
Dari luar pintu transit, Richard terkejut dengan kata-kata yang dikeluarkan dari mulut Mahendra. Tanpa permisi, Richard langsung masuk dan ikut duduk di samping Mahendra. Melihat kemunculan Tuan Mudanya.., tiba-tiba Helen menjadi gugup, mukanya merah merona menahan malu. Perempuan itu menundukkan kepala, dan memainkan kedua tangannya.
"Kakek..., apakah kakek tidak salah untuk bicara..? Lihat muka Helen kek.., tidak bisakah kakek sedikit saja menghargai perasaan perempuan." Richard tiba-tiba langsung memprotes sikap kakeknya pada Helen.
"Richard.., sekarang kakek akan tanya padamu. Kamu yang akan menikah lebih dulu atau papamu..?? Jawab sekarang!" di depan Helen, kakek langsung berbicara keras pada RIchard.
"No.., no.., no.., no.. Papa saja jika itu pilihannya kek.. Richard masih ingin memuaskan masa muda dulu, dan memcari gadis yang tepat untuk Richard." sambil tersenyum, dan menggeser tempat duduknya, Richard langsung menolak penawaran dari Mahendra. Laki-laki tua itu memelototi cucu laki-lakinya itu. Setelah beberapa saat..,
"Bagaimana Helen.., jika kamu mau, jawablah sekarang! Aku berkejaran dengan waktu.., besok sore aku sudah harus di bandara, karena malam hari aku sudah harus kembali ke negara Hong Kong. Aku tidak mau berlama-lama melihat putra dan cucu laki-lakiku tidak ada yang mengurus, Aku percaya padamu Helen.., kamu akan merawat putra dan cucuku ini dengan sangat baik." Mahendra berbicara sambil menepuk punggung Richard. Laki-laki muda itu merasa risih, mendengar perkataan kakeknya pada Helen, malah Richard yang merasa malu.
"Helen.., kamu tidak akan bisa menghindar dari kakek. Jika kamu mau dijodohkan kakek dengan papa, katakan jika kamu mau. Tetapi jika kamu menolak.., maka katakan pula jika kamu tidak mau menjalani pernikahan ini." merasa kasihan dengan Helen, Richard dengan suara tegas meminta Helen untuk segera menjawab perkataan Mahendra. Helen mengangkat wajahnya, perempuan itu menatap Richard dan Mahendra bergantian.
"Baiklah.. Helen mau dengan pernikahan ini Tuan besar dan Tuan Muda.., tapi bagaimana dengan Tuan besar Frans. Apakah Tuan Frans mau menerima Helen untuk menjadi istrinya,,?" ucap Helen tiba-tiba, dan wajah Mahendra langsung berbinar.
__ADS_1
"Itu urusanku.., kamu tidak perlu untuk memikirkannya. Beritahu keluargamu secepatnya Helen.., aku harap besok pagi kalian berdua harus sudah menikah. Aku ingin kembali ke negara Hong Kong dengan hati senang. Beritahu aku secepatnya, jika nanti kalian memiliki momongan." Mahendra langsung meminta Helen untuk menghubungi keluarganya, kemudian..
"Richard..., urus semuanya! Besok pagi pukul delapan pagi, Frans harus sudah menikah dengan Helen, atur semuanya!" dengan nada tegas, Mahendra meminta Richard untuk mengurus semuanya. Laki-laki itu seperti ketemu batunya, pada saat Ivona dan Aldo menikah, Helen-lah yang mengurus semuanya. Sekarang tatkala Helen akan menikah dengan Frans, dialah yang harus menyiapkan semuanya.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Richard menyanggupi untuk mengurus semuanya. Laki-laki itu segera menghubungi manajer hotel, untuk mempersiapkan semuanya secara mendadak. Tanpa mampu menjawab, pihak hotel langsung menyanggupi perintah dari CEO nya. Setelah mengurus semuanya dalam waktu singkat, Richard segera mengajak pulang Mahendra.
"Ayo kek.. kita harus segera pulang. Kan kakek masih harus bicara dengan papa Frans kan?? Ivona juga perlu kita beri tahu kek..., bagaimanapun gadis itu juga putri papa." dengan alasan untuk memberi tahu papanya, Richard segera memaksa kakeknya.
