
Mendengar jawaban Thomas, Nyonya Iswara menjadi naik darah. Dia tidak ingin kedudukan Vaya di rumah keluarga Iswara, dengan entengnya digantikan dengan gadis kampungan Ivona. Dia sudah merawat, menyusui, dan membesarkan gadis itu sehingga menjadi gadis yang memiliki talent dan berbagai prestasi akademik lainnya. Tiba-tiba mereka harus kedatangan Ivona, dan menggantikan posisi Vaya dengan Ivona. Bukannya Nyonya Iswara tidak berusaha menyayangi Ivona, tetapi dia tidak dapat membohongi hati nuraninya sendiri. Jika sampai saat ini, dalam hatinya masih Vaya yang memiliki porsi lebih besar dibanding Ivona anak kandungnya.
"Tapi kamu harusnya juga tahu Thomas, dari bayi Vaya sudah menjadi putri mama, bukan Ivona. Begitupun kamu dan adik-adikmu, kamu tidak pernah memiliki Ivona, hanya Vaya yang kamu miliki." Nyonya Iswara terdengar memarahi Thomas.
"Baik ma..., tapi apakah selamanya semua yang seharusnya menjadi milik Ivona, harus menjadi milik dan hak dari Vaya. Tidak bisakan mama berlaku dan memberikan keadilan juga untuk Ivona??"
"Jaga bicaramu Thomas!!! Pelan-pelan kita akan mengaturnya. Yang terpenting saat ini, dan yang akan ada di depan mata adalah Vaya adikmu akan mengadakan tur piano. Kamu harus membuatnya agar tur itu berjalan dengan sukses, dan kesuksesan Vaya juga merupakan kesuksesan dari Keluarga Iswara."
"Jika mama berpikiran begitu, saat ini apa yang harus kita lakukan pada Ivona?"
"Biarkan dulu Ivona!! Setelah tur piano Vaya berakhir, kita akan membicarakannya lagi. Sekarang mama minta, kamu harus menghapus postingan kamu di media sosial."
"Kenapa segitunya sih mama itu memperlakukan Ivona. Ingat ma..., siapa sebenarnya Ivona itu bagi mama, bagi kita semuanya di rumah. Apa-apa Vaya.., semuanya untuk Vaya. Kapan Thomas bisa mendengar, ini semua kita siapkan untuk Ivona."
"Suatu saat Thomas.., tapi untuk sekarang mama belum bisa mendahulukan Ivona daripada Vaya. Aku harap kamu bisa memahami mama."
"Mama itu terlalu paranoid, yang selalu dibutakan dengan kesuksesan dan nama sesaat. Tidak berpikir jika semuanya akan dengan mudah hilang begitu saja. Apakah mama lupa atau tidak tahu sebenarnya siapa yang menjadi anak kandung mama, Vaya atau Ivona."
Nyonya Iswara terdiam sebentar, dia merasa mendapatkan pukulan telak dari putranya.
"Thomas..., kamu juga harus ingat nak, jika sampai orang-orang tahu bahwa Ivona adalah adik kandungmu, apa yang akan kamu dapatkan?? Kamu hanya akan mendapatkan cemoohan, dan Ivona hanya akan mempermalukan kamu, Ingat itu!"
__ADS_1
"Coba kamu bandingkan dengan Vaya sekarang!! Apa yang tidak bisa dilakukan oleh anak itu. Sudah pintar, dan berprestasi serta memliki bakat yang bagus." lanjut Nyonya Iswara lagi.
Mendengar ucapan Nyonya Iswara yang selalu membandingkan dan menilai antara Vaya dan Ivona, menjadikan Thomas sedih dan bermuka muram. Dia langsung megakhiri panggilan telpon secara sepihak. Thomas terdiam, dan duduk di kursi yang berada di luar ruang pelatihan sendiri. Dia tampak bermuran durja, dan mukanya penuh dengan rasa kekhawatiran akan adik kandungnya Ivona.
"Jika aku mengunggah screenshoot chat yang kukirimkan pada Ivona, hanya akan membuat orang mencari tahu tentang siapa anak itu. Kemudian mereka akan membandingkan antara Vaya dan Ivona jika mereka mengetahui jika Ivona adalah adik kandungku. Dan itu semua akan merendahkan harga diri Ivona."Thomas berpikir sendiri tentang screenshoot di media sosial.
