Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 161 Rugi Membiarkanmu Bahagia


__ADS_3

Setelah mencapai kesepakatan dengan Alexander, Tommy ingin berpamitan untuk kembali ke perusahaannya. Tetapi tiba-tiba Bi Mina masuk ke ruang kerja Alexander, pelayan rumah itu memberi tahu jika Ivona sudah menunggu mereka di meja makan.


"Tuan Muda.., Nona Muda sudah ada di meja makan. Tadi Bibi sudah berpesan agar Nona Muda menunggu Tuan Muda untuk bersamanya makan siang." Bi Mina memberi tahu pada Alexander. Hati Tommy merasa mencelos, mendengar panggilan untuk adik kandungnya di villa itu. Sebegitu perhatiannya, Alexander beserta penghuni villa itu menghormati dan memperlakukan adiknya seperti seorang putri  dari keluarga itu sendiri. Mengingat bagaimana perlakuan yang didapatkan Ivona di keluarga Iswara sebelum gadis itu tinggal di rumah ini, Tommy menjadi malu sendiri untuk mengingatnya.


"Tommy.., kamu mau langsung pulang atau masih tega untuk menggangguku makan siang?" tanya Alexander tanpa perasaan.


"Rugi bagiku Lex.., jika aku membiarkanmu merasa bahagia. Aku juga ingin sekali-sekali merasakan makan bersama dengan adik kandungku.., jangan kamu dominasi dia dong!" kata Tommy. Putra kedua keluarga Iswara mendahului Alexander keluar dari ruang kerja, dia langsung menuju ke meja makan. Di belakangnya, Alexander geleng-geleng kepala melihat sikap yang ditunjukkan Tommy. Akhirnya CEO Kavindra Group itu mengikuti Tommy menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan.


Melihat kedua kakaknya datang bersama-sama dan duduk bergabung dengannya di meja makan, Ivona membantu Bi Mina menyiapkan piring dan mengambilkan nasi untuk keduanya. Tommy mengulum senyum, baru pertama kali dia merasa dilayani oleh adik kandungnya itu.


"Kenapa nasimu hanya sedikit Nana.., kamu harus menambah lagi di piringmu." dengan pelan, Alexander mengingatkan Ivona.


"Sebelum kakak kesini, Ivona sudah banyak ngemil lauk sama buah. Jadi sebenarnya sudah lumayan kenyang." Ivona menolak saat Alexander menambahkan nasi putih di piringnya.


Tommy terpaku melihat interaksi kedekatan Ivona dan Alexander sedemikian intimnya, mereka seperti pasangan pengantin muda yang saling melayani. Dia sebagai kakak kandungnya, belum pernah merasakan perlakuan seperti itu dari Ivona. Melihat Tommy memperhatikan mereka, Alexander malah semakin bersemangat memperhatikan Ivona. Dia tersenyum smirk.., dan tiba-tiba merasa ingin memancing kecemburuan Tommy pada adik kandungnya.


"Nana sudah tidur siang belum..? Apakah tadi pulang sekolah langsung tidur atau belajar dulu?" kembali Alexander bertanya pada gadis muda itu.


"Sempat tidur sebentar sih kak.., tapi terus terbangun. Keinget tadi belum makan.., jadi merasa sedikit lapar." jawab Ivona polos.


"Nasimu terlalu sedikit, perbanyak asupan protein di tubuhmu, biar cepat tumbuh besar." dengan cekatan, Alexander memecah udang lobster dengan menggunakan palu kecil dan pencepit makanan. Sesudahnya, daging lobster diletakkan ke piring Ivona.

__ADS_1


Melihat keintiman itu, tiba-tiba Tommy mengangkat piringnya kemudian mendekatkan pada Alexander.


"Aku juga mau udangnya Lex.., ambilkan juga dong!" tanpa tahu rasa sungkan, Tommy meminta tolong pada Alexander.


"Kamu juga Tomm. bilang dong dari tadi. Tunggu bentar ya.., aku juga akan menyiapkannya untukmu!" selesai bicara, Alexander menyendok udang goreng tepung kemudian meletakannya di piring Tommy. Seketika mata Tommy terbelalak.


"Wait.., bukan udang ini yang aku mau Lex..., mauku lobster sama seperti Nana.." protes Tommy sambil memindahkan piringnya menjauh dari  Alexander.


"Ha.., ha.., ha.., apakah kamu lupa Tommy. Ini baby lobster Tuan muda Keluarga Iswara..." Alexander tertawa puas sudah berhasil mengerjai Tommy.


