
Hari Senin.., Ivona sudah bersiap untuk mengikuti ujian hari pertama. Dia masih teringat bagaimana Alexander membatasi mobilitasnya dari hari terakhir masuk sekolah.., sampai hari ini. Tetapi laki-laki muda itu konsisten dengan keputusannya, bahkan Alexander tidak berangkat ke perusahaan saat dia tidak memperbolehkan Ivona keluar dari rumah. Akexander akan pergi keluar rumah, setelah melihat Ivona tidur di kamarnya, baru laki-laki itu pergi meninggalkan rumah.
"Hati-hati dalam menjawab soal Na.., baca dulu dengan jelas semua perintah yang disertakan pada semua soal! Hindari pertanyaan jebakan.., cerna dengan menggunakan logika berpikirmu!" sebelum Ivona keluar dari dalam mobil.., Alexander memberikan nasehat pada gadis itu.
"Ya kak.., do.akan ya! Semoga Ivona bisa mengerjakan semua soal dengan cermat dan teliti." tidak seperti biasanya, Ivona mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Alexander. Tiba-tiba gadis itu merasa jika saat ini penting baginya, untuk mendapatkan doa dan restu dari laki-laki yang sudah merawat dan memperlakukannya seperti adik kandungnya sendiri. Melihat sikap Ivona yang tiba-tiba berubah menjadi gadis yang baik dan santun, Alexander sedikit kaget. Tetapi laki-laki muda itu kemudian mengulurkan tangannya, dan saat kedua tangan itu bersentuhan, kembali Alexander terkejut karena Ivona mencium telapak tangannya. Dengan sedikit haru, Alexander mengangkat tangan kirinya dan mengusap lembut kepala Ivona, kemudian memberikan kecupan di pucuk kepala gadis itu.
"Jangan khawatir Na.., kakak akan selalu berdoa untuk keberhasilanmu." ucap pelan Alexander pada Ivona.
Setelah merapikan tasnya, perlahan Ivona membuka pintu mobil dan segera turun dari dalam mobil. Alexander melihat Ivona berjalan meninggalkannya dan memasuki gerbang sekolah, sampai punggung gadis itu tidak lagi terlihat.
"Aku harus segera membereskan urusan penukaran bayi gadis itu di masa lalu. Semua orang yang terlibat dengannya, harus merasakan penderitaan yang sama dengan yang dirasakan Ivona." gumam Alexander dengan mata menyala. Perlahan laki-laki itu segera menginjak pedal gas, dan mobil mewah itu segera meninggalkan jalanan depan SMA Dharma Nusa.
**************
Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Ivona.., Roy Kumala sudah berjalan di sampingnya. Laki-laki itu ternyata sudah menyambut kedatangan Ivona di depan pintu gerbang, tetapi gadis yang selalu cuek itu tidak memperhatikannya. Sebenarnya Roy Kumala melihat saat mobil yang mengantarkan Ivona tiba, tetapi laki-laki itu masih teringat dengan tatapan membunuh laki-laki yang selalu melakukan antar jemput Ivona itu. Sehingga menunggu Ivona di dalam gerbang sekolah, merasa lebih aman baginya.
__ADS_1
"Selamat pagi Ivona.., apakah sudah siap untuk ujian di hari pertama ini?" tanpa kenal rasa malu, laki-laki muda itu menyapa Ivona.
Ivona hanya melihat sekilas pada Roy Kumala, tetapi dia kembali mengabaikan dan mengacuhkannya. Tetapi Roy Kumala hanya tersenyum kecut, dia berusaha tidak mempedulikan perlakuan gadis itu terhadapnya. Tiba-tiba laki-laki itu terkejut, karena di depan mereka terlihat Vaya Carmindra bersama dengan salah satu murid perempuan tampak menghadang perjalanan dia dan Ivona.
"Hey.. cewek kampung yang tidak tahu diri.. Berani-beraninya kamu menggoda Roy Kumala ya?" teriak Vaya dengan nada tinggi. Murid-murid yang berada di halaman maupun di koridor sekolah melihat ke arah mereka.
