Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 57 Setiap Akhir pekan Belajar di Rumah


__ADS_3

Raut wajah Roy langsung berubah muram, dia merasa tidak bercerita pada siapapun mengenai lamarannya ke lembaga penelitian. Hanya Vaya yang dia beri tahu tentang apa yang dia lakukan.


"Kamu pasti bertanya pada dirimu sendiri ya, bagaimana aku bisa tahu apa yang kamu lakukan?"


"Jangan berlagak sok pintar kamu Ivona!" ucap Roy dengan muka merah.


"Ingatlah Roy.., jika kamu masih berminat untuk masuk ke lembaga itu, nasibmu ada di tanganku." dengan tatapan sinis dan nada arogan, Ivona berkata pada Roy.


Wajah Roy langsung memerah, dan dia tidak berkata apa-apa. Tetapi untungnya, Ivona segera berdiri dan pergi meninggalkannya sendiri. Muncul kilatan dingin di matanya, dan tatapan merendahkan Roy terhadap Ivona.


"Kenapa juga aku harus memikirkan ucapan gadis itu. Paling dia menguping pembicaraanku dengan Vaya. Tetapi kenapa sepertinya sekarang Ivona mengalami perubahahan yang tajam ya?" Roy kembali berpikir sendiri.


 


*********


Setelah melakukan panggilan pada Marcus, selama dua hari Ivona menghabiskan waktunya di depan komputer. Setelah masuk ke dalam rumah, dia tidak akan keluar lagi. Alexander juga tidak mengganggunya, karena tahunya Ivona sedang mempelajari materi pelajaran yang ditugaskan padanya. Hanya Bibi Mina yang keluar masuk kamar untuk menyediakan keperluan Ivona.


"Non Ivona..., ayo makan dulu! Sudah sejak pulang sekolah lho, Non belum makan. Nanti Non sakit." Bi Mina meminta Ivona untuk istirahat makan.


"Ivona belum lapar Bi. Nanti saja kalau kerjaan Ivona sudah selesai, Ivona akan mengambil sendiri di dapur." jawab Ivona tanpa melihat pada Bi Mina.


Bibi Mina segera keluar kamar meninggalkan Ivona. Tetapi tidak berapa lama, dia sudah kembali memasuki kamar dengan membawakan nampan berisi makanan untuk gadis itu.


"Non.., Non Ivona kasihan sama bibi kan?? Jika iya, Non harus makan. Karena kalau Non tidak makan, Tuan Alex akan memarahi Bibi. Ini Bibi bawakan makanannya ke kamar." Bi Mina menggunakan nama Tuannya untuk memaksa gadis itu makan.


Ivona menoleh sebentar dan melihat ke mata Bi Mina. Dia melihat ada harapan di tatapan Bi Mina agar dia segera menghabiskan makanan yang sudah diantarkan ke kamar. Untuk melegakan hati wanita paruh baya itu, Ivona meninggalkan komputernya sejenak. Dia kemudian dengan cepat menghabiskan makanannya.


"Sekarang diminum dulu Non air putihnya!" Bi Mina dengan penuh kasih sayang, mengulurkan gelas berisi air putih pada gadis itu. Tampak kebahagiaan di matanya saat tahu Ivona menghabiskan makanan yang dia bawakan.


"Terima kasih Bi Mina. Bibi memang sangat baik pada Ivona." ucap Ivona sambil menyerahkan kembali gelas kosong.

__ADS_1


"Sama-sama Non. Bibi kembali ke dapur dulu ya. Jika Non membutuhkan apa-apa, langsung panggil Bibi saja ya." sambil tersenyum Bi Mina mengangkat kembali peralatan makan dan gelas kotor dan membawanya keluar dari dalam kamar.


Sepeninggalan Bi Mina, Ivona kembali fokus tatapannya pada layar komputer. Dia berusaha menyempurnakan dokumen proyeknya, dan berkali-kali dia menemukan kesalahan. Tetapi dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, akhirnya dia berhasil menyempurnakan pekerjaannya. Dia tersenyum, tinggal menunggu balasan dari dokter pakar yang menggeluti bidang spesialis otak.


 


*********


Di sekolah pada hari sekolah terakhir pada minggu ini, Ivona tiba-tiba teringat jika ada hal penting yang sudah dia lupakan. Karena kesibukannya menyempurnakan dokumen projek,  dia lupa memberi tahu Alexander jika dia harus segera pulang ke rumah. Karena pada hari ini, kakeknya akan datang dan menginap  di rumah kediaman besar.


