
Sesuai dengan rencana mereka, selama lima hari Aldo dan Ivona menghabiskan waktu di pulau Lombok. Di hari Rabu mereka sudah terbang kembali ke Jakarta. Donny menjemput kedatangan mereka di bandara dengan ditemani Richard. Melihat Aldo yang dengan santai keluar dari pintu kedatangan dengan merangkul bahu adik perempuannya, Richard terlihat geram dan langsung menghampiri mereka.
"Dasar tidak punya etika dan tata krama. Kalian membiarkanku menjadi penunggu villa di atas bukit, sedangkan kalian malah bersenang-senang ke pulau Lombok." dengan nada tinggi, Richard berbicara pada Aldo dan Ivona. Melihat reaksi kakaknya, terlihat wajah Ivona dengan muka bersalah, menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.
"Maaf kak.., semua terjadi secara mendadak. Lagian tidak ada salahnya kan kami meluangkan waktu pergi berdua saja." dengan tatapan bersalah, Ivona meminta maaf pada Richard.
"Dasar kamu Richard.., makanya segeralah menikah. Kami baru menghabiskan waktu bersama lima hari saja, kamu sudah kebakaran jenggot. Kami ini pasangan sah, wajar saja dong kita healing bareng." Aldo menimpali Ivona, dia merasa tidak bersalah.
"Boleh-boleh saja kalian pergi berdua. Tapi kasih tahu kami bisa kan, ada papa yang mencarimu. Dan juga mama Carminda dan Dokter Rafi sudah meninggalkan negara ini dari dua hari yang lalu." tanpa mendengarkan omongan Aldo, Richard melanjutkan omelannya. Melihat mobil sudah dibuka pintunya oleh Donny, Aldo segera menarik Ivona untuk memasuki mobil. Richard segera mengikuti mereka, dan mengambil tempat duduk di samping Donny.
"Kemana tujuan kita Tuan Muda..?" sebelum Donny, menginjak pedal gas, asisten pribadi Aldo itu menanyakan tujuan selanjutnya.
"Kita ke mansion papa, ada yang akan disampaikan papa untuk Ivona." dengan suara tegas, Richard langsung menjawab pertanyaan Donny.
"Ikut saja Donny.." malas berdebat dengan Richard, Aldo memutuskan untuk mengikuti apa yang diinginkan Richard. Donny segera menjalankan mobil dan langsung menuju mansion Tuan Frans Mahendra.
**********
__ADS_1
Mansion Frans Mahendra
Aldo mendampingi Ivona duduk di sofa di ruang tengah, di depannya duduk Helen dan papa mertuanya. Sedangkan Richard dengan malas, duduk di sebelan kiri Ivona. Di tangan Tuan Frans, ada dua tas besar yang sudah disiapkannya dari tadi.
"Baiklah karena Nana dan Aldo sudah ada disini.., Richard juga sudah ada. Papa akan menyampaikan amanah dari kakek kalian berdua. Papa hanya menyampaikannya pada kalian berdua." Frans Mahendra mengawali pembicaraan di ruang tengah itu. Helen hanya diam tidak ikut menyampaikan perkataan, keberadaanya disini hanya mendampingi suaminya. Sama dengan posisi Aldo saat ini,
"Malam sebelum kakek berangkat kembali ke negara Hong Kong, kakek menyampaikan pesan ini. Terimalah Richard.., Ivona.., kakek dan aku tidak mau terjadi sengketa atau konflik di antara kalian berdua di kemudian hari. Makanya selagi kakekmu masih sehat dan segar, maka kakek memberikan semua property nya pada kalian berdua. Bukalah.., papa juga tidak tahu apa isinya di dalam." sambil tersenyum, Frans meminta Richard dan Ivona untuk membuka tas tersebut. Ivona mengalihkan pandangannya pada Richard dan Aldo.
"Bukalah honey.., jangan khawatir. Ada aku disini." dengan suara lirih, Aldo menguatkan hati istrinya, Ivona dan Richard segera membuka dan mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas. Membaca dan mempelajari berkas-berkas itu sebentar, mata Ivona menjadi terbelalak. Sebuah perusahaan di Hong Kong yang bergerak pada distributor resmi persenjataan, diwariskan untuk Ivona. Selain itu juga kepemilikan beberapa property di negara tersebut, sudah dibalik nama atas nama gadis itu.