Ivona diam, gadis itu memandang Vaya dengan tatapan sinis. Tidak ada sedikitpun kecemasan dan ketakutan menghias di wajahnya. Dengan pandangan nanar.., dia mengarahkan tatapannya pada Vaya dan murid yang berdiri di sampingnya.
"Ada berapa biji matamu?? Apakah kamu melihat siapa yang menggoda.., dan yang tergoda untuk mendekati aku?" dengan suara sarkasme, Ivona menanggapi kalimat Vaya.
Mendengar jawaban Ivona, mata Vaya menjadi melotot. Dia tidak menduga, pagi ini Ivona memiliki keberanian untuk mengajaknya berkelahi di muka umum. Tiba-tiba tangan gadis itu terangkat, dia akan memberikan tamparan pada Ivona. Tetapi...
"Roy.., kamu.." teriak Vaya dengan suara tercekat. Air mata mulai menggenang di mata Vaya Carminda.
"Aku tidak akan lagi membiarkan kamu seenaknya menindas Ivona Vay..." Roy Kumala menanggapi kalimat Vaya.
__ADS_1
Saat kedua orang itu sedang saling bertatapan, Ivona mencoba bergeser ke samping untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi tiba-tiba ada kaki yang menghalangi langkahnya, dan saat Ivona mengangkat wajahnya dia melihat murid perempuan yang tadi bersama dengan Vaya berusaha untuk menghalanginya. Sudut mulut Ivona terangkat ke atas, dengan tatapan membunuh, Ivona menatap mata murid perempuan itu. Seketika murid perempuan itu merasa merinding bulu kuduknya, dan tiba-tiba..
"Ivona ayo kita segera menuju ruang ujian. Tidak akan ada yang berani menghalangimu, jika kamu jalan bersamaku." tanpa sepengetahuan mereka, William sudah berdiri di samping Ivona. Malas memperpanjang urusan, Ivona menganggukkan kepala, dengan segera William membawa Ivona pergi dari situ. Roy Kumala hanya bisa menghela nafas melihat William dengan mudah bisa mengambil Ivona darinya. Akhirnya laki-laki itu membalikkan badan, dan segera meninggalkan Vaya berdiri disitu dengan teman perempuannya.
"Roy.., tunggu aku. Kita perlu bicara!" Vaya berusaha menghentikan Roy Kumala yang berjalan meninggalkannya. Melihat laki-laki itu tidak berhenti, Vaya segera mengejar laki-laki itu.
"Jangan lagi bertingkah kekanak-kanakan Vaya! Kita akan segera memasuki ruang ujian, aku tidak memiliki waktu pagi ini untuk berbicara denganmu." Roy Kumala langsung menggertak Vaya, saat tangan gadis itu berada di bahunya.
"Baiklah Roy.., tunggu aku setelah kita selesai ujian hari ini ya! Aku ingin mengajakmu makan siang." melihat nada bicara Roy yang tidak enak didengar, Vaya merubah sikapnya pada laki-laki itu. Gadis itu hanya memandang Roy Kumala yang berjalan meninggalkannya.
*"Fu*ck.., kenapa pagi ini merupakan hari sial bagiku. Semua orang mengacuhkan dan memancing masalah padaku." Vaya menendang kerikil kecil ke depan. Gadis itu terlihat sangat marah, karena dia merasa sikap semua orang berbalik padanya. Hari-hari yang biasanya hampir semua orang di sekolah ini melihatnya sebagai seorang idola, kali ini sudah membalik. Satu persatu Vaya merasa, jika orang-orang sudah meninggalkannya sendiri.
"Vay.. aku ke kelas dulu juga ya. Aku belum tahu, denah tempat dudukku ada dimana." tiba-tiba murid perempuan yang tadi ikut bersamanya, saat ini ikut berpamitan meninggalkannya.
"Tunggu.., mau kemana kamu? Apakah kamu juga akan meninggalkanku sendiri disini?" teriak Vaya melarang murid perempuan itu meninggalkannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Vay.., apakah kamu gila?? Kamu kan tahu.., jika pagi ini adalah hari pertama kita mengikuti Ujian Kelulusan. Memang kamu kan, yang pertama ingin memancing keributan pada Ivona." murid perempuan itu berani menjawab pada Vaya.
*************