
Mata Alexander menyipit saat menerima delivery yang dialamatkan untuk Ivona. Sebuah kilatan muncul di matanya, melihat satu buah Visa atas nama Ivona Carminda yang saat ini berada di tangannya. Untungnya siang ini, dia mampir ke rumah untuk mengambil berkas yang semalam dia tinggalkan di atas nakas yang berada kamarnya. Ketika seorang petugas dari kantor imigrasi menyerahkan visa dan berkas pengurusan ijin tinggal dari Kedutaan, Alexander menerima dengan tangannya sendiri.
"Mana mungkin kamu bisa mengelabui aku Nana.., dimanapun kamu harus berada dalam pantauanku." bisik Alexander pelan.
Setelah meminta Bi Mina meletakkan berkas berisi Visa dan persyaratan lainnya, Alexander kembali masuk ke dalam mobil. Sesampainya di dalam mobil, laki-laki muda itu membuka iPad dan langsung masuk ke dalam dunia maya.
"I will be back." setelah login ke sebuah sistem dan mengirim sebuah notifikasi pesan, Alexander segera log out. Kemudian dia kembali menekan tombol-tombol dengan jari-jarinya, setelah beberapa saat sebuah senyuman terbit di atas bibirnya. Laki-laki muda itu kemudian melakukan shut down, dan menyimpan kembali iPadnya.
Baru saja dia menstarter mobil, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Setelah memasang handsfree, Alexander menerima panggilan telpon sambil menjalankan mobilnya.
"Bagaimana?" sebuah pertanyaan singkat meluncur dari mulut ALexander.
"Semua pesanan Tuan sudah dilaksanakan, dan semua sudah siap. Cek email!" lawan bicara juga irit bicara, langsung to the point memberikan informasi.
"Sampaikan Tommy, aku langsung menuju MUSE Bar, ketemu di tempat biasanya!" tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara, Alexander langsung mengakhir panggilan secara sepihak.
Kaki kanan Alexander langsung menginjak pedal, dan dengan cepat mobilnya melaju cepat menembus keramaian jalan.
***************
Tommy langsung menuju private room yang sudah disiapkan Rico untuk berbincang dengan Alexander. Sesampainya di dalam, ternyata Jack sudah menemani Alexander, terlihat mereka sedang berbincang. Tommy mengangkat genggaman tangannya, dan dia sentuhkan ke genggaman tangan Jack dan Alexander.
"Kok lama?" tanya Alexander singkat.
"Banyak berkas yang harus aku bereskan dulu. Sama ada keributan antar artis yang ingin segera minta untuk diorbitkan. Sampai ada yang bilang, apapun siap untuk dia berikan, asalkan debut pertamanya segera dimulai. Sampai daging mentahnya dia tawarkan.. gila memang." ucap Tommy sekalian curcol pada dua mitra bisnisnya itu.
__ADS_1
"Nikmat sekali hidupmu Tomm..., bisa ganti-ganti merasakan daging mentah gadis-gadis. Siapa tahu ada yang virgin, mau juga aku ditawari. Ha.., ha.., ha..," sahut Jack sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hush mesum saja yang ada di otak kalian berdua." Alexander menegur mereka berdua.
"Halah.., karena kamu belum pernah merasakan saja Lex. Coba sekali saja kamu turuti aku untuk merasakannya, bisa ketagihan terus-terusan kamu." kata Jack sambil meneguk beer yang ada di tangannya.
"Tutup mulut kotormu itu!" Alexander menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Tommy duduk di hadapan Alexander, dan Jack bergeser memberi keleluasaan dua orang itu untuk bicara. Pria keturunan Australia itu segera mengambil head set kemudian memasangnya di telinga.
"Ada apa Lex.., kamu mengajakku kemari? Apakah ada yang serius?" tanya Tommy pada Alexander, setelah memastikan orang-orang termasuk waiters dan ladies club keluar dari ruangan ini.
"Siapa sebenarnya adikmu Ivona?" tanya Alexander tiba-tiba.
"Aku bertanya padamu, jawab! Malah melamun." Alexander menegur Tommy.
Tommy mengambil sloki di depannya, kemudian menyesapnya sedikit. Setelah menaruh kembali sloki ke atas meja, dia menatap Alexander.
"Jujur Lex.., saat ini aku tidak bisa mengenali adikku lagi. Banyak momen dengannya yang hilang, sehingga hubungan antara aku dan Ivona sering terasa hambar. Tapi aku berjanji, untuk sekarang dan di masa depan, aku akan lebih memperhatikannya lagi." Tommy menjawab pertanyaan Alexander.
"Apakah kalian memiliki keluarga yang tinggal di Hongkong, atau mungkin negara di sekitar negara itu?" Tommy heran dengan pertanyaan Alexander, dahinya berkerut.
"Aku yang bertanya padamu, jawab saja. Jangan ajukan pertanyaan apapun padaku." Alexander menambahkan saat dia melihat ekspresi kebingungan Tommy.
Tommy menggelengkan kepala, karena memang dia tidak memiliki keluarga di Hongkong maupun sekitarnya. Dia tidak balik bertanya pada Alexander mendengar peringatannya barusan, tetapi dia hanya menatap laki-laki CEO Kavindra Group itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Berarti Ivona juga menutupi dirinya dari keluarga Iswara." Alexander berpikir sendiri. Dia melamun, dan saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 15.30, laki-laki itu langsung berdiri dan tanpa pamit meninggalkan Jack dan Tommy di private room.
**************
Sesuai permintaan Ivona, sepulang sekolah Alexander langsung mengantarkan gadis itu ke rumah keluarga Iswara. Untuk memberinya privacy, laki-laki muda itu hanya menurunkan Ivona di halaman rumah dan berjanji untuk menjemputnya pada pukul 20.00.
"Makasih kak.." Ivona melambaikan tangan sambil mengucap terima kasih.
"Yupz.." sahut Alexander sambil menginjak pedal gas mobilnya. Mobil itu kembali keluar dari halaman rumah keluarga Iswara.
Dengan perasaan malas, Ivona melangkahkan kaki memasuki kediaman utama keluarga itu. Melihat tidak ada seorangpun di ruang tengah, gadis itu langsung menuju ke lantai dua. Dia akan beristirahat dulu sementara di dalam kamar.
"Kreeet.." Ivona melongokkan kepala menengok ke arah pintu kamarnya. Dia melihat Thomas masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi belajarnya.
"Ketuk pintu dulu kenapa kak..? Ivona memprotes tindakan kakaknya yang asal masuk nyelonong ke dalam kamar.
"Iya deh.., maaf. Tadi soalnya hanya mastiin saja, kelihatan sekelebat orang masuk kamarmu. Yah.., siapa tahu ada penampakan yang masuk ke kamarmu, aku hanya cek saja." sahut Thomas mencari alasan.
Malas berdebat, Ivona hanya mengiyakan saja. Dia juga merasa, akhir-akhir ini Thomas sering memberinya pertolongan jika dia berada dalam kesulitan. Bahkan berkali-kali, kakaknya itu juga membelanya di depan Tuan dan Nyonya Iswara. Mencoba berdamai dengan hatinya saat ini untuk membuatnya tenang.
"Naik apa kemari? Tadi kalau chat kak Thomas.., pasti deh aku jemput. Berkali-kali kakak jemput kamu ke sekolah, pastu sudah keduluan dengan Alexander." Thomas memancing pembicaraan.
"Ya tadi diantar kak Alex kesininya." jawab Ivona singkat.
**********
__ADS_1