"Ini terlalu banyak.., Nana tidak dapat menerimanya." ucap Ivona lirih, kemudian meletakkan berkas dan tas di atas meja. Gadis itu bermaksud mengembalikan semua pemberian Mahendra pada papanya.
"Apakah kalian berdua akan mengecewakan kakek. Jika kalian tidak mau menerimanya, sampaikan sendiri keberatan kalian pada kakek, papa tidak mau ikut campur. Papa juga akan membagi hak kalian berdua dari papa, karena papa sudah berniat dengan Helen untuk menikmati hidup saja mulai saat ini." Frans merasa jengkel dengan Richard dan Ivona. Aldo memegang lengan gadis itu, mencoba menenangkannya.
Melihat reaksi papanya, akhirnya Richard dan Ivona tidak dapat menolak pemberian dari kakeknya. Dengan berat hati, mereka menerima pembagian asset dari Mahendra.
"Baiklah pa.., jika sudah tidak ada urusan lagi. Aldo minta ijin untuk membawa Nana pulang. Kami baru saja turun dari pesawat, Aldo yakin Nana saat ini masih merasa lelah." melihat sudah tidak ada urusan lagi, Aldo minta pamit pada Frans. Melihat putrinya sudah mau menerima pembagian asset dari Mahendra, akhirnya Frans mengijinkan pasangan itu untuk kembali ke villa. Di belakang mereka, tanpa bicara Richard mengikuti langkah mereka.
__ADS_1
*********
Setelah hampir satu tahun Aldo dan Ivona menikah, kebahagiaan kembali menghampiri mereka berdua. Dari hasil pemeriksaan dokter, Ivona dinyatakan hamil. Tanpa henti, pasangan suami istri itu mengucap syukur atas anugerah yang tanpa henti menghampiri mereka. Di ruang tengah, Aldo menciumi perut Ivona dengan perasaan gembira.
"Ada berita apa yang membuat kalian menjadi seperti ini..?" dengan heran, Richard menghampiri mereka berdua dan bertanya tentang kebahagiaan mereka.
"Kami akan segera memiliki seorang junior kak.." ucap Ivona pelan, dan kabar itu mengagetkan Richard.
"Really..., you not lie Nana..?? Congratulation.." mendengar kabar berita itu, Richard bergegas menghampiri pasangan suami istri itu. Ketiganya berpelukan erat. Dengan berkaca-kaca, Aldo terus menciumi Ivona. Laki-laki itu merasa bersyukur atas berita bahagia itu.
Tidak lama kemudian, Aldo segera mengabarkan berita bahagia itu pada keluarganya yang lain. Tuan Besar dan Nyonya Besar Girindra melakukan sujud syukur setelah mendapatkan kabar kebahagiaan itu. Tanpa memberi tahu pasangan suami istri itu, orang tua Aldo membagi donasi kepada beberapa panti asuhan sebagi wujud kebahagiaan mereka. Hadirnya generasi penerus dari keluarga Girindra sudah sangat lama mereka nantikan, sehingga kabar baik itu sangat membahagiakan mereka.
Dari tempat tinggalnya sekarang, Frans dan Helen mengucapkan selamat serta turut merasakan kebahagiaan atas akan hadirnya generasi penerus dari Frans Mahendra. Mereka berdua sebenarnya juga menginginkan lahirnya generasi baru dari perkawinan mereka, tetapi rupanya belum ada tanda-tanda kehamilan dari Helen. Sehingga begitu Ivona memberi tahu tentang kehamilannya, keluarga itu sangat bersuka cita. Demikian pula dengan keluarga Carminda dan Rafi juga mengucapkan selamat atas kebahagiaan itu, dan bahkan mengadakan acara syukuran di laboratorium tempat mereka menghabiskan masa berdua.
"Terima kasih honey.., kita akan membesarkan anak-anak kita." dengan senyuman manis, tanpa henti, Aldo menghujani Ivona dengan pelukan dan ciuman mesra. Keharuan dan kebahagiaan jelas terlihat pada keluarga ini.
TAMAT
__ADS_1
***********