Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 116 Tangga Lagu


__ADS_3

Sesampainya di pinggir jalan samping sekolah, Ivona segera membuka aplikasi untuk memesan mobil ojek online. Setelah beberapa saat, dengan menaiki mobil ojek online, Ivona akhirnya sampai di restaurant Madam Lie. Sebelum turun dari mobil, dia sengaja menutup seragam sekolah yang dia kenakan dengan menggunakan jaket. Dia berencana akan ganti pakaian setelah sampai di dalam restaurant.


"Makasih ya pak," Ivona mengucapkan terima kasih pada driver ojek, dia langsung keluar dari mobil.


"Sama-sama mbak."


Baru saja lima langkah Ivona berjalan, dia menghentikan langkahnya.


"Guk.., guk.., guk..." Ivona melihat Max berlari menghampirinya dari halaman parkir mobil. Gadis itu langsung duduk berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya. Max anjingnya di masa lalu, langsung menubrukkan tubuhnya ke pelukan gadis itu.


"Kamu sudah semakin gemuk saja anjing pintar." ucap Ivona sambil mengusap-usap kepala Max.


Beberapa saat Ivona melepas kangen dengan Max di halaman parkir restaurant Madam Lie. Orang-orang yang berjalan disitu melihati mereka, tetapi seperti biasa Ivona tidak akan pernah mempedulikan hal tersebut.


"Max..., kenapa kamu selalu meninggalkan aku sendiri? Kamu tidak sayang padaku lagi ya?" tiba-tiba Tuan Muda kecil adiknya Alexander langsung menubruk anjing milik Ivona itu.


Ivona segera memundurkan dirinya. Melihat pemandangan di depannya, Ivona tersenyum. Tiba-tiba dia ingin menggoda adik dari Alexander itu.


"Hai.. Evan. Kita ketemu lagi, dulu kan kakak pernah bilang padamu jika akan meminjamkan Max padamu untuk sementara waktu. Nha.., saat ini, kakak akan mengambil Max lagi untukku. Boleh ya..?" ucap Ivona pada Evan.


Tuan Muda Evan melihat ke arah Ivona, melihat orang yang selalu dia inginkan untuk menjadi kakaknya itu, senyuman terbit dari mulutnya yang kecil.


"Hallo kakak cantik.., boleh kak boleh. Asalkan kakak juga mengijinkan Evan ikut dengan kakak, maka Max akan Evan ijinkan kembali dengan kakak." sahut Evan sambil nyengir.


Mendengar jawaban polos anak itu, Ivona hanya garuk-garuk kepalanya. Dia melihat bagaimana kedekatan antara Evan dengan Max saat ini. Merasa dia juga tidak lama lagi akan meninggalkan negara ini, maka dia tidak mungkin untuk membawa Max bersamanya dalam waktu dekat. Ivona berpikir untuk tetap membiarkan Max bersama dengan Evan terlebih dulu. Toh.., dia juga tahu dimana akan dapat menemui anjingnya itu lagi, jika dia merasa rindu padanya.


"Kamu kesini dengan siapa Evan..? Tidak baik.., anak-anak sepertimu main ke tempat seperti ini." tanya Ivona dengan sabar.


"Huh.., tidak ada yang sayang dengan Evan di keluarga. Masak Evan ditinggal mama ngobrol sendiri dengan teman-temannya di dalam." Evan dengan polosnya mengadu pada Ivona.

__ADS_1


"Ya sudah.., ayo ikut kakak ke dalam. Sekalian mencari mamamu disana." Ivona menggandeng Evan ke dalam restaurant, kemudian meminta Max untuk menunggunya di luar restaurant. Dia tidak ingin, kehadiran Max akan mengganggu pengunjung lainnya yang ada di dalam restaurant. Tampak raut senang dan bahagia tergambar di wajah Evan, dia merasa ketemu dengan orang yang memperhatikannya.


Setelah mengedarkan pandangan ke dalam ruangan, Ivona tidak melihat kehadiran Caroline di dalam situ. Dia kemudian menuju ke receptionis.


"Apakah ada yang bisa kami bantu kak?" seorang petugas jaga dengan ramah bertanya pada Ivona.


"Adakah ruang yang di booked atas nama Caroline atau Ivona?"


