Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 226 Semuanya Sama


__ADS_3

Mata Aldo terbelalak melihat seorang gadis muda yang terlihat mungil sedang mengenakan kemejanya. Kemeja itu jatuh pas di lutut Ivona.., dengan rambut terbungkus handuk di atas kepalanya. Tatapan Aldo seperti menembus semua dalaman Ivona.., karena gadis itu tidak mengenakan apa-apa di dalam kemeja yang dikenakannya. Tetesan air yang mengalir di pipi Ivona.., sedikit membius dan melenakan Aldo. Laki-laki muda itu tiba-tiba merasakan nafasnya menjadi sesak, bagian tubuh yang ada di bawah perutnya tiba-tiba terasa sesak dan membesar. Tatapan tajam matanya tidak mau berpindah dari wajah gadis muda di depannya itu, yang juga melihatnya dengan pipi bersemburat merah.


Tidak tahu siapa yang memulai, dua tubuh laki-laki dan perempuan itu tiba-tiba menyatu. Mereka berpelukan erat, seperti berusaha melepaskan rasa rindu yang sangat berat untuk mereka rasakan. Bibir kenyal Aldo tiba-tiba sudah berada di bibir Ivona, dan semua terasa benar-benar memabukkan. Tanpa ada rasa malu sedikitpun, Ivona meraup dan menghisap kelembutan yang diberikan oleh laki-laki yang ada dalam pelukan itu. Begitu juga dengan yang dirasakan Aldo.., pagutan dan belitan lidah keduanya menandakan ungkapan kerinduan saat mereka bertemu. Tiba-tiba...


"Tok.., tok.., tok..." ketukan pintu kamar mengagetkan mereka, dan Bibi Ijah terpaku memandang pasangan itu sedang bersatu di depan pintu kamar mandi.


Sejenak Ivona tersadar.., kemudian gadis muda itu mendorong Aldo dari pelukan di tubuhnya. Dengan muka merah, Ivona menghampiri Bi Ijah yang masih berdiri ketakutan di depan pintu. Perempuan tua itu sudah yakin, jika setelah ini dia akan mendapatkan hukuman berat dari Tuan Muda. Bahkan mungkin dia akan dipecat, dan tidak akan diperbolehkan lagi untuk bekerja di rumah ini. Padahal bekerja di mansion ini, menjadi impian banyak orang. Pagi ini karena keteledorannya, dia akan dipecat dan diberhentikan.


"Bibi.., apakah Bibi bisa meminjamkan pakaian bibi untuk Ivona?" tiba-tiba suara gugup Ivona menyadarkan Bi Ijah dari lamunannya. Perempuan paruh baya itu melihat ke wajah gadis muda itu, dan semburat warna pink terlihat jelas menghiasi pipi gadis itu.


"Pakaian bibi..??? Apakah Nona Muda tidak salah... bukannya Tuan Muda.." belum selesai Bibi Ijah bicara, terlihat Aldo meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya yeng menandakan agar Bi Ijah untuk diam.

__ADS_1


"Iya Bi.., soalnya Ivona tidak memiliki baju ganti. Nanti sebentar lagi, akan Ivona kembalikan, setelah Ivona keluar dari rumah ini. Ivona akan langsung membeli pakaian, karena semua pakaian Ivona pasti sudah ludes terbakar." ucap Ivona lirih, saat gadis itu kembali mengingat kebakaran yang sudah melanda rusun tempatnya tinggal selama ini.


Melirik Tuan Mudanya yang terus menatapnya, membuat Bibi Ijah takut untuk berbicara panjang dengan gadis itu.


"Maaf Nona Muda.., pakaian Bibi tidak ada yang cocok untuk Nona Muda. Saat ini kan Nona Muda sudah mengenakan pakaian Tuan Muda.., dan pakaian ini terlihat sangat cantik di tubuh Nona Muda. Percaya pada Bibi Non.." ucap Bibi Ijah akhirnya, dan perempuan paruh baya itu melirik terlihat senyum mengembang di bibir Tuan Mudanya.


