
Ivona berjalan gontai memasuki kelas G. Setelah beberapa hari yang lalu Ivona mengumpulkan tugas merangkum buku Fisika, sebagai hukuman karena tidak membawa buku, Pak Haryo memberi tugas lagi. Semalam dia sampai harus begadang semalaman untuk menyelesaikannya. Dia merasa beruntung karena dia masih tinggal di kediaman Alexander, sehingga tidak ada yang mengganggunya. Bi Mina juga melayani Ivona dengan baik, bahkan Alexander juga sangat memperhatikannya.
"Hey Ivona..., kok kamu seperti kurang bertenaga?? Belum sarapankah?" Beni menyapa Ivona.
"Kurang tidur Ben.., semalam begadang lagi, menyelesaikan tugas mengerjakan soal-soal latihan Fisika yang pak Haryo berikan." Ivona menjawab pertanyaan Beni.
William melihat hubungan akrab yang terjalin antara gadis itu dengan Beni dengan muka datar. Dia terkejut ketika mendengar Ivona juga sudah selesai mengerjakan hukuman, dan bahkan sudah mengumpulkan ke Guru lebih dahulu daripada dia.
"Kamu diberikan tugas lagi sama pak Haryo?" tanya Beni heran. Karena membuat rangkuman sebanyak tiga kali, sudah merupakan tugas yang membutuhkan waktu dan ketekunan. Ternyata masih diberikan tugas latihan tambahan.
"Iya Ben.., tapi yah.. benar juga sih alasan pak Haryo. Beliau bilang, tugas tambahan diberikan karena untuk mengejar ketertinggalanku dalam mata pelajaran yang beliau ampu. Kamu juga tahu sendiri kan, aku masuk ke kelas ini kan telat, karena harus mengurus persyaratan administrasi pindahan." Ivona menjelaskan alasan guru memberikan tugas lagi padanya.
"Okelah.. yang penting sekarang sudah bereskan?"
"Pasti dong."
Ivona langsung meninggalkan Beni, kemudian segera datang ke tempat duduknya. Sekilas William melihatnya, dan Ivona berbasa-basi menyapanya.
"Hey Will...sudah selesaikah tugasmu dari guru Fisika?"
"Sudah juga, nanti aku kumpulkan." jawab William cepat. Pria itu terlihat tidak bisa memahami Ivona. Dia sering kali mendengar jika gadis itu sering membuat masalah, dan juga sering terlibat pertengkaran dengan murid-murid lainnya. Bahkan pada malam hari, dia sendiri pernah melihat Ivona berada di MUSE Bar.
"Tetapi kenapa dia sangat rajin mengerjakan hukuman dan tugas dari Guru Fisika?? Dia juga sama sekali tidak terlihat menyimpan rasa jengkel sedikitpun dengan pak Haryo." William berpikir sendiri tentang Ivona,
"Ivona..., beberapa hari ini aku melihat ada perubahan deh pada dirimu."
"Apaan?? Berubah..., seperti Power Rangers??" jawab Ivona datar.
"He...he..he.., kamu bisa saja. Beneran, kamu sekarang tambah cantik." kata Beni sambil tertawa kecil
Mendengar kalimat yang diucapkan pria gemuk itu, William ikut menoleh dan tanpa sadar dia ikut memperhatikan Ivona. Dia tertegun sejenak, karena melihat wajah gadis itu menjadi lebih bersinar.
************
Beberapa murid berlarian menempatkan diri pada tempat duduk masing-masing saat melihat pak Haryo sudah memasuki kelas. Dengan malas Ivona mengangkat wajahnya setelah mendengar kegaduhan murid-murid lainnya.
__ADS_1
"Aku mau ke depan mengumpul tugas, mau nitip tidak sekalian?" William bertanya pada Ivona.
"Yupz.., ini. Makasih ya." Ivona mengulurkan buku pada William.
William langsung berjalan ke depan dan menyerahkan tugas rangkumannya serta tigas mengerjakan soal Ivona.
"Sudah selesai?" tanya pak Haryo sambil menatap William.
"Sudah pak." jawab William singkat.
"Bagus..., kembalilah ke tempat dudukmu."
William langsung kembali berjalan menuju tempat duduknya lagi. Pak Haryo kemudian mulai menjelaskan tentang pelajaran Fisika. Setelah beberapa saat berlalu, Pak Haryo mengeluarkan tugas rangkuman Fisika yang dikerjakan oleh William dan Ivona. Terlihat dari kursi belakang, pak haryo tersenyum dan tampak puas melihat hasil kerjaan tersebut.
"Luar biasa... kalian semua bisa mencontoh William dan Ivona. Tugas rangkuman yang Bapak berikan pada keduanya sudah dikerjakan secara rapi dan tepat. Demikian juga, soal-soal latihan yang saya tugaskan khusus pada Ivona, dia sudah mengerjakan semuanya dengan hasil Perfect. Ayo kita semua tepuk tangan untuk memberi apresiasi pada mereka berdua!" pak Haryo mengapresiasi hasil pekerjaan William dan Ivona.
