
Berita tentang perilaku Ivona yang sudah diputar balikkan oleh Kelly dan teman-temannya, menyebar ke seluruh penjuru SMA Dharma Nusa. Guru-guru ikut membicarakan tingkah Ivona yang mereka anggap tidak sopan dan kurang ajar dengan mereka.
"Masa murid pindahan di kelas G yang saudaranya Vaya, itu berani sama wali kelasnya? Bagaimana kurikulum di sekolah asalnya, apakah tidak pelajaran tentang penanaman budi pekerti untuk murid-muridnya?"
"Kenapa keluarganya tidak dihubungi, kalau dari setiap awal kejadian kita sudah menyampaikan pada keluarganya, jika nanti terjadi apa-apa kita tidak akan disalahkan."
Wali kelas G mendengarkan teman-teman gurunya membicarakan Ivona, kemudian dia datang dan ikut bergabung.
"Aku sudah menghubungi keluarganya, dan yang menerima putra Tuan Iswara yang bernama Thomas. Tetapi anak itu menyampaikan jika Ivona memiliki masalah dengan komunikasi sosial, malah mengancam balik jika terjadi apa-apa dengan adiknya, maka sekolah yang akan bertanggung jawab." wali kelas G ikut terlibat pembicaraan yang mendiskreditkan Ivona.
"Sebenarnya bagaimana murid pindahan itu, katanya gara-gara anak itu, anda harus miss komunikasi dengan guru bahasa Inggris?" Guru yang lain menanyakan tentang Ivona pada wali kelas G tersebut.
"Iya... murid pindahan itu sangat liar, dan jauh dari kata sopan santun. Guru bahasa Inggris telah salah paham dengan sikapku pada murid pindahan itu, karena beliau hanya melihat sepotong. Tetapi, dia bertindak seperti pahlawan kesiangan yang langsung membela murid itu."
"Ada kejadian apa yang dipicu gadis itu di kelas anda?"
Wali kelas itu meskipun dia tahu bahwa Kelly yang membuat ulah sebelumnya, tetapi karena dia sudah merasa dipermalukan oleh Ivona juga ikut memutar balikkan fakta.
"Murid pindahan itu menumpahkan tinta di mejanya, dan terkena di buku pelajarannya. Tetapi bisa-bisanya dia malah mengkambing hitamkan temannya, si Kelly yang akhirnya terlibat perselisihan dengannya."
Guru-guru yang mendengarkan cerita bohong wali kelas G, menganggukkan kepala dan muncul persepsi buruk tentang Ivona.
***********************************
Berita buruk tentang kurang ajar dan liarnya Ivona akhirnya terdengar sampai ke telinga Vaya. Gadis itu tersenyum, dan merasa sangat senang akan berita gosip yang berkembang di sekolahnya.
"Akhirnya belum sampai aku mengambil tindakan, nama Ivona di SMA Dharma Nusa sudah jatuh tanpa perlu aku campur tangan. Aku tinggal sedikit saja menambahkan bensin di api yang telah panas ini." gumam Vaya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Meskipun Ivona si gadis gila itu sudah berubah menjadi lebih berani, tetapi dia tetaplah bodoh dan kehidupannya tidak ada yang bisa dibanggakan. Sekali kampungan, dia juga akan tetap menjadi kampungan." pikirnya lagi.
Tiba-tiba Vaya melihat Kelly yang sangat kesal, sedang berdiri di depan kelasnya dengan ditemani beberapa murid perempuan. Vaya menghampiri gadis itu, dan melihat Vaya yang menghampirinya Kelly dengan semangat menyambutnya.
"Vaya..., kamu sudah mendengar berita belum? Itu si murid pindahan, yang dia mengaku sebagai saudaramu itu, betul-betul barbar dan tidak punya etika." Kelly langsung mengadukan perilaku Ivona pada Vaya.
"Ada kejadian apa sebenarnya antara kamu dengan gadis kampung itu?"
"Tadi kami bertengkar di kelas. Aku sangat kesal dan jijik dengan perilakunya yang songong, cari masalah saja. Bahkan tidak ada sopan-sopannya dengan wali kelas."
__ADS_1
"Kalian berkelahi?"
"Iya kami berkelahi. Jika bukan karena wali kelas mengingatkanku untuk tidak menyakiti murid pindahan itu, aku pasti sudah menghabisinya dengan kejam."
"Murid pindahan itu juga merasa sok cantik, suka menggoda murid laki-laki. Bahkan kamu tahu William si tukang bully itu, dia saja seperti tidak berkutik karena sudah dirayu olehnya." beberapa murid perempuan ikut menambahkan cerita tentang Ivona.
"Ivona itu sudah pernah kita masukkan ke rumah sakit jiwa." Vaya mulai menceritakan keburukan yang mereka sematkan pada Ivona.
"Benarkah Vaya? Jika benar, berarti memang anak itu tidak hanya mengalami gangguan komunikasi sosial, tapi memang tidak waras. Pantas saja dia tidak punya rasa takut sedikitpun dengan para guru,"
"Aku akan cerita, tapi kalian semua harus janji untuk merahasiakannya." kata Vaya.
"Okay.., aku janji. Aku pasti akan merahasiakannya."
