
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara, Ivona terlalu asyik dengan Ipad yang ada di depannya. Sedangkan Alexander dia mengemudikan mobil, sambil sesekali melirik pada gadis kecil yang saat ini duduk di sampingnya. Pria itu bahkan tidka percaya dengan dirinya, dia yang selalu bersikap acuh pada perempuan manapun, tiba-tiba dengan suka rela melakukan antar jemput pada adik Tommy sahabatnya. Tidak berapa lama perjalanan dari sekolah menuju toko buku, ternyata tujuan sudah berada di depan mata. Alexander menghentikan mobil di depan toko buku.
"Aku akan menemanimu ke dalam! Turunlah dulu disini, aku akan memarkirkan mobil dulu di tempat parkir." Alexander meminta Ivona untuk keluar lebih dulu, kemudian dia akan menyusulnya.
"Tidak perlu kak.., soalnya teman yang Ivona temui cewek. Ivona khawatir, dia merasa tidak nyaman kalau datang bersama dengan laki-laki." Ivona melarang Alexander menemaninya di dalam.
"Ya sudah.., aku akan menunggumu disini. Ingat jangan lama-lama!" akhirnya Alexander memilih untuk mengalah.
"Atau kakak pulang duluan saja, takutnya Ivona kelamaan ngobrol di dalam." Ivona masih berusaha agar laki-laki itu tidak mengikutinya.
"Sudah cepatlah masuk.., semakin kamu banyak bicara, semakin membuang waktu. Wasting time!" seru Alexander dengan nada tinggi.
Tanpa bicara lagi, Ivona langsung keluar dari mobil, kemudian bergegas memasuki toko buku. Tadi dia janjian dengan Caroline untuk ketemu di cafe yang ada di toko tersebut. Untuk menyingkat waktu, Ivona menuju kafe dengan melewati deretan etalase-etalase dan tempat untuk display buku. Dia malas, jika harus mengambil jalan memutar untuk menuju kafe. Tiba-tiba Ivona menghentikan langkahnya, dia melihat laki-laki yang berada di depannya.
"Waduh ada Roy??? Kenapa juga tadi aku lewat sini, kenapa tidak ambil jalan memutar saja." Ivona melirik ke samping depan, dia melihat Roy sedang melihat-lihat buku latihan soal Teknik Komputer.
Ivona langsung meraih buku yang dipajang di tempat display, kemudian dia menutup samping wajahnya dengan buku yang baru saja dia ambil. Dengan berjinjit agar tidak menimbulkan suara, Ivona segera pergi dari situ.
"Memang susah ya..., jika punya wajah tampan dan ganteng. Sampai ada cewek yang meluangkan waktunya dengan memasang alat pelacak lokasi agar bisa mengikutiku kemanapun." tiba-tiba suara Roy mengagetkannya. Ivona membalikkan tubuhnya dan memandang laki-laki itu. Roy menatapnya dengan pandangan dingin.
__ADS_1
"Ge er sekali kamu Roy. Memang hanya kamu saja yang bisa dengan bebas berkunjung ke tempat ini." sambil tersenyum sinis, Ivona membalas perkataan Roy.
"Ngeles boleh kok. Siapa sih di sekolah, yang tidak tahu bagaimana kisahmu mengejar aku??" Roy mengingatkan kesalahan-kesalahan Ivona di masa dulu. Pemilik tubuh asli Ivona memang sangat menyukai Roy, bahkan dia harus banyak menanggung banyak kesedihan karena laki-laki itu. Laki-laki itu suka mempermalukannya di depan umum.
"Terserah kamu mau bilang apa. Bagiku kamu itu laki-laki yang tidak penting. Minggir..., aku mau lewat!" seru Ivona, sampai banyak pengunjung di tempat itu menoleh ke arah mereka.
Dengan tersenyum sinis, Roy malah merentangkan kedua tangannya menghalangi Ivona untuk keluar dari tempat itu.
