
Keesokan harinya, Thomas dengan Rio pergi ke SMA Dharma Nusa untuk memintakan ijin Ivona selama 3 hari untuk tidak berangkat ke sekolah. Pada saat mereka akan menuju ke ruang guru piket, mereka berpapasan dengan Roy Kumala yang terlihat baru datang.
"Selamat pagi kak Thomas, kak Rio.." dengan hormat Roy Kumala menyapa kedua putra dari keluarga Iswara.
"Pagi.., kamu sepertinya Roy kan, putra dari rekan bisnis perusahaan Iswara. Jika orang tuamu masih ingat, kamu sepertinya sudah dijodohkan dengan adikku Ivona." ucap Rio Iswara sambil memandang Roy Kumala. Thomas hanya melihatnya.
"Hah.., tapi kenapa Ivona ya kak, bukan Vaya yang dijodohkan dengan Roy?" tanya Roy sambil senyum-senyum.
"Sudahlah Rio.., kenapa pagi-pagi harus mengurusi masalah perjodohan. Ayo segera ke ruang guru, ijinnya Ivona adalah tujuan utama kita untuk datang ke sekolah pagi-pagi begini!" Thomas yang kurang suka dengan Roy, langsung mengajak Rio untuk ke ruang guru. Dia langsung menarik tangan Rio untuk bergegas menuju ruang guru.
"Ada urusan apa kak pergi ke ruang guru?" tanya Roy pada mereka. Tetapi Thomas dan Rio sudah pergi meninggalkannya sendiri.
****************
Di dalam ruang guru,
"Kira-kira berapa hari Tuan, Ivona harus ijin dari sekolah? Karena dua hari lagi, Ivona harus ikut battle dalam mata pelajaran Fisika." pak Haryo guru mata pelajaran Fisika, menemui Thomas dan Rio.
"Battle??? Maksud bapak bagaimana ya, kami kurang begitu bisa memahami. Ataukah mungkin bapak salah orang, Vaya atau Ivona?" Rio Iswara yang akhir-akhir ini kurang mengikuti perkembangan akademik dari Ivona, dia menanyakan pada guru kelas. Begitu juga dengan Thomas.
Pak Haryo mengambil nafas panjang.
"Memangnya Ivona tidak pernah bercerita apa? Anak itu sudah saya tunjuk untuk mewakili atau sebagai duta dari mata pelajaran Fisika dari SMA Dharma Nusa. Kebetulan dalam minggu ini, ada battle mata pelajaran itu, tetapi battle dilakukan secara online sih. Jadi sebenarnya bisa diikuti dimanapun." Pak Haryo menjelaskan.
__ADS_1
Rio dan Thomas kembali saling berpandangan, mereka terlihat bodoh dan terlihat sangat kurang memperhatikan perkembangan akademik dari adik kandungnya. Mereka terlihat sangat menyesali atas kurangnya informasi mengenai adik kandung mereka. Keluarga Iswara selama ini memberikan banyak support untuk kegiatan akademik dan non akademik Vaya, tetapi malah melupakan hal-hal penting untuk putri kandung dari keluarganya.
"Apakah sudah bisa dimengerti penjelasan dari saya?" pak Haryo kembali bertanya yang mengagetkan kedua putra Iswara itu dari kebingungan.
"Syukurlah pak, jika battle diadakan secara online. Jadi dari Jakarta, Ivona adik saya tetap bisa mengikutinya." Thomas menjawab pertanyaan pak Haryo.
"Baiklah jika begitu.., tunggu sebentar!" pak Haryo meninggalkan kursinya, dia membuka lemari arsip dan mengambil satu bendel berkas.
Setelah beberapa saat, pak Haryo kembali ke tempat duduknya. Dia menyerahkan satu bendel kertas tersebut pada kedua kakak kandung Ivona.
"Ini saya titipkan materi atau kisi-kisi untuk mata pelajaran Fisika. Berikan pada Ivona, agar dia bisa mempersiapkan materi untuk battle nantinya! Kemudian setelah battle, akan ada Olimpiade Fisika tingkat nasional. Aku sangat berharap jika gadis itu juga bisa mengikutinya." Rio Iswara menerima bendel tersebut dari pak Haryo.