"Ivona dulu terkena gangguan jiwa, sampai mendorongku sehingga aku jatuh dari tangga. Untungnya kakak-kakakku sangat menyayangi aku, akhirnya waktu itu Ivona dimasukkan sama kakak ke rumah sakit jiwa."
"Oh.. begitu, pantas saja tingkahnya liar, seperti tidak mengenal akan aturan."
"Setelah itu, dia menjadi marah kepada siapapun. Dia kemudian suka menyendiri, dan sering bicara sendiri seperti sedang komunikasi dengan makhluk tak terlihat. Sampai-sampai, dari sekolah lamanya Ivona disarankan untuk keluar dari sekolah."
"Berarti.. seperti bumi dengan langit jaraknya Vaya, jika murid pindahan itu dibandingkan kamu." ucap Kelly.
"Iya pasti itu, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kamu." beberapa murid perempuan menguatkan pendapat Kelly.
"Siapa sih yang tidak tahu tentang Vaya Iswara? Ingat tidak saat kita ujian? Total nilai yang kamu peroleh Vaya, sangat bangus sekali, bahkan peringkat dua di sekolah ini bisa kamu pegang. Dan nilai ujian Fisika mu berada pada peringkat pertama."
"Benar..benar.., sangat jauh jika bandingkan Vaya kita dengan gadis gila itu."
*****************************************
Saat pulang sekolah.
Ivona bergegas keluar dari kelas begitu bel berakhirnya pelajaran berbunyi. Dia tidak mau pulang sekolah bersama dengan Vaya, sehingga dia mendahului keluar kelas. Dia mengambil ponselnya yang dia setting silent, dan Ivona menemukan bahwa ada miss call lebih dari 10 kali.
"Nomor siapa ini? Sepertinya ini kode negara asing, bukan negara ini?' Ivona bertanya pada dirinya sendiri.
Karena penasaran karena nomor itu menelponnya berkali-kali, akhirnya Ivona melakukan panggilan balik. Tanpa menunggu, ternyata panggilannya langsung diangkat
__ADS_1
"Hallo.. dengan Marcus disini. Aku yang telah melakukan panggilan padamu berkali-kali." terdengar suara bariton laki-laki langsung menyapa Ivona.
"Iya aku tahu, kira-kira ada apa kamu menghubungiku? Apakah kita pernah ketemu dan merasa saling kenal?"
"Santai Ivona..., aku datang menelponmu dengan niatan baik. Aku sangat kagum dan menghargai talentamu, aku akan menawarkan sebuah kerja sama untukmu."
Ivona mendengarkan dengan serius Marcus berbicara, dan akhirnya dia bisa mencerna apa yang dibicarakan laki-laki itu.
"Kamu bisa berimigrasi ke negaraku Ivona, kamu akan lebih kompeten dan berkembang disini!"
"Maksudmu?"
"Dengan talent yang kamu punya, dan keahlianmu dalam penguasaan jaringan komputer, kita akan menundukkan dunia kepada kita. Ayolah...kita bekerja sama Ivona!" Marcus terus mendesaknya untuk bergabung.
Ivona ingat dia pernah mengirimkan lamaran ke luar negeri, dan untuk melengkapi penguasaan keahlian, Ivona meretas situs web resmi teknologi komputasi perusahaan Marcus. Sehingga dari data yang berhasil dia retas, Ivona bisa menyajikan makalah akademis yang didukung dengan data dan analisis yang akurat. Selain itu secara visual, Ivona juga melengkapinya dengan sangat excellent.
"Apakah kamu sanggup untuk membayarku? Jika kamu tahu, gaji yang aku minta sangatlah tinggi."
"Aku tidak peduli, berapapun gaji yang kamu minta, perusahaanku akan sanggup untuk memenuhinya. Bagaimana Ivona, kita deal?"
"Okay.., deal. Tetapi aku belum mau bekerja sama denganmu untuk waktu yang lama. Aku ingin kita penjajagan dulu sementara, dan pekerjaan darimu aku kerjakan dari negaraku, karena aku masih banyak tanggung jawab disini."
"Okay.. ada lagi?"
"Kirimkan gaji tiga bulan pertama untukku, aku lagi butuh uang!"
"Apapun yang kamu minta cantik, segera aku kirimkan draft perjanjian kerjasama kita. Pelajari, jika no confirm.., segera tanda tangani dan kirim kembali ke kita. Secepatnya gaji akan kita transfer langsung ke rekeningmu." Marcus yang sangat tertarik dengan keahlian Ivona di bidang komputer, langsung menyetujui permintaan gadis itu.
"Ehm.." selesai melakukan panggilan terhadap Marcus, Ivona mendengar laki-laki berdehem di belakangnya. Gadis itu langsung menoleh ke belakang dan melihat William tersenyum berada di belakangnya.
"Ada apa?" tanya Ivona pada William.
"Tidak apa-apa." William menjawab, dan berdiri di dekatnya, William baru menyadari jika Ivona tampil begitu polosnya.
"Gadis ini unik, dia tidak seperti gadis-gadis yang lain. Dia tampil polos apa adanya, tetapi malah inner beauty nya sangat kuat. Vaya saja memakai jam tangan mahal, demikian juga gadis yang lain. Tetapi Ivona dengan confident tidak ada asesories sedikitpun di tubuhnya." William berpikir sendiri.
****************************************
__ADS_1