"Kamu mau kemana?? Tidak usah sok jual mahal, aku tahu akal licikmu. Kamu pura-pura kan mengatur semuanya, agar terlihat pertemuan kita ini alami? Padahal aku juga tahu, kamu sudah sengaja mengaturnya." ucap Roy yang langsung menuduh Ivona sudah sengaja mengatur pertemuan mereka kali ini.
"Ngaca dululah Roy... punya kaca tidak!! Jika tidak.., tuh di pojok sana ada cermin besar menempel di tembok, sana gih pakai kaca itu untuk bercermin. Pantas tidak, wajah seperti kamu, aku kagumi?" dengan tatapan mengejek, Ivona berbicara dengan Roy. Dia sudah sangat kesal dengan sikap kolokan yang ditunjukkan laki-laki itu.
"Ha..ha...ha.., ini masih sore Iv, belum malam. Belum saatnya kamu bermimpi terlalu tinggi, mana mau laki-laki tampan itu kamu sukai. Ha..ha..ha.." Roy tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ivona, dia berpikir jika Ivona hanya memancingnya untuk marah.
"Okay.., Roy dengar aku!! Aku tidak memintamu untuk percaya padaku atau tidak. Jika kamu tidak mempercayainya, keluarlah dan temui laki-laki itu! Namanya Alexander.., tanyakan padanya, untuk apa dia berada di depan. Tidak ada manfaatnya sama sekali, menyukai laki-laki sepertimu. Kamu itu seperti sampah." dengan tatapan dingin Ivona, sengaja membuat laki-laki yang ada di depannya marah.
"Apa kamu bilang?? Dasar perempuan tidak bisa menjaga mulut kamu. Kalau aku tidak melihatmu sebagai seorang perempuan, sudah aku tampar kamu di muka umum." dengan nada tinggi, Roy meluapkan emosinya pada Ivona.
Ivona tampak tersenyum bahagia, dia terlihat sangat menikmati raut marah Roy. Tanpa banyak bicara, gadis itu segera meninggalkan laki-laki itu sendiri, dia langsung pergi ke kafe yang berada di lantai dua toko buku tersebut.
__ADS_1
************
Roy sangat marah dan merasa jengkel dengan Ivona, tetapi dia menyadari jika tidak ada manfaatnya kalau dia marah-marah di tempat itu. Dia sendiri yang akan merasa rugi, dan dia juga merasa ada hal yang beda dengan Ivona. Tiba-tiba muncul rasa penasaran dengan Ivona, dia ingin melihat pria yang disukai perempuan itu.
"Coba aku akan lihat..., seperti apa pria yang disukai Ivona. Aku akan keluar dulu, untuk memastikannya." pikir Roy.
Dengan muka masam, Roy berjalan keluar mendekati pria yang tadi ditunjukkan oleh Ivona.
"Gila cing..., mobilnya Rolls Royce." gumam Roy kaget melihat mobil yang dinaiki pria itu. Alexander dengan wajah tampannya, saat ini masih mengenakan pakaian lengkap dengan dasi yang masih terpasang di lehernya. Caranya memegang rokok di tangannya, dan cara dia menghembuskan asap rokoknya terlihat sangat elegan.
"Sepertinya laki-laki itu seorang CEO, mobilnya keren, ditambah penampilannya juga sangat mengesankan." Roy jadi terbawa suasana memikirkan Alexander.
Merasa ada orang yang melihatinya, Alexander menatap balik pada Roy dengan tatapan datar. Roy kaget, karena dia merasakan jika tatapan mata pria yang dimaksud Ivona itu seperti memberi tekanan padanya. Tiba-tiba Roy merasa tubuhnya membeku. Roy menganggukkan kepala untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada dirinya.
"Jika laki-laki itu... benar adalah pria yang disukai Ivona. Aku memang tidak ada apa-apanya jika dibanding pria itu." Roy berpikir sendiri. Tiba-tiba dia merasa tidak percaya diri.
"Tapi darimana Ivona bisa mengenal pria itu."
*****************
__ADS_1