
Mata Aldo berubah cerah melihat kedatangan Ivona memasuki meeting room. Ketika Nyonya Carminda dan Dokter Rafi mengikuti di belakangnya, Kolonel Jendral Johnny terlihat gugup. Dia tahu dan mengenal dengan baik perempuan paruh baya itu, karena dia terlibat memisahkan hubungan terlarang antara Frans dan Carminda. Bagaimanapun mereka tidak mengira sama sekali, jika ada kelanjutan hubungan antara dua orang itu.
"Carmind..., kamu masih terlihat sama seperti dulu. Tidak ada perubahan sedikitpun pada dirimu.., kecuali karena usia kita yang sudah tidak terhitung muda lagi." dengan suara tercekat, Kolonel Jendral Johnny menyapa Carminda. Ivona menjadi heran dan melihat ke wajah laki-laki tua yang berdiri di depannya. Tetapi berapa kalipun dia melihatnya, Ivona memang tidak mengenal laki-laki tersebut. Begitu juga dengan Richard, laki-laki itu terkejut bagaimana dengan cepat anak buah kakeknya itu langsung mengenali mama Ivona.
"Waktu yang sudah sangat lama Kolonel.., semoga pertemuan kita kali bukan untuk mengusir atau membawaku keluar dari sini." dengan nada sarkasme, Carminda menanggapi perkataan itu. Perempuan paruh baya itu sedikitpun tidak merasa takut, kekuatannya sebagai seorang ibu yang harus melindungi putrinya, membuatnya tegar.
Semua orang yang ada di meeting room terdiam, untungnya dengan cepat situasi terkendali. Pengawal Kolonel Jendral Johnny membawa orang-orang yang dirasa tidak memiliki kepentingan di ruangan itu. Madam Theodora, dan beberapa orang penting di laboratorium segera dibawa keluar oleh pengawal tersebut. Ketika pengawal akan memegang Dokter Rafi, tanpa diduga Ivona menahan dokter itu untuk tetap bersamanya. Richard, Aldo dan Marcus memandang Ivona dengan tatapan penuh tanya.
"Dokter Rafi tetap disini, laki-laki ini adalah papa Ivona.." tanpa diduga, Ivona mengakui Dokter Rafi sebagai papanya. Semua orang menatap gadis itu dan laki-laki yang bersamanya dengan tatapan keraguan. Dokter Rafi bahkan sedikit kaget dengan keterus terangan gadis itu.
Carminda juga sedikit terhenyak dengan pernyataan yang disampaikan putrinya di muka umum. Perempuan paruh baya itu menggeser tubuhnya ke samping Dokter Rafi, dan merangkul gadis itu.
"Apa yang kamu katakan gadis.., apakah Carmind belum menceritakan siapa dirimu sebenarnya? Bagaimana hubungannya dengan laki-laki itu?" dengan hati-hati Kolonel Jendral Johnny menanyai Ivona.
__ADS_1
"Maaf Tuan Johnny.., maaf saya tidak begitu bisa mengenali gelar anda di markas komando militer. Bagi Ivona saat ini, hubungan darah hanya merupakan sebuah kebetulan untuk dapat menyebabkan saya terlahir ke dunia ini. Tetapi orang yang selalu bersama dengan saya, tanpa pamrih menolong dan memperhatikan mama, dialah yang layak untuk Ivona panggil sebagai papa. Daripada seorang pengecut yang tidak jelas keberadaannya." dengan kalimat panjang, Ivona menjawab pertanyaan Johnny.
Richard terkejut dengan arah pembicaraan itu, sebagai putra Frans dari mama yang dinikahi oleh papanya, dia menjadi bingung. Papa dan almarhum mamanya tidak pernah menceritakan hal kecil apapun tentang masa lalu dan kesalahan yang pernah diperbuat papanya. Dalam hal ini, Richard hanya diam melihat bagaimana diskusi ini bisa dia terima. Dia sendiri juga tidak bisa menyalahkan sikap Ivona, apalagi kedatangan mereka kali ini melibatkan markas komando militer. Melihat diskusi malah menjadi berkembang sepihak, Aldo merasa sebagai pihak yang ingin membawa Ivona segera keluar dari situ, segera maju menyapih situasi.
