
Mendengar perkataan ayahnya, Ivona menjadi jengkel, kemudian tiba-tiba muncul keinginan untuk menolak permintaan ayahnya. Dia menginginkan Tuan Iswara menjadi marah padanya.
"Tadi ayah bilang, karena kedatangan Ivona, Vaya menjadi kehilangan banyak. He...he..he.., apakah ayah pernah berpikir, berapa banyak yang Ivona hilangkan selama belum berjumpa dan kembali ke kediaman besar?? Bahkan sampai sekarang..., sepertinya masih banyak yang Ivona hilangkan juga dari keluarga Iswara." dengan tersenyum kecil, Ivona berkata sarkasme pada Tuan Iswara.
Ivona bersandar di dinding dengan malas, kaki kanannya dia tekuk ke belakang, dan dia letakkan telapak kakinya di dinding.
"Jaga ucapanmu Ivona.., ingat dengan siapa kamu saat ini sedang berbicara?" teriak Tuan Iswara di seberang telepon dengan marah.
"Ingat ayah.., saat ini Ivona sedang berbicara dengan Tuan Iswara ayah kandung Ivona. Pokoknya Ivona akan selalu mengingatnya. Saat ini Ivona sedang berbicara dengan seorang ayah yang lebih menyayangi dan mengutamakan anak angkat, daripada anak kandungnya sendiri." ucap Ivona dengan nada datar. Sedikitpun tidak terdengar ucapan kemarahan dalam suaranya.
"Dasar anak tidak tahu diuntung, bisanya kamu hanya menyusahkan orang tua saja. Tidakkah kamu berpikir sebelumnya, kata mana yang perlu dan tidak untuk disampaikan pada ayahmu." teriak Tuan Iswara.
Mendengar kemarahan ayahnya, Ivona tersenyum sinis.
"Oh ya ayah..., juga perlu ayah ingat-ingat. Ivona bisa memberi tahu kakek lho, siapa sebenarnya ayah kandung Vaya. Dia adalah Kepala Rumah Sakit Jiwa, dan jika kakek tahu, he..he..he.., pasti kakek akan segera mengusir Vaya dari rumah." dengan berani, Ivona mengancam Tuan Iswara.
"Kamu berani mengancamku Ivona?? Ayah tidak menyangka, jika kamu sekarang sudah berani melawan ayah. Aku ucapkan sekali lagi, pulang ke rumah!" Tuan Iswara dengan nada marah langsung mengakhiri panggilan telponnya.
Ivona tersenyum sinis, dia masih bersandar di dinding kafe. Dia kemudian kembali ke tempat duduknya, perlahan dia menyesap lemon tea untuk menenangkan hatinya.
"Permisi mbak.., ini pesanan roti bakarnya." tiba-tiba seorang waiters mengantarkan pesanan snack yang tadi dipesan oleh Caroline.
"Ya terima kasih.., berapa mbak, aku bayar sekalian sekarang." Ivona mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Sudah dibayar mbaknya tadi, saya minta ijin kembali ke dapur dulu ya. Mau melanjutkan pekerjaan yang lain." sahut waiters dengan ramah sambil berpamitan.
"Ini mbak.., tips buat mbaknya," Ivona memberikan uang satu lembar lima puluhan ribu pada waiters tadi.
"Terima kasih mbak, semoga rejeki mbaknya dilipatkan oleh Tuhan." dengan muka cerah, waiters mengucapkan terima kasih pada Ivona. Sudah menjadi kebiasaan Ivona dari dulu, dia suka berbagi pada orang lain yang dia pandang membutuhkan.
Sepeninggalan waiters tadi, Inova kembali menyesap lemon tea. Dia mengambil garpu, dan mulai menikmati roti bakarnya dengan tenang. Sesekali dia mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan untuk mengurangi rasa jengkel pada Tuan Iswara.
**********
Dengan perasaan kesal, Ivona segera meninggalkan kafe di lantai dua. Dia perlahan turun ke lantai satu, dia masih berkeliling untuk menghilangkan rasa jengkel dan marah pada Tuan Iswara. Tetapi tidak ada satupun yang bisa menarik perhatiannya, akhirnya dia memutuskan untuk segera keluar dari toko buku. Sesampainya di depan toko buku, Ivona melihat mobil Rolls Royce yang masih terparkir di depan toko. Dia tidak menyangka, ternyata Alexander masih dengan sabar menunggunya sampai dia keluar dari toko. Dia mengira, karena merasa dirinya cukup lama meninggalkan pria itu, maka pria itu akan segera meninggalkannya.
