
Marshall terkejut ketika mengetahui jika Ivona adalah putri dari Nyonya Carminda, seorang perempuan paruh baya yang masih tampak cantik dengan tubuh proporsional. Tetapi sejak kedatangan pertama kali di laboratorium, perempuan itu cenderung menjadi tipe orang yang introvert seperti kehilangan semangat hidup. Jika orang lain akan berpikir ulang mendapat unit kerja di tempat Carminda saat ini ditempatkan, tetapi tidak untuk perempuan itu. Banyak karya penelitian yang memiliki manfaat besar untuk dunia medis lahir dari otak dan tangannya.
"Iya.., Carminda adalah nama mama saya Tuan Marshall. Jujur.., tujuan saya mau bergabung dengan laboratorium ini adalah untuk bertemu dengan mama saya. Ada tabir yang ingin aku ungkap dari misteri keluarga saya." ucap Ivona lirih. Melihat kedekatan emosional antara Marcus dengan Marshall, menjadikan gadis itu berani untuk jujur dan berbicara apa yang menjadi tujuan sebenarnya dia datang di laboratorium ini.
Marshall menghela nafas, kemudian laki-laki itu menatap Marcus. Kali ini dia berada dalam pikiran yang sulit, karena dia akan mendapatkan sebuah punishment, dari lembaga yang menaungi keberadaan laboratorium terpadu ini, jika dia mempermainkan jabatan yang diembannya.
"Tolong Ivona Marshall..!! Aku yang akan menjadi guarantee.., jika masuknya Ivona untuk bertemu dengan Carminda tidak akan menimbulkan kekacauan di laboratorium. Dia hanya ingin menyingkap jati dirinya, ingin tahu ada apa di balik keluarganya. Jika kamu mau tahu..., gadis ini sejak lahir belum pernah merasakan sentuhan kasih sayang seorang papa." Ivona tanpa sadar menitikkan air mata mendengar perkataan Marcus. Sampai sejauh ini, sahabatnya mencarikan jalan keluar untuk membantunya menyingkap tabir hidupnya.
Melihat kesedihan yang tampak bergayut di mata gadis itu, juga kegigihan Marcus untuk meminta bantuannya, akhirnya Marshall menganggukkan kepala. Laki-laki ini tahu persis, hukuman apa yang dapat dia terima jika sampai militer negara China mengetahui kelakuannya.
"Terima kasih brother.., aku tidak akan pernah melupakan jasamu kali ini." Marcus menepuk bahu Marshall yang terdiam setelah menganggukkan kepala. Dengan air mata yang mulai mengalir di pipi, Ivona menatap laki-laki itu tidak percaya. Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya di kaki Marshall dan mencium tangan laki-laki itu.
"Sudah.., sudah.., hentikan semuanya! Aku tidak mau menjadi melow karena hal ini. Sekarang makan siang sudah selesai, Ivona kembali ke ruang kerjamu. Besok pagi.., aku akan mulai tempatkan kamu ke laboratorium inti. Konsekuensinya selama proses penelitian belum selesai, kamu tidak boleh berhubungan dengan dunia luar." dengan suara tegas, Marshall menghentikan pembicaraan mereka.
"Tega sekali kamu Marshall.., belum juga ada satu jam aku bertemu dengan Ivona. Kamu sudah mengakhiri semuanya.." Marcus memprotes tindakan Marshall.
__ADS_1
"Apakah otakmu tidak berpikir, saat pertama kali kamu memintaku untuk memasukkan Ivona ke laboratorium ini. Aku sudah sangat berbaik hati menggunakan kekuasaanku untuk menolong kalian.., jemput gadis ini selesai jam kerja." Marshall memukul punggung Marcus.., dan tanpa henti memberi omelan pada laki-laki itu. Marcus hanya menatap Ivona sambil tersenyum.
"Masuklah Ivona.., kembalilah bekerja!! Jam empat sore, aku akan menjemputmu kembali. Kita punya waktu sampai besok pagi untuk bersama di negara ini." dengan berat hati Marcus meminta Ivona kembali ke ruang kerjanya. Tanpa diulang, Ivona sudah berdiri kemudian membungkukkan badannya.
"Terima kasih Marcus.., Marshall.., aku akan kembali ke ruang kerjaku!" setelah berpamitan, gadis itu segera meninggalkan kedua laki-laki itu.
