
Ivona duduk di samping ranjang tempat kakek tidur, dia mendapatkan informasi dari Thomas jika dari pagi kakek mencarinya. Setelah disuapi makan siang oleh Ivona, kakek perlahan tidur beristirahat. Vaya beserta Tuan dan Nyonya Iswara masih berada di kamar itu, dengan Roy Kumala yang sejak tadi mencuri pandang pada Ivona.
"Drrttt.." tiba-tiba ponsel Vaya bergetar, dan dia melihat ada panggilan masuk dengan kode area Jakarta. Sebelum menerima panggilan tersebut, Vaya melihat Nyonya Iswara. Setelah melihat Nyonya Iswara mengangguk, Vaya kemudian menerima panggilan tersebut.
"Ya siang, ada apa menghubungiku?" tanya Vaya langsung. Mukanya langsung terlihat cerah, karena si penelepon adalah orang yang mengaku sebagai orang suruhan Giandra.
"Kami ingin bertemu dengan anda secepatnya, kapan kita atur pertemuan kita. Jika bisa, anda silakan datang ke Jakarta, kita akan berbicara lebih lanjut. Tuan Giandra yang akan menemui anda langsung." sahut orang yang ada di ujung telpon.
"Kebetulan sekali, saat ini posisi kita sedang ada di Jakarta. Dimana kita bisa ketemu?" tanya Vaya responsif.
"Baik.., datang nanti malam di bar and lounge The Ritz Carlton Jakarta, kami akan menunggu anda pada pukul 20.00."
"Oke, sepakat." Vaya segera menyanggupi ajakan orang tersebut untuk bertemu dengannya nanti malam.
Setelah mengakhiri panggilan telpon, dengan muka cerah, Vaya langsung mendatangi Tuan dan Nyonya Iswara. Melihat ekspresi cerah Vaya, Nyonya Iswara langsung menyambutnya.
"Ada apa sayang, kelihatannya kamu sedang bahagia saat ini?" tanya Nyonya Iswara.
"Mama.., nanti malam Tuan Giandra akan bertemu dengan Vaya. Sepertinya tim peneliti dari Pusat Komputer Nasional, nanti malam akan mengajak Vaya diskusi. Mereka menunggu Vaya untuk bertemu di bar and lounge The Ritz Carlton, dan Vaya sudah menyanggupinya." ucap Vaya dengan memperbesar suaranya, dia ingin semua yang berada di kamar itu mendengar apa yang dia sampaikan pada Nyonya Iswara.
"Bagus sekali nak.., untung kamu segera menyusul kami di Jakarta saat mendengar kakek ada tindakan operasi disini. Ternyata rejeki tidak akan lari kemana, kamu memang selalu membanggakan keluarga Iswara Vaya. Mama dan papa sangat bangga padamu sayang." Nyonya Iswara juga menanggapi Vaya dengan suara yang juga lebih besar.
Kakak-kakak Ivona hanya melirik pada orang tua dan Vaya, tetapi dia tidak memberikan komentar sedikitpun. Mereka asyik dengan kegiatannya masing-masing, apalagi Ivona dia malah tertidur dengan kepalanya di sandarkan di sisi ranjang kakek.
__ADS_1
**************
"Kamu terlalu pede juga ya di keluarga Iswara? Tidak ditegur sapa sama Tuan dan Nyonya Iswara, tetapi masih juga bertahan di rumah sakit." Roy Kumala mengajak bicara pada Ivona. Mereka sedang berada di luar kamar rawat inap kakek. Laki-laki muda itu masih menganggap dan kegeeran jika Ivona masih berusaha untuk mengejarnya.
"Apakah bukan kamu yang terlalu pede Roy? Berada di lokasi orang asing, yang menganggapmu seperti seorang pembantu. Hanya kesana kemari, jadi tukang antar dan fasilitator." sahut Ivona sambil tersenyum sinis. Sama sekali Ivona tidak menunjukkan rasa peduli pada saat mengucapkan kalimat itu.
Roy Kumala kaget dengan jawaban yang diberikan Ivona, seketika senyuman hilang dari mulutnya. Dia merasa tersindir dengan perkataan Ivona.
"Apa maksudmu?" tanya Roy Kumala dengan tatapan datar. Dia langsung menghadap ke wajah Ivona.
