
Tanpa bisa dicegah, pagi hari sebelum orang-orang beraktivitas, Ivona sudah meninggalkan apartemen. Gadis itu bahkan tidak menunggu Kim melakukan penjemputan padanya, khawatir Marcus akan menggagalkan rencananya, Ivona memilih taksi untuk mengantarkan ke laboratorium terpadu. Gadis itu tersenyum kecut, ketika taksi yang membawanya meninggalkan apartemen. Dia harus melupakan impian dan masa mudanya.., hanya untuk mengetahui jati diri sebenarnya.
"Miss..., you have arrived at your destination." tergagap Ivona mendengar supir mengatakan jika tujuannya sudah sampai.
"Okay..., thank you. I've already made the payment online." sambil mengangkat barangnya, Ivona memberi informasi jika sudah melakukan pembayaran secara online.
"Yup.., thank you miss." Ivona segera keluar dari dalam mobil. Petugas jaga di pintu kedatangan segera membukakan pintu gerbang, begitu mengetahui Ivona yang datang. Ivona segera memasuki gerbang, dan melihat gadis itu membawa trolly bag, petugas jaga membantu membawakan tas Ivona.
"Terima kasih pak.." Ivona berjalan di belakang petugas jaga itu sampai di depan pintu masuk.
Setelah memasukkan tas bawaan gadis itu, petugas jaga kembali keluar ruangan. Ivona membuka surat penempatan yang diberikan Tuan Marshall kemarin siang.
"Unit C Blok D Ruang laboratorium VI." tertera bacaan tempat dimana tempat Ivona saat ini ditempatkan. Tanpa menunggu rekan-rekan kerja lamanya, Ivona mengamati denah ruang yang ada di depan pusat informasi.
"Berarti aku harus lurus mengikuti jalan ini, kemudian ambil kanan. Aku bisa bertanya pada petugas jaga disana." gumam Ivona. Akhirnya dengan menarik trolly bag, Ivona berjalan lurus mengikuti petunjuk arah yang baru saja dia baca.
Setelah berjalan kurang lebih 50 meter menyusuri koridor, Ivona langsung belok ke kanan dan lurus mengikuti jalan. Tidak berapa lama, gadis itu sampai di pintu yang membatasi area terlarang, dengan tulisan besar forbidden area. Setelah tengak-tengok mencari petugas jaga.., dari dalam tiba-tiba pintu terbuka.
"Miss..., tidakkah anda membaca tulisan ini?" petugas tersebut menunjukkan tulisan forbidden area. Ivona tersenyum, kemudian mendatangi petugas itu dan menyerahkan berkas yang dia bawa pada orang tersebut. Petugas jaga itu mengambil berkas dari tangan Ivona kemudian membacanya. Setelah beberapa saat..,
__ADS_1
"Maaf Miss.., karena belum ada surat rekomendasi dari unit ini. Mari silakan masuk.. aku akan membawa Miss Ivona ke ruang isolasi dulu. Apalagi jam kerja juga belum mulai.." petugas berubah menjadi ramah setelah membaca surat rekomendasi penempatan Ivona di unit itu. Sambil mengajak Ivona, petugas itu berjalan di depan gadis itu dan membawanya ke sebuah ruangan tertutup.
"Miss Ivona bisa menunggu Madam Theodora sebentar, beliau penanggung jawab laboratorium utama. Biasanya Madam datang lebih awal dari pegawai laboratorium yang lain." petugas membukakan pintu, dan sebuah ruang tamu yang masuk kategori mewah terlihat di depan mata Ivona. Mungkin untuk mengurangi kejenuhan pegawai disitu, semua fasilitas dilengkapi untuk dapat digunakan semaksimal mungkin.
"Terima kasih pak.., saya akan duduk dulu di sofa sambil membuka iPad saja." Ivona mengucapkan terima kasih pada petugas yang sudah dengan ramah mengantarkannya, gadis itu kemudian duduk di atas sofa.