"Awas saja kamu Lex.." Ivona tertawa kecil sambil menutup mulutnya, saat melihat bagaimana Alexander dan Tommy saling mengerjai.


Di rumah sakit jiwa


Kepala Rumah Sakit Jiwa sedang minum alkohol di ruangannya dengan ditemani seorang perempuan. Perempuan nakal yang diambil dari rumah bordil itu, tampak menuangkan alkohol dari botol ke gelas yang dipegang laki-laki paruh baya itu. Sambil satu tangannya diletakkan di bahu perempuan itu, Kepala RSJ menariknya untuk duduk di pangkuannya. Pelukan dan ciuman langsung dihadiahkan oleh perempuan itu untuk Kepala RSJ itu. Tiba-tiba..


"Tok.., tok.., tok..., Tuan.. ini saya kepala security ingin melapor.." terdengar suara laki-laki dari luar pintu ruang kerjanya sambil mengetuk daun pintu.


"Tahu tidak pesanku tadi..? Jangan ganggu aku.., pergi!" teriak Kepala RSJ dengan nada keras. Perempuan itu berusaha menenangkan laki-laki itu, dia mengusap keringat yang ada di kening Kepala RSJ tersebut. Tiba-tiba..,


"Duar..., brakk." pintu ruang kerja  ditendang dari arah luar, daun pintu langsung terbuka lebar.

__ADS_1


"Kurang ajar..., apakah kamu tidak..." belum sampai selesai, Kepala RSJ berteriak.., dua orang berpakaian preman, dan dua orang mengenakan seragam polisi lengkap, langsung masuk ke ruangan.


"Kepala Rumah Sakit.., tolong kerjasamanya, ikut kami ke kantor kepolisian!" sambil menunjukkan lencana dan surat penangkapan, satu orang dari empat orang tersebut berbicara pada Kepala RSJ. Dengan tatapan nanar.., Kepala RSJ melihat keempat petugas kepolisian itu.


"Atas dasar apa kalian akan membawaku..., security jelaskan apa yang terjadi! Siapapun tidak boleh secara paksa masuk ke ruang kerjaku, kenapa kamu malah membiarkan mereka membuat kekacauan disini?" dengan nada tinggi, Kepala RSJ berteriak pada security rumah sakit.


"Maafkan kami Tuan.., surat yang dibawa bapak polisi sudah jelas perintahnya. Tuan dapat mengajukan pembelaan diri dan memberi keterangan saat nanti berada di kantor polisi." dengan nada takut, security memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan atasannya.


Merasa tidak sabar dengan sikap yang ditunjukkan Kepala RSJ, dua polisi berpakaian preman segera berjalan mendekati Kepala RSJ tersebut. Perempuan yang tadi berada di pangkuannya, langsung berlari dan merapat pada tembok. Tubuh perempuan itu menggigil ketakutan.


"Kamu akan berjalan sendiri dengan baik-baik.., atau akan menentang surat kuasa yang kami bawa." seru kedua polisi tersebut di telinga Kepala RSJ tersebut.


"Pergi kalian semua.., aku tidak akan menuruti perintah kalian. Pergi dari ruanganku..!" seperti orang yang kehilangan akal sehat, Kepala RSJ berteriak mengusir para polisi itu.


"Dukk..., bukkk..." karena melawan, polisi berpakaian preman melayangkan pukulan di rahang Kepala RSJ, dan juga mengirimkan tendangan ke betis laki-laki paruh baya itu.


"Aaaw.., jangan siksa aku! Kalian akan tahu rasa.., jika aku melapor pada atasan kalian." teriak kepala RSJ yang merasa kesakitan, tiba-tiba dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Darah mengalir di sudut bibirnya.., tapi dengan tatapan bengis.., kedua polisi itu sedikitpun tidak memberikan belas kasihan, mereka terus menyeret Kepala RSJ dan membawanya keluar ruangan.


Teriakan dan raungan Kepala RSJ bergema di sepanjang koridor rumah sakit. Kedua polisi menyeret laki-laki tua itu sambil menghajarnya di sepanjang koridor. Beberapa pasien yang melihat Kepala RSJ tampak senyum-senyum dari ruangannya, sedangkan para security yang biasanya selalu menjadi antek kejahatannya, hanya tampak melihatnya dengan tatapan ketakutan.


*****************

__ADS_1


__ADS_2