*************
Aldo dan Richard berjalan dengan gagah di airport setelah turun dari private jet. Ketampanan di atas rata-rata dan bentuk tubuhnya yang tegap, menjadikan kedua laki-laki itu menjadi pusat perhatian. Tetapi sikap cool, sombong dan arogan selalu membayangi langkah mereka, sehingga orang-orang hanya berani untuk melihatnya dari kejauhan.
"Selamat malam Tuan Muda.., saya Ronald perwakilan cabang perusahaan yang menguasai pasar di Hong Kong." seorang laki-laki perawakan China menyambut kedatangan Aldo di bandara.
Laki-laki bernama Ronald langsung memimpin langkah, dan membukakan pintu mobil untuk mereka. Setelah kedua laki-laki itu masuk mobil, Ronald kembali menutup pintu dengan pelan.
"Tuan Muda.., kami sudah mengirimkan orang untuk mencari data di Opus Apartemen. Tetapi tidak ada pemilik kamar atau yang melakukan sewa dengan nama Miss Ivona Carminda. Ada beberapa pendatang dari negara Indonesia yang menyewa apartemen tersebut, tetapi keduanya laki-laki tidak ada yang perempuan." Ronald langsung melaporkan penyelidikan awalnya untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Ivona.
__ADS_1
"No problem.., atur janji dengan pemilik apartemen itu. Aku akan mencari cara sendiri dengan jalanku." ucap Aldo tenang sambil menyelonjorkan kaki di dalam mobil.
Sejenak suasana sepi kembali berada di dalam mobil, dan Ronald melajukan mobil dengan sangat cepat. Tidak lama kemudian, mobil itu sudah berhenti di depan sebuah hotel mewah The Penin Sula Hong Kong. Sebuah penthouse sudah disiapkan perusahaan cabang untuk tempat tinggal Aldo, yang terletak di lantai paling atas hotel tersebut.
"Apakah kamu juga menyediakan kamar buatku Aldo..?? Jika tidak aku akan mencari hotel sendiri." tiba-tiba Richard bertanya pada laki-laki itu.
"Kamu meragukanku..?? Ada beberapa kamar di lantai paling atas hotel ini. Perusahaanku sudah menyiapkan penthouse, tidak usah kamu berlagak sok kaya di hadapanku." Aldo langsung keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan meninggalkan Richard sendiri.
Sambil menggerutu Richard mengikuti langkah Aldo dari belakang. Tetapi daripada malam-malam, dia harus berkeliling mencari hotel, mengikuti Aldo masih merupakan cara terbaik. Tidak lama, Ronald sudah membukakan pintu lift khusus untuk mereka. Lift ini disiapkan pihak hotel untuk menjaga privacy para penghuni di penthouse, jadi tidak akan bersama dengan tamu hotel yang lain.
"Apakah kamu sudah mengatur makan malam Ronald?" tanya Aldo yang mendadak merasa lapar. Karena menghabiskan waktu di private jet dengan tidur, laki-laki itu memang hanya menikmati secangkir teh panas.
"Chef hotel sudah kami siapkan untuk membuat jamuan malam ini Tuan Muda. Tidak akan lama, menu pasti sudah akan siap untuk dinikmati." melihat keunikan Tuan Mudanya, perusahaan memang selalu menyiapkan semua dengan sangat rapi dan tertata. Asisten Aldo sudah memberi informasi lengkap tentang laki-laki ini, sehingga perusahaan cabang harus menyesuaikan dengan gaya hidup dari tuan Mudanya.
Lift berhenti di lantai atas sendiri hotel ini, dan begitu pintu lift terbuka Ronald langsung bergegas keluar dan memimpin langkah mereka. Di depan sebuah pintu mewah.., Ronald membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Silakan masuk Tuan Muda dan Tuan Richard..., silakan bersih-bersih dulu! Sebentar lagi kami akan memanggil Tuan Muda berdua untuk menikmati makan malam." sambil membungkukkan badan, Ronald mempersilakan Aldo dan Richard untuk masuk ke dalam kamar. Kedua laki-laki itu kemudian masuk ke kamar, dan Aldo langsung masuk ke kamar utama di sebelah kanan dan menunjuk kamar sebelah kiri untuk istirahat Richard.
*************