"Tidak masalah Miss. Oh ya.. untuk minuman pagi, apakah ingin menikmati hot tea atau hot coffee?" sebelum pergi, petugas menanyakan minuman yang dikehendaki Ivona.
"Hot coffee saja." jawab Ivona singkat. Petugas jaga itu kemudian meninggalkan Ivona sendiri yang mulai membuka iPad di atas sofa.
************
"Maaf Tuan.., dalam daftar kami memang tidak ada nama tamu dengan nama Ivona Carminda." petugas lobby memberikan keterangan yang sama pada kedua laki-laki itu. Aldo dan Richard berpandangan.
"Jika begitu.., apakah ada penghuni yang berasal dari negara Indonesia?? Mungkin saja gadis ini booking apartemen menggunakan nama orang lain." Richard mengejar petugas lobby.
"Sebentar.., saya akan buka database terlebih dahulu." petugas lobby kembali melihat layar komputernya.
Aldo mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tiba-tiba matanya menangkap seorang laki-laki yang sedang tergesa-gesa keluar dari lobby lift. Tanpa memberi tahu Richard.., Aldo langsung berlari mencegat laki-laki itu. Richard langsung mengejar Aldo dan ikut mendatangi laki-laki yang ternyata Dokter Marcus.
__ADS_1
"Dokter Marcus..., ada apa kamu disini?" sergah Richard sambil memegang kedua bahu laki-laki itu. Wajah Marcus terlihat cemas dan khawatir.
"Not your business.. untuk apa kalian berdua berada disini?" Marcus balik bertanya pada Aldo dan Richard. Matanya memindai dua pengusaha muda dari Indonesia itu.
"Dokter Marcus.., kita tidak perlu untuk berbasa-basi. Kedatangan kami sampai ke negara ini adalah untuk menemukan Dokter Ivona Carminda. Dimana kamu menyembunyikan gadis itu?" tidak mau membuang-buang waktu, Richard langsung bertanya langsung ke poin utama.
"Ha.., ha.., ha..., lucu, lucu. Ada hubungan apa kalian berdua dengan gadis itu. Sampai kalian berdua, meluangkan waktu kalian untuk mengejar gadis itu sampai ke Hong Kong. Sebagai sahabat dan orang terdekatnya, jikapun aku tahu, aku juga tidak akan memberi informasi keberadaan gadis itu pada kalian berdua." sambil tertawa ngakak, Marcus mentertawakan Richard dan Aldo. Ternyata bukan hanya dia saja yang merasa kehilangan Ivona, tetapi dua pengusaha besar itu juga merasakan hal yang sama.
"Bukkkk..., aaaw.." tanpa diduga, Aldo melayangkan pukulan ke rahang Marcus, dan laki-laki itu kaget sampai berteriak.
"You're crazy man.." Marcus berteriak keras, darah mengalir di sudut mulut laki-laki itu. Richard juga merasa kaget dengan tindakan anarkis yang dilakukan Aldo. Laki-laki itu segera memegangi tangan Aldo. Mata merah kemarahan Marcus memindai wajah Aldo, dan saat Marcus akan membalas pukulan itu, dua orang petugas keamanan apartemen berlari mendatangi mereka.
"Hey.. stopped. No messing around in this apartment!" petugas keamanan berteriak melarang mereka membuat kekacauan di apartemen. Richard langsung mendekati kedua petugas keamanan itu.
"Leave us alone. We'll sort this out ourselves." Richard mengajak bicara petugas keamanan, dan menyampaikan jika mereka bisa mengatasi masalah sendiri. Kedua petugas keamanan itu saling berpandangan, kemudian pergi meninggalkan mereka.
Richard menengahi Aldo dan Dokter Marcus, bagaimanapun mereka berasal dari negara yang sama. Tidak akan etis, jika mereka berkelahi di apartemen itu.
"Ayo kita duduk dan bicara! Jangan seperti anak kecil, bertindaklah layaknya laki-laki dewasa." dengan suara pelan, Richard mengajak Marcus dan Aldo untuk bicara.
__ADS_1
*************