
Ivona terbangun dari tidurnya, terlihat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Gadis itu tersenyum melihat Aldo yang masih tertidur nyenyak di sampingnya. Tiba-tiba Ivona mendengar suara kegaduhan di luar.., tidak mau berpikir panjang gadis itu melepaskan tangan Aldo yang membelit pinggangnya. Setelah terlepas, dengan tertatih, Ivona segera masuk ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Ivona memenuhi bath-up dengan air hangat. Melihat ada aroma theraphy di samping tempat bath soap, perlahan gadis itu menaruh beberapa tetes ke dalam air yang sudah memenuhi bath-up. Perlahan Ivona segera masuk dan berendam di dalam bath-up sambil menyandarkan kepala. Beberapa saat Ivona merasakan kehangatan air, dan ketenangan dalam mandi berendamnya.
"Tok.., tok.. tok.., honey..." tiba-tiba terdengar suara Aldo memanggilnya dari luar kamar mandi.
"Ivona baru berendam kak.., tunggu sebentar." Ivona menjawab suara Aldo, dan meminta laki-laki itu untuk menunggu.
"Aku akan mandi di kamar mandi kamar tamu saja. Baju gantimu sudah aku siapkan di wardrobe, pilih sendiri ya. Pastikan sudah mengenakan baju, jika mau keluar dari dalam kamar." Aldo meninggalkan pesan, kemudian melangkah pergi keluar dari dalam kamar.
Ivona melanjutkan berendam sebentar, kemudian segera melanjutkan ritual mandi. Setelah beberapa saat, Ivona mengakhir mandi dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Beberapa baju karya desainer ternama lengkap dengan pakaian dalam ukuran Ivona tertata rapi di almari dinding yang ada di kanan kiri ruangan depan kamar mandi. Setelah mengambil salah satu dan mengenakannya, Ivona mengagumi sendiri penampilannya di depan cermin.
"Baju ini ternyata sangat pas dengan ukuran tubuhku.., ternyata kak Aldo bisa mengingat ukuranku." ucap lirih Ivona sambil tersenyum. Perlahan gadis itu segera keluar dari kamar mandi, kemudian setelah menyisir rambut dan menghias diri dengan riasan tipis, Naura keluar dari kamar. Terlihat Aldo juga baru keluar dari kamar tidur yang ada di sebelah kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Gila...., kalian berdua ini apakah sedikitpun tidak punya hati untuk orang lajang sepertiku...?" tiba-tiba dari arah ruang tamu, terlihat Richard berteriak. Jari tangannya menunjuk pada pakaian dalam Ivona dan Alexander yang bertebaran dan belum sempat disingkirkan di ruang itu. Muka Ivona terlihat merah padam, kegilaan Aldo yang menyobek pakaian dalam dan kaos yang tadi dikenakan belum sempat dia singkirkan. Ivona baru ingat, jika semua pelayan dan penjaga sudah diusir sementara oleh Aldo agar tidak mengganggu mereka dalam menikmati bulan madu. Dengan tertunduk malu, Ivona menyingkirkan pakaian yang berserakan itu kemudian membawanya ke tempat pakaian kotor.
"Sudah.., lagian kalian kenapa juga datang kemari?? Apakah kalian lupa atau pura-pura tidak tahu, jika kami sedang berbulan madu?" tanpa merasa malu, Aldo malah langsung menjatuhkan pantatnya ke atas sofa, dan langsung bersandar.
"Kamu itu yang tidak tahu diri Aldo. Kamu meninggalkan kami semua mengurusi tamu undangan. Bayangkan betapa repotnya kami menjawab dan menemui para tamu, jika pengantinnya malah pergi melarikan diri. Jika tidak ingat jika Ivona adalah adikku.., sudah aku hajar kalian berdua." Richard tidak mau kalah, dia malah balik memarahi tingkah Aldo, yang langsung membawa Ivona pergi dari pesta perkawinannya.
Tiba-tiba terdengar lagi suara mesin mobil berhenti, dan tidak lama kemudian muncul Marcus dan Ester di belakangnya dengan membawa Dokter Rafi dan Nyonya Carminda masuk ke dalam. Aldo yang sudah akan membalas perkataan Richard menjadi terdiam, ketika melihat mertuanya datang memasuki rumah.