"Ya sudah Bi.., jika Ivona bisa minta tolong. Bisakah Bibi mencucikan pakaian Ivona yang ada di kamar mandi, Ivona akan menunggunya sampai pakaian itu kering. Setelah itu Ivona baru akan pergi dari rumah ini." melihat kekhawatiran di wajah Bibi Ijah, akhirnya Ivona mengalah. Dia meminta perempuan paruh baya itu untuk mencucikan bajunya, dan akan memberinya sedikit uang jika pekerjaannya sudah selesai.


"Baik Nona Muda.., jika pekerjaan itu akan Bibi lakukan. Permisi Non.., saya ambil dulu pakaiannya di kamar mandi." perempuan paruh baya itu segera masuk ke kamar mandi. Tidak lama kemudian, Bibi Ijah sudah membawa pakaian kotor Ivona dan langsung minta ijin untuk mencucinya di luar.


***********

__ADS_1


"Jika kamu merasa nyaman dengan pakaian yang kamu kenakan saat ini, pakailah. Aku mengijinkannya, tapi jika kamu merasa kurang nyaman, gantilah. Aku sudah menyiapkan pakaianmu di dalam walk in closet." suara pelan Aldo menyadarkan Ivona. Gadis itu memberanikan diri menatap pada laki-laki muda itu, dan Aldo tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Tidak mau berlama-lama di depan Aldo.., Ivona bergegas menuju tempat yang ditunjukkan Aldo. Perlahan gadis muda itu segera masuk ke dalam closet, dan mata Ivona seketika terbelalak. Banyak pakaian dan gaun wanita, lengkap dengan pakaian dalam, sepatu dan tas terkoleksi dalam walk in closet. Ketika Ivona mengamati.., semua pakaian itu terlihat masih baru. Karena masih terpasang name tag dari brand butik yang memproduksi pakaian-pakaian itu. Tidak mau banyak berpikir, Ivona segera mengambil sebuah gaun dengan panjang baju jatuh sedikit di bawah lututnya. Begitu juga dengan pakaian dalam, semuanya masih baru dan yang membuat gadis itu terkejut semuanya satu ukuran, sesuai dengan ukuran baju dalamnya.


"Apakah kamu membutuhkan bantuanku??" tiba-tiba Ivona terkejut dengan suara laki-laki muda itu, yang sudah berdiri di belakangnya. Tanpa banyak bertanya, Aldo mengambil pakaian dalam dan pakaian yang dipegang oleh Ivona. Sebuah gunting digunakan Aldo untuk memotong name tag dari kertas, dan menyerahkan pakaian itu pada Ivona.


"Segera kenakan, sebelum aku berubah pikiran.." Aldo berbisik dan tersenyum smirk di telinga Ivona.., dan getaran serta gelenyar alih terasa mengalir di tubuh gadis muda itu. Tanpa banyak bicara, kedua tangan Ivona mendorong tubuh Aldo keluar dari walk in closet.


"Ha.., ha..., ha..., kamu terlihat sangat lucu honey.." terdengar suara tertawa Aldo. Tetapi Ivona tidak mau mendengarkannya, gadis itu langsung mengenakan pakaian.  Setelah beberapa saat Ivona keluar dari dalam walk in closet, dan mata Aldo semakin takjub dan tidak mau berkedip memandangi mata Ivona.


"Sisirlah rambutmu dulu.., dan sudah aku siapkan make up untukmu. Semoga sesuai dengan merk yang kamu gunakan." Ivona menatap Aldo sebentar, kemudian mendatangi meja dan cermin untuk merias dirinya. Hati Ivona seperti berhenti berdetak, melihat merk parfum, dan make up yang disiapkan Aldo sama persis dengan merk yang selalu dia gunakan di kehidupan sebelumnya maupun saat ini. Dengan hati sesak berusaha menahan emosionalnya, Ivona mengambil sisir kemudian perlahan gadis itu mulai menyisir rambutnya.

__ADS_1


"Kamu adalah Ivonaku.., kamu tidak akan dapat melarikan diri dariku lagi honey..." gumam Aldo lirih, dan tatapannya tidak mau berpindah dari Ivona.


***********


__ADS_2