"Maksudku, kamu itu tidak lebih hanya sebagai kambing congek. Yang didekati hanya jika orang itu, membutuhkan dirimu. Selebihnya go to hell." sahut Ivona sambil membalikkan badannya, dia beranjak pergi meninggalkan Roy Kumala.
"Jaga mulutmu gadis kampung!" ucap Roy Kumala dengan nada tinggi, dia segera mengejar Ivona. Pada saat dia akan menarik punggung gadis itu, tiba-tiba dia merasakan tangannya dipelintir oleh seseorang yang ada di belakangnya.
"Tu..tuan.., kenapa Tuan memegang tangan saya?" dengan terbata Roy Kumala memberanikan diri mengajak bicara pada Alexander. Dengan tatapan sadis, Alexander seperti menguliti tubuh Roy Kumala.
''Aku akan mematahkan tanganmu, jika kamu berani untuk memegang Ivona! Tanganmu terlalu kotor, hanya untuk sekedar mampir di baju yang dia kenakan." ucap Alexander sambil menghempaskan tangan Roy Kumala. Laki-laki muda itu meringis kesakitan, dia menahan tangannya yang seperti terkilir.
Ivona menengok, dia tersenyum melihat Alexander yang langsung membelanya tanpa dia minta.
"Nana.., kamu ga pa pa?" tanya Alexander dengan sangat peduli. Matanya mengamati Ivona dari atas sampai bawah.
"Ivona ga kenapa-kenapa kak, sudah abaikan saja laki-laki angkuh itu." sahut Ivona.
__ADS_1
**************
Malam hari tanpa sengaja Alexander dengan Tommy sedang duduk di bar and lounge The Ritz Carlton, mereka sedang bertemu dengan calon artis yang ditawarkan oleh sebuah agency padanya. Mereka sedang mempersiapkan film dengan genre anak sekolah, sehingga mereka membutuhkan seorang artis yang baru akan memulai debutnya. Sebuah wajah baru yang belum banyak dikenal oleh kebanyakan orang, itu kriteria yang mereka butuhkan.
"Kira-kira, bagaimana pendapatmu dengan calon artis yang ditawarkan oleh Tiara agency tadi?" tanya Tommy setelah tamu mereka undur diri.
"Huh.., kalau aku No. Wajahnya terlalu penuh dengan polesan make up, jika agency itu mau kita pakai. Minta dia untuk mengusulkan calon artis dengan bare face, bukan muka karbitan seperti tadi." Alexander menyampaikan pendapatnya.
"Keinginanmu tak masuk akal Lex.., memang menurutmu masih ada cewek jaman sekarang yang bisa berjalan di muka umum, dengan tampilan bare face." protes Tommy. Laki-laki itu menyesap sloki Jack Daniel, kemudian meletakkan gelas sloki di atas meja.
"Kamu saja yang buta Tomm.., di sekitar kita saja ada seorang gadis dengan tampilan bare face, kamu masih bertanya padaku." jawab Alexander, yang langsung teringat dengan Ivona. Gadis itu sudah dia minta istirahat dari tadi, dan besok mereka harus segera kembali ke kota mereka.
"Ups..., uhukk..., siapa maksudmu Lex? Adikku apa yang kamu maksud, Ivona?" tanya Tommy sambil terbatuk, karena dia hampir tersedak mendengar perkataan Alexander.
"Terserah bagaimana caramu menyimpulkan bro. Aku sudah capek, mau masuk kamar." Alexander segera berdiri, dia melangkahkan kaki meninggalkan Tommy.
"Tunggu aku, jangan main tinggal-tinggal kayak anak kecil!" Tommy segera berdiri menyusul Alexander.
Tetapi baru saja beberapa langkah mereka berjalan, mereka menoleh ke arah suara dari sudut ruang.
"Aku tidak bohongin kalian, siapa yang telpon duluan? Anak buah kalian kan, mereka bilang dari pusat komputer nasional, yang memintaku untuk menjadi peneliti junior di instansi mereka." terdengar jelas suara Vaya.
"Jangan membantah, aku bisa menuntutmu di kantor polisi karena kasus penipuan ini!" terdengar suara laki-laki dengan nada tinggi.
__ADS_1
****************