Thomas mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali. Dia kemudian kembali masuk ke akun media sosialnya, dan dengan wajah muram dia menghapus screenshoot tersebut. Setelah screenshoot dihapusnya, dia kemudian masuk ke daftar pertemanan dan tanpa pikir panjang langsung melakukan unfollow pada Vaya.
Dunia internet kembali menjadi heboh, banyak mention yang dilakukan para fans Vaya yang berkomentar tentang Thomas melakukan unfollow akun Vaya dari daftar pertemanannya.
"Apa yang kamu lakukan @ Thomas?? Apakah Vaya melakukan kesalahan padamu wahai kakak yang terkasih?"
Melihat komentar para fans Vaya yang melakukan protes padanya, Thomas menjadi naik darah. Dia kemudian memblock akun fans-fans Vaya, sehingga tidak bisa melakukan mention atau mengirim apapun padanya. Setelah membereskan urusan internet, Thomas kemudian menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke saku. Dia kemudian berjalan keluar untuk menghirup udara segar, dan keluar dari kamp pelatihan. Sepertinya saat ini, dia membutuhkan refreshing.
*******
SMA Dharma Nusa.
Suasana di kelas G pada pagi hari sudah terlihat ramai. Beberapa murid duduk bergerombol saling berbincang-bincang dan bersenda gurau sambil menunggu Guru kelas memasuki kelas.
"Hey jangan lupa lho untuk membawa buku Fisika!! Jika lupa tidak membawa, sana ke perpustakaan sekarang untuk meminjamnya!! Bisa-bisa kena hukuman dari pak Haryo." beberapa murid saling mengingatkan murid yang lain.
__ADS_1
"Aku sudah pasti bawa ya. Pertama kali malahan aku memasukkannya ke tas. Aku juga tidak mau, kena apes seperti William dan gadis yang duduk disampingnya itu." sahut salah satu murid.
"Iya..busyet dah. Beneran jangan sampai kita terkena juga. Tiga kali Bro.., diminta membuat rangkuman buku Fisika. Satu kali saja.., jari-jari tanganku sudah keriting, apalagi sampai tiga kali. Bisa-bisa paginya aku jadi tidak bisa menulis lagi."
"Ha..ha..ha..., dasar kamu pemalas, bilang saja kamu malas nulisnya, iya kan?"
"Kalau nulis mah aku rajin..., tapi ya ada takarannya dong. Kalau merangkum tiga kali untuk mata pelajaran dan buku yang sama..., itu namanya sudah over dosis. Nyerah dah aku!"
Tiba-tiba mereka melihat William, yang berjalan memasuki kelas dengan tidak bersemangat. Dia masih terlihat mengantuk, karena semalaman dia harus menyelesaikan tugas merangkum buku Fisika yang diberikan pak Haryo. Menjelang dini hari dia baru bisa tidur, dan hanya memiliki waktu beberapa jam untuk tidur sampai harus berangkat sekolah di pagi ini.
"Will..., kamu kenapa??? Matamu seperti mata panda saja, terlihat lebih tua tahu." celetuk teman laki-laki menggoda William.
"He..he..he.. iya, kenapa matamu bisa berkantung dan gelap kawan?" lanjut teman lainnya lagi.
"Memangnya kamu semalam menghabiskan waktu berkencan dengan seorang gadis? Siapa Will.., Ladies Club atau teman dari sekolah kita?" sahut teman laki-lakinya yang lain.
"Yuhuuuu..., asyik sekali kalau berkencan dengan seorang gadis semalaman. Biar mengantuk pun, aku juga rela dan mau untuk menjalani."
Mendengar hal perkataan temannya yang terakhir, darah mulai mengalir ke kepala William, tapi melihat gadis yang duduk di sampingnya itu sedang memasuki kelas, William hanya meliriknya dengan dingin. Dia mencoba menahan diri untuk tidak memaki teman yang menggodanya. Akhirnya untuk mengendalikan emosinya, William menyandarkan kepalanya di atas meja, kemudian memejamkan matanya sambil menunggu pak Guru Fisika datang ke kelas.
****************
__ADS_1