"Pesanan atas nama Ivona di private room di lantai 2 kak, tapi untuk nama Caroline tidak ada."


"Okay terima kasih informasinya." setelah mendapatkan ruangan yang sudah dipesan Caroline, Ivona kembali menggandeng Evan dan mengajaknya menunggu tangga untuk menuju ke lantai atas.


***********


"Ivona.., masuk ruangan sebelah situ!" baru sampai di lantai atas, dari arah wastafel, Ivona mendengar Caroline memanggilnya. Perempuan itu menunjuk salah satu ruangan yang ada disitu, sambil memandang heran pada anak laki-laki kecil yang berada dalam gandengan gadis itu.


"Evan ga mau ke tempat mama, ikut kakak saja. Hanya kakak yang perhatian dengan Evan, yang lainnya tidak ada," ucap Evan yang semakin erat menggenggam tangan Ivona.


Ivona tersenyum melihat sikap Evan, dia kemudian mengajak anak laki-laki itu duduk bersamanya. Tidak lama berlalu, Caroline segera datang dan duduk di depan Ivona.


"Makan dulu saja yok, sambil kita bicara!" Caroline mengajak untuk mereka makan dulu.


Ivona segera mengambil piring, kemudian mengisi dengan makanan, dan meletakkan di depan Evan. Baru kemudian dia menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.


"Evan makan dulu ya, kakak tidak mau jika Evan tidak makan!" Ivona meminta Evan untuk menikmati makanan yang sudah dia sajikan untuknya. Anak laki-laki itu melihat ke mata Ivona, gadis itu menganggukkan kepala.


"Siapa anak ini Ivona..?" tanya Caroline sambil melihat pada Evan.


"Dia kakakku, tidak usah tanya-tanya." Evan langsung menjawab pertanyaan Caroline dengan judes. Melihat hal itu, Ivona mengacak-acak rambut Evan.

__ADS_1


"Evan.., kendalikan diri jika mau bicara sayang. Ada yang boleh dilakukan pada orang yang lebih tua, tetapi ada juga yang boleh. Kan kak Caroline bertanya pada kakak, bukan pada Evan." Ivona menegur Evan dengan pelan.


Evan menengok pada Ivona, dia kemudian melihat ke arah Caroline.


"Maaf." ucapnya lirih.


"Tidak apa-apa, ayo dilanjutkan dulu makannya!" sahut Caroline.


Setelah mereka merasa kenyang, Caroline meminta waiters untuk membereskan peralatan makan yang sudah digunakan.


"Ivona.., terima kasih dan sekaligus aku ucapkan selamat ya!" Caroline mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ivona.


Ivona mengerenyitkan keningnya, dia bingung dengan sikap yang ditunjukkan Caroline.


"Ini.. uang tahap pertama dari studio yang memberikan label atas produksi lagumu." Caroline juga menyerahkan amplop berwarna coklat di atas meja.


Ivona mengambil amplop itu, dan saat dia membukanya, seketika matanya terbelalak. Satu lembar cek berisi nominal uang sebesar satu milyar rupiah tertulis disitu atas namanya.


"Apa maksudnya ini Carol?" tanya Ivona bingung.


"Beberapa waktu lalu, kamu memberi padaku satu syair lagu beserta liriknya. Itu hasil kerja kerasmu tahap pertama Ivona. Ternyata respon pasar sangat cepat, bahkan produser ingin bertemu dan berkenalan denganmu." Caroline memberi tahu asal dari cek tersebut.


"Kamu jangan khawatir padaku, aku juga sudah menerima hakku. Aku juga tidak tahu, lagu karyamu menduduki tangga lagu di beberapa asosiasi musik di negara ini. Sekali lagi, aku sangat apresiasi karyamu Ivona." lanjut Caroline.


Setelah beberapa saat, karena Ivona juga sedang membutuhkan uang banyak, dia segera memasukkan amplop berisi cek itu ke dalam tas sekolahnya.


"Terima kasih Caroline.., aku berharap kita akan menghasilkan kolaborasi karya lagi di masa depan." Ivona mengulurkan tangan pada Caroline, dan keduanya akhirnya berjabat tangan.


*************

__ADS_1


__ADS_2