"Mohon maaf Kolonel Jendral.., apakah kita tidak akan membicarakan fokus alasan kita datang ke laboratorium ini?? Alangkah baiknya jika kita kesampingkan dulu kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu, bisa kita selesaikan setelah permasalahan utama kita selesai." Aldo dengan hati-hati berbicara pada Kolonel jendral Johnny. Richard terdiam, dia tidak tahu harus berbicara apa.
***********
Beberapa saat setelah Kolonel Johnny menyampaikan tujuan mereka datang kesini, Carminda terdiam. Dalam hatinya dia merasa senang, tanpa mengorbankan kepentingan Dokter Rafi, Ivona akan bisa keluar dari laboratorium itu. Tetapi yang menjadi pokok masalah adalah Ivona merasa keberatan untuk berpisah dengannya. Jalan satu-satunya dia harus menemani putrinya, tetapi dia sudah berjanji untuk memberikan tempat untuk Rafi bersamanya. Mereka sudah berjanji untuk menghabiskan masa tua di laboratorium itu bersama-sama.
Ivona menengadahkan wajahnya dan menatap pada perempuan paruh baya. Dokter Rafi tersenyum dan menganggukkan kepala, laki-laki itu memahami apa yang dikhawatirkan oleh gadis itu.
"Nana.., aku akan menjaga Carmind dengan baik. Tidak akan ada seorangpun yang bisa mengganggu atau menindasnya. Pergilah putriku..!" tanpa diduga, Dokter Rafi memanggil Ivona dengan sebutan putriku. Semua orang melihat ke arah mereka.
__ADS_1
"Terima kasih papa.., menikahlah dulu kalian berdua. Setelah kalian mengikatkan diri kalian, Ivona baru bersedia keluar dari laboratorium ini," jawaban yang dikeluarkan Ivona mengejutkan semua orang yang berada di dalam meeting room. Muka Richard menghitam, harapannya untuk menyatukan Nyonya Carminda dengan ayahndanya langsung luruh mendengar keputusan yang diambil gadis itu.
"Putriku..., jangan berpikir yang tidak-tidak. Mama akan melakukannya suatu saat nanti." ucap Carminda menolak dengan halus permintaan gadis itu.
"Jika begitu.., Ivona akan tetap berada disini untuk menemani mama," dengan keras hati.. Ivona terus memaksa mamanya untuk segera menikah dengan Dokter Rafi. Gadis itu berpikir kedua orang itu sudah banyak berkorban, sehingga mereka harus segera disatukan,
Sejenak keheningan melingkupi tempat itu, semua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba Aldo membuka suara..
"Baiklah jika itu adalah prasyarat yang diminta Nana untuk mau keluar dari sini, kenapa kita tidak menurutinya saja, Bahkan jika pernikahan ini akan dilaksanakan saat ini juga, aku bisa mengaturnya dengan mudah." kalimat yang menunjukkan kekuasaan terdengar di meeting room. Tetapi laki-laki itu juga tidak dapat dikandaskan obsesinya, dia mengambil putusan sendiri.
"Lakukan.., aku akan mengikutimu jika kamu bisa mengabulkan keinginanku tu." tanpa diduga, Ivona mengiyakan perkataan Aldo. Laki-laki itu tersenyum, karena dia merasa sudah semakin dekat dengan langkahnya untuk bersatu dengan gadis itu.
"Baiklah tunggulah Nana.., aku akan menghubungi orang-orangku di negara ini." Aldo langsung beranjak keluar tanpa pamit. Dia menghubungi Johan untuk membuat pengaturan untuk pernikahan Carminda dan Dokter Rafi. Beberapa orang yang menunggu di luar, melihat punggung laki-laki yang sedang melakukan panggilan telpon itu.
__ADS_1
*********