Murid-murid saling berpandangan, tetapi karena mereka tahu jika pak Haryo selalu bertindak tegas dan adil, akirnya mereka semua memberikan tepuk tangan.
"Kemudian juga sekalian saya informasikan, jika untuk perwakilan mata kuliah Fisika pada semester ini adalah Ivona. Dia sudah terbukti menghasilkan karya rangkuman dan mengerjakan tugas yang saya berikan dengan Excellent."
"Pak Haryo..., apakah Bapak tidak keliru menunjuk wakil untuk pelajaran Fisika?" Jeni murid yang biasa ditunjuk sebagai perwakilan untuk mata pelajaran tersebut, langsung berdiri dari kursinya dan langsung menginterupsi pak Haryo.
Pak Haryo sebagai Guru untuk mata pelajaran Fisika, tersenyum kemudian menatap Jeni.
"Tidak Jeni.., biasanya tahun-tahun kemarin kamu ya yang menjadi murid perwakilan. Kenapa Bapak menunjuk Ivona, karena bapak sudah bertindak objektif. Dia memang sangat detail menguasai mata pelajaran itu, bahkan tugas-tugas maupun hukuman yang saya berikan selalu dia kerjakan dengan hasil Excellent."
"Tapi pak..." Jeni masih berusaha untuk protes, tetapi belum selesai dia menyampaikan pendapatnya, langsung perkataannya dipotong oleh pak Haryo.
"Sudahlah Jeni... Itu sebagai pelajaran bagimu, bahwa diatas langit.., selalu masih ada langit lagi. Berusahalah untuk lebih giat, kurangi mainmu." Pak Haryo menasehati Jeni.
Gadis yang bernama Jeni itu berusaha menahan kekesalannya, dia langsung kembali duduk di kursinya. Beberapa murid perempuan mendatangi meja tempat Jeni duduk.
"Sabar Jen..., bagi kami-kami.., kamu tetap yang pantas untuk mewakili sebagai ikon mata pelajaran Fisika. Coba bandingkan dengan murid pindahan Ivona itu!! Apa sih yang bisa diharapkan dari murid bar-bar macam dia."
"Iya.., prestasi apa yang pernah dia buat?? Selain menimbulkan keributan, dan menghantarkan Yoshua Jonathan sampai ke rumah sakit, malah akhirnya Yoshua yang kena apesnya."
__ADS_1
"Coba kalian lihat darimana sekolah asal murid pindahan itu?? Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sekolah kita, tidak ada sekuku hitamnya. Sekolah asalnya itu merupakan sekolah yang paling buruk yang ada di kota ini."
Ivona diam, dia merasa malas mengurusi hal-hal remeh seperti itu. Merasa berisik mendengar desas-desus di ruangan kelas, setelah melihat pak Haryo pergi meninggalkan kelas, Ivona langsung mengikutinya untuk keluar dari ruangan itu.
Begitu Ivona pergi meninggalkan kelas, Kelly berjalan ke depan. Setelah dia memastikan jika Ivona sudah tidak ada di sekitar, dia langsung bergabung dengan murid-murid perempuan lainnya menghampiri Jeni.
"Tenanglah Jen... jangan khawatir! Kita lihat saja nanti, bagaimana Ivona si murid pindahan itu sepak terjangnya dalam mata pelajaran Fisika. Dia tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan kamu." dengan nada meremehkan Kelly mengipasi Jeni.
"Iya Jen.., sama kan seperti yang tadi aku katakan. Kamu tidak memiliki tandingan untuk mata pelajaran Fisika. Sepertinya pak Haryo harus ganti kaca mata tuh, biar tidak keliru memilih murid mana yang memang pas dan pantas." sahut murid perempuan lainnya.
**********
Ivona langsung meninggalkan ruangan, dan berhenti di depan pintu. Tiba-tiba dia teringat jika, pada saat menelponnya Marcus pernah bilang padanya jika dia mengenal seseorang dari Institut Kedokteran.
"Aku akan menanyakan langsung pada Marcus saja kalau begitu, semoga dia masih mengingat apa yang pernah dia katakan padaku." Ivona berpikir sendiri, kemudian langsung menekan nomor Marcus dari ponselnya.
"Ya Ivona..., tumben-tumbenan kamu menghubungi aku terlebih dulu. Ada yang bisa aku bantu?" Marcus langsung mengangkat panggilan dari Ivona, dan dengan ramah langsung menyapanya.
"Jangan ge er tahu...! He..he..he.., Marcus.. aku butuh informasi nih?"
"Informasi apa?"
"Kamu dulu pernah bilang padaku jika mengenal seseorang dari institut kedokteran. Aku butuh informasi tentang dia."
***********
Ramaikan Yukkk
Author Nulis karya baru
Sang Petarung
Baca dan Like ya!!!
********************
__ADS_1