"Aldo... your house is very beautiful. There are many open areas with views of the blue sea down there." terdengar suara Dokter Rafi yang memuji rumahnya dengan konsep terbuka. Laki-laki paruh baya itu langsung keluar dari pintu samping, dengan takjub laki-laki itu memandang lautan biru di bawah sana.
Akhirnya apa yang sudah direncanakan Aldo sebelumnya menjadi bubar. Dokter Rafi dan Nyonya Carminda memutuskan untuk menginap di villa bersama dengan mereka, sampai mereka akan kembali ke negara Hong Kong. Ester dan Dokter Marcus juga masih terlihat enggan untuk meninggalkan rumah itu, mereka malah membuat pesta barbeque kecil-kecilan di pinggir kolam renang.
"Marcus.., Ester..., tidak perlu pulanglah. Tidurlah kalian disini.., kak Aldo menyiapkan banyak kamar kosong di villa ini. Ambil satu kamar disini untuk kalian.., anggap sajalah kalian bulan madu juga disini." Ivona melarang Marcus dan Ester untuk kembali pulang ke apartemennya. Ester menoleh ke arah Marcus yang sedang membolak-balik daging steak di depannya.
__ADS_1
"Jika kamu tidak keberatan Ester..., kita bisa menginap disini. Apalagi aku masih berutang penjelasan juga dengan Ivona. Tidak jealous kan kamu dengan Nana ..., Ester?" sambil menggoda istrinya, Marcus bertanya pada perempuan yang belum lama dia nikahi itu.
"Ya pasti tidaklah.. Jika Nona Ivona mau denganmu, nona pasti sudah mengejarmu dari dulu. Buktinya.., malah Nona Ivona memintamu untuk mengejarku sampai malam-malam di Sembalun." melihat maksud suaminya yang hanya menggoda, Ester menanggapi dengan santai. Ivona tersenyum mendengar semuanya.
Di kursi panjang pinggir kolam, tampak Dokter Rafi sedang menyuapi Nyonya Carminda dengan penuh kelembutan. Richard sebenarnya iri dengan pemandangan malam itu. Tetapi memang dia juga tidak bisa menyalahkan Ivona, jika sampai malam ini, Ivona belum bisa menerima kakek dan papanya dengan hati terbuka. Luka yang ditimbulkan oleh kedua orang itu memang terlalu menyakitkan. Gadis itu tumbuh besar tanpa sedikitpun perhatian dari seorang laki-laki, dan meskipun saat ini gadis itu sudah menemukan kakek dan papa kandungnya, tetapi belum bisa menerimanya dengan segenap hati.
"Ada apa Richard..., apakah ada yang kamu pikirkan?" tiba-tiba Aldo sudah duduk di samping Richard. Melihat laki-laki itu dari tadi melamun dan duduk sendiri, membuat Aldo mendatangi dan menemaninya duduk. Richard menoleh dan tersenyum pada Aldo, kemudian laki-laki itu menyesap minuman yang sejak tadi ada di tangannya.
"Aku iri dengan semua kebersamaan ini Aldo. Andaikan kakek dan papa juga bisa berada disini.., mereka berdua pasti akan sangat bahagia." ucap Richard perlahan. Matanya masih melihat ke arah Ivona dan Donny yang sedang membakar daging bersama dengan Marcus.
"Itu pemikiranmu sendiri kan Richard.. Apakah kamu tidak kasihan dengan papa, jika melihat mama Carminda dengan papa Rafi selalu bersama seperti itu. Papa Rafi memang sangat memanjakan dan menyayangi mama Carminda.., kamu bisa melihatnya dari setiap sentuhan dan perlakuan laki-laki itu pada mama." tiba-tiba Aldo mengingatkan hubungan rumit dalam keluarganya.
"Benar juga yang kamu katakan Aldo.. Papa akan sangat terpukul melihat kedekatan Nyonya Carminda dengan Dokter Rafi. Tapi aku juga tidak akan bisa menghalangi mereka." akhirnya Richard bersuara pelan sambil melihat pada interaksi Dokter Rafi terhadap Nyonay Carminda.
__ADS_1
*********