"Aku lupa memberi tahu kak Alex jika hari ini aku harus kembali ke Keluarga Iswara." gumam Ivona sendiri.


Dia kemudian berjalan ke tempat yang sepi, dia akan menelpon Alexander.


 


 


*********


Alexander sedang memimpin rapat perusahaan. Para peserta rapat terlihat tegang melihat kemarahan Bossnya karena turunnya penjualan pada satu titik lokasi pemasaran.


"Saya tidak mau tahu.., koordinasi minggu depan tim marketing harus menunjukkan hasil analisis kenapa penjualan kita di daerah itu menurun. Jangan hanya  menjawab katanya..., katanya...  Paparkan semua by data..., bukan by katanya." Alexander berbicara dengan nada tinggi. Para peserta rapat menundukkan kepalanya, mereka tidak berani menatap mata Bossnya secara langsung.


"Drttt...drttt..drttt.." tiba-tiba ponsel  Alexander bergetar, dan sudut bibirnya naik sedikit ke atas saat melihat Ivona yang melakukan panggilan.


"Sekarang kalian semua keluar dari ruangan ini. Minggu depan kita koordinasi lagi, dan persiapkan semua dengan tepat." Alexander langsung menghentikan rapat secara sepihak.


Begitu para peserta rapat meninggalkan ruang rapat, Alexander langsung menekan tombol terima pada ponselnya.


"Ada apa Na.., siang-siang begini menelpon kakak?" tanya Alexander dengan nada lembut. Nada  bicaranya sangat berbeda dengan saat dia memimpin rapat tadi.

__ADS_1


"Kak..., Ivona mau minta ijin." sahut Ivona.


"Ijin?? Ijin untuk apa?"


"Hari ini, kakak tidak usah jemput Ivona, karena Ivona akan pulang ke rumah kediaman besar. Kakek hari ini keluar dari rumah sakit, Ivona akan menjenguk beliau."


"Oh ijin untuk pulang. Baiklah ga pa pa. Tapi ingat ya, kamu langsung pulang ke rumah! Jangan mampir kemana-mana."


"Iya kak Alex, terima kasih. Oh ya kak, saat akhir pekan Ivona harus belajar di rumah ya." belum sampai Alexander menjawab permintaannya yang terakhir, gadis itu sudah mengakhiri panggilan.


Setelah Ivona mengakhiri panggilan secara sepihak, Alexander yang berada di depan meja kerja langsung melakukan panggilan terhadap Tommy. Dia memberi tahukan tentang kepulangan Ivona ke keluarga Iswara.


 


*********


Kediaman besar keluarga Iswara.


Sejak sore hari Nyonya Iswara sudah mempersiapkan diri dengan berdandan anggun untuk menyambut kedatangan kakek. Dia mengenakan baju terusan yang terbuat dari batik tulis di bawah lutut, dan menyanggul kecil rambutnya yang panjang. Dia ingin membuat kesan di hadapan mertuanya itu.


"Vaya.., kamu kenapa nak?? Segeralah bersiap, kenakan pakaian terbaikmu, yang tertutup dan sopan. Mama yakin kakek akan terpana melihat cucunya yang paling cantik." Nyonya Iswara berusaha menenangkan Vaya yang terlihat gelisah.


Gadis itu hanya memandang pada Nyonya Iswara, tampak jelas kegelisahan tertangkap pada tatapannya. Dia masih ingat bagaimana perlakuan kakek akhir-akhir ini terhadapnya.  Semenjak Ivona datang ke rumah ini, sikap kakek padanya berubah 180 derajat.


"Vaya takut untuk berjumpa dengan kakek ma. Vaya takut akan diusir oleh kakek untuk keluar dari rumah ini." ucap Vaya lirih. Dia masih ingat saat kakek mengusirnya agar keluar dari rumah kkediaman besar.


"Itu kan dulu sayang. Itu hanya sekejap, mama yakin kakek sudah melupakannya. Tidak akan ada yang mengusirmu dari rumah kediaman besar, tidak juga kakekmu." Nyonya Iswara segera menghampiri Vaya, kemudian dengan penuh kasih dia memeluk putri yang sudah dia asuh dan rawat sejak dari kecil.


Nyonya Iswara juga berpikir bagaimana menyenangkan hati kakek, dia sudah menyiapkan sesuatu agar Vaya tidak diusir dari rumah ini. Dia masih ingat selama dua tahun terakhir, jika kakek ada di rumah, maka Vaya akan menginap di hotel sekitar rumah. Begitu kakek meninggalkan rumah, baru dia akan meminta agar Vaya segera kembali ke rumah.


 

__ADS_1


******************


__ADS_2