"Papamu sudah aku ajak bicara. Helen.., kamu hubungi keluargamu dari mansion saja. Aku khawatir kamu berubah pikiran.., sekarang juga pulanglah bersama kami." ucap Mahendra tiba-tiba.
"Helen.., kenapa kamu tidak menolak perintah kakek untuk menikah denganku?" di pinggir kolam renang, Frans mengajak Helen bicara. Seperti yang tadi dikatakan Mahendra, Richard langsung membawa pulang Helen ke tempat tinggal papanya. Merasa tidak nyaman tinggal serumah dengan sekretarisnya, Richard mengalah pulang ke villa Aldo dan Ivona. Sebenarnya laki-laki muda itu sudah melajukan kendaraan menuju mansionnya sendiri, tetapi di tengah jalan, laki-laki itu memutar balik dan melajukan mobil ke arah bukit.
"Bagi Helen sama saja Tuan.., bisa mendampingi Tuan Besar dalam pernikahan nanti, merupakan kehormatan bagi saya Tuan. Semoga Tuan tidak akan menyia-nyiakan Helen nantinya." ucap Helen pelan sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi usia kita berselang 20 tahun Helen.., apakah kamu tidak malu menikah dengan laki-laki yang pantas untuk menjadi papamu." Frans berusaha mengukur kedalaman hati perempuan itu, Karena sudah tidak bisa menolak permintaan dari Mahendra, Frans berpikir akan bisa menolaknya melalui Helen.
"Sepertinya tidak pas jika kita membicarakan usia Tuan. Usia Helen saat ini juga sudah 32 tahun, dan itu merupakan usia yang lambat untuk seorang perempuan yang belum menikah. Bisa menikah dengan Tuan Frans yang terhormat, sudah merupakan kebanggaan bagi Helen, tidak ada lagi yang akan Helen pikirkan lagi." tanpa diduga, Helen menyetujui pernikahan itu tanpa paksaan, bahkan perempuan itu tidak mempedulikan lagi masalah jarak usia antara dia dengan Frans.
Tiba-tiba tanpa ada yang menduga, Frans mengambil tangan Helen kemudian mencium punggung tangan perempuan itu. Hati helen berdegup kencang, baru pertama kalinya Helen merasakan perhatian lebih dari seorang laki-laki. Bukannya tidak ada laki-laki yang mencoba untuk mendekatinya, tetapi Helan memang yang belum memiliki minat untuk lebih dekat dengan laki-laki selama ini.
"Bantu aku Helen untuk melupakan Carminda..., kamu tahu kan, siapa perempuan yang selalu ada di hati ini." ucap Frans perlahan, dan Helen dengan cepat menganggukkan kepala. Perempuan itu bertekad untuk membuka hati Frans pelan-pelan.
Malam semakin larut, dua orang berpelukan erat di pinggir kolam. Lampu temaram menambah romatisme calon pengantin itu. Dari dalam rumah, Mahendra tersenyum melihat keintiman Frans dan Helen, laki-laki tua itu memberi isyarat pada semua pelayan untuk tidak mengganggu atau mengejutkan mereka berdua.
"Helen.., malam sudah semakin larut. Ayo kita segera masuk ke dalam kamar.., untuk membiasakan diri ke depannya, bagaimana jika malam ini kita tidur berdua? Aku tidak akan mengganggumu, aku akan tidur di sofa, kamu tidurlah di atas ranjangku." Frans mengajak Helen untuk segera masuk ke dalam kamar. Mendengar perkataan vulgar laki-laki yang akan menikahinya itu, Helen menjadi kaget. Tetapi dengan cepat perempuan itu menganggukkan kepala.
Frans merangkul pinggang Helen dan membawa perempuan itu masuk ke dalam. Tidak perlu menunggu esok hari, Frans langsung membawa Helen untuk masuk ke dalam kamarnya. Dengan penuh rasa malu, Helen berusaha menguatkan hati dan perasaanya, perempuan itu mengikuti langkah Frans yang membimbingnya.
__ADS_1
Tidak membohongi apa yang baru saja dia katakan, Frans mendudukkan Helen di atas ranjang, sedangkan Frans segera duduk di atas sofa panjang yang ada di kamarnya. Keduanya malam ini berada dalam satu kamar yang sama, tetapi tidak ada interaksi intim di antara mereka.
*******