"Kak Alex..., maaf ya lama menunggunya!! Tadi Ivona pikir, kakak sudah pulang duluan, jadi Ivona agak santai ngobrol dengan teman Ivona di dalam. Ternyata kakak masih sabar menunggu." dengan rasa bersalah, Ivona meminta maaf pada Alexander.
"Dengan siapa sih kamu sebenarnya di dalam toko??" tanya Alexander dengan sedikit kesal. Karena baru kali dia merasakan betapa beratnya orang menunggu. Selama ini dia selalu membuat orang lain menunggunya.
"Kalau kelamaan menunggu Ivona, kenapa tadi kakak tidak pergi lebih dulu?" Ivona dengan santai menjawab pertanyaan Alexander. Dia merasa jauh lebih baik setelah ketemu dengan pria itu.
Alexander tidak menjawab pertanyaan Ivona, dia hanya diam. Karena dia sendiri juga tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, kenapa dia bisa mengorbankan waktunya hanya untuk menunggu gadis itu. Apakah karena Ivona adalah adik dari temannya Tommy?? sepertinya bukan karena itu.
"Cepat masuk.., keburu malam!" Alexander akhirnya menyuruh Ivona segera masuk ke dalam mobil.
Ivona tersenyum, kemudian dia langsung duduk di kursi samping kemudi. Setelah Ivona duduk, Alexander memasangkan sabuk pengaman untuk Ivona. Saat dia menjatuhkan tubuhnya ke atas Ivona untuk mengancingkan safety belt, Ivona agak terkejut, dan sejenak mereka bertatapan mata. Tetapi dengan cepat, Alexander segera menegakkan tubuhnya kembali, dan Ivona menstabilkan pernafasannya untuk mengurangi rasa gugup.
__ADS_1
"Maaf ya kak Alex.., lama tidak tadi menunggu Ivona?" dengan basa-basi Ivona bertanya pada Alexander.
"47 menit." jawab Alexander singkat dengan muka datar.
Melihat ekspresi datar dan jawaban singkat dari laki-laki yang saat ini berada di sampingnya, menjadikan Ivona terdiam. Seketika suasana di mobil menjadi sunyi, bahkan suara mesin mobilpun tidak terdengar
"Drtt.., drttt...," tiba-tiba ponsel Alexander berdering memecah keheningan, suasana tidak lagi sunyi. Melalui head set, Alexander menerima panggilan tersebut.
"Hello..., ada apa? Aku baru mengemudi nih?" Alexander menyapa orang yang menelponnya.
"Ayok Lex.., putar kemudimu! Aku tunggu di club ya, teman-teman dah pada ngumpul nih. Ga seru kalau kamu ga datang." ternyata panggilan itu dari teman Alexander yang mengajaknya untuk bergabung di club.
"Ga bisa..., aku harus langsung pulang. Saat ini, aku baru jemput seorang gadis dari sekolahnya. Dia baru pulang." jawab Alexander tanpa berpikir.
"Oh My God..., jangan jadi pedofil kamu Lex!! Tidak biasanya kamu tertarik untuk dekat dengan seorang gadis. Bahkan kami tidak pernah ada yang melihat kamu berani menyentuh wanita manapun. Sekalinya kamu ternyata lebih tertarik dengan anak di bawah umur. Ingat Lex...!"
"*****.., Shut up you!! Jangan asal bicara kamu!" teriak Alexander yang sampai mengagetkan Ivona yang duduk di sampingnya.
"Ayolah kawan..., bawa saja gadis kecilmu itu ke club!! Kenalkan pada kami, jangan khawatir... kami tidak akan menakalinya!!" orang itu tetap meminta agar Alexander datang ke club.
"No.., kalian tidak tahu kan siapa gadis yang kujemput ini. Dia itu sangat usil dan sangat nakal. Tidak ada satu haripun yang bisa membuatku tenang. Dia selalu membuat ulah dimanapun, dan kapanpun." ucap Alexander sambil melirik ke arah Ivona.
Ivona terkejut mendengar perkataan Alexander, dia memonyongkan mulutnya ke depan. Dia menjadi cemberut.
__ADS_1
*********