"Baik pak, terima kasih untuk kerjasamanya, dan juga kepercayaan untuk adik saya Ivona. Mungkin tidak bijak, jika kami berdua masih harus berlama-lama disini. Kami mohon pamit." Thomas kemudian berpamitan dengan pak Haryo.
**************
Roy Kumala segera mencari Vaya di lingkungan sekolah, dan terlihat dari kejauhan gadis itu sedang menerima panggilan telpon. Laki-laki muda itu kemudian menghampiri gadis itu, dan menunggunya sampai Vaya menyelesaikan panggilan telpon. Terlihat mata Vaya berbinar setelah dia mengakhiri telponnya, dan tampak senyum cerah menghiasi bibirnya.
"Vay.., lagi sibuk?" tanya Roy Kumala setelah Vaya terlihat menganggur.
"Untuk sekarang tidak Roy..., tapi belum tahu untuk hari-hariku di masa depan." jawab Vaya dengan perasaan bahagia.
"By the way.., what happens?? Melihat aura mukamu, pagi ini terlihat sangat cerah." dengan kepo, Roy Kumala menanyakan suasana hati Vaya.
__ADS_1
Vaya mundur sedikit ke belakang, dia segera duduk di kursi taman. Roy Kumala mengikuti apa yang dilakukan gadis itu, laki-laki itu ikut duduk di samping Vaya.
"Aku barusan dapat telpon, katanya dari pusat komputer nasional. Dia memberi tahu padaku, jika ada peneliti senior yang bernama Giandra ingin bertemu denganku. Saat aku mendesaknya, ada kepentingan apa, katanya ada kemungkinan besar aku akan direkrut oleh peneliti tersebut. Dia akan menjadikanku sebagai peneliti junior di institusinya." Vaya menceritakan isi dari panggilan telpon barusan.
Roy Kumala mengerenyitkan keningnya, dia merasa ada yang keliru dengan gadis itu. Dia saja yang memiliki kompetensi di bidang IT, dan sudah mengajukan lamaran tetapi ditolak. Sedangkan Vaya, Roy Kumala tahu persis, jika gadis itu tidak bisa di bidang itu. Dia biasa membayar orang-orang untuk mengangkat image di media sosial.
"Bentar.., bentar Vay. Apakah orang yang menelponmu barusan, itu tidak salah alamat. Dari mana mereka mendapatkan identitasmu?" tanya Roy penuh selidik.
"Ini mending cuma telpon Roy. Orang-orang itu sudah mencariku ke rumah keluarga Iswara, tetapi kebetulan aku sedang tidak ada di rumah. Jadi mereka minta nomor contact ku pada mama." Vaya masih berusaha menutupi jika saat ini dia sudah tidak tinggal di rumah keluarga Iswara.
"Begitukah?" tanya Roy, dia terlihat masih ragu dengan kemampuan Vaya di bidang IT. Tetapi laki-laki muda itu tidak mau mencari masalah dengan Vaya. Dia kemudian teringat dengan alasannya pagi ini mencari Vaya.
"Oh ya Vay..., barusan aku ketemu dengan kak Rio dan kak Thomas." kata Roy.
"Dimana kamu ketemu mereka Roy?" mendengar nama kakaknya, Vaya menjadi semakin senang.
"Di dalam sekolah ini, mereka mau ke ruang guru. Katanya mau memintakan ijin untuk Ivona, aku mendengarnya begitu sih." sahut Roy.
Mendengar perkataan Roy, raut wajah Vaya menjadi berubah. Tadi dia sudah merasa geer, jika kedua kakaknya datang ke sekolah ini untuknya. Tetapi pengharapannya itu ternyata hanya sia-sia. Vaya tidak mau terlibat lebih jauh dengan Roy untuk masalah Ivona. Dia akan mencari tahu sendiri melalui Nyonya Iswara, karena sampai saat ini mamanya itu masih sangat peduli dan memperhatikannya.
"Roy.., aku masuk ke kelas dulu ya. Ini jamnya sudah mepet, paling tidak lama lagi bel masuk akan segera berbunyi." Vaya tiba-tiba pamit dengan Roy.
"Baik Vay.., aku juga akan kembali ke kelas. Jika ada apa-apa, beri tahu aku ya!" Roy akhirnya berbalik badan menuju kelasnya. Begitu juga dengan Vaya, dengan penuh tanda tanya dia akan menelpon Nyonya Iswara.
__ADS_1
****************