vaya, yang sangat terlihat ingin menguasai perhatian dari semua anggota keluarga. Dia tidak mengomentari Vaya sepatah katapun, dia hanya diam dan pikirannya sedang memikirkan Ivona.
"Apakah Ivona merasa sakit hati ya, dan dia menjadi tidak nyaman dengan sikap papa dan mama?"
"Terus Ivona juga berpikir dan merasa, jika dia di rumah ini hanyalah orang luar. Dia merasa bukan bagian dari keluarga ini?" Thomas berpikir sendiri berbagai pertanyaan yang ada di benak adiknya Ivona.
"Thomas..., ayo kita segera makan malam?" Nyonya Iswara menyurh Thomas.
"Ini kan belum lengkap ma. Ivona saja masih ada di kamar, dia sedang membersihkan dirinya. Tidak bisakah kita menunggunya sebentar?"
"Tapi ini sudah malam Thomas. Lagian mana, sudah berapa menit dia ke kamar, dia belum juga datang kesini. Tidak ada hormat-hormatnya pada orang tua." Nyonya Iswara mengomel, dan Vaya tersenyum dalam hati.
"Kalau mama keburu lapar, silakan makan dulu! Tetapi Thomas tidak akan mulai makan, sebelum semua keluarga berkumpul dulu/.."
__ADS_1
*************************