
Tanpa ragu dan tanpa merasa sungkan dengan kedua tamunya, kakek berbicara dengan keras menegur Nyonya Iswara. Melihat ekspresi dan raut wajah datar Kakek, Nyonya Iswara berusaha menahan dirinya untuk tidak menjawab ucapan Kakek yang sangat terlihat membela Ivona. Alexander dan Jack turut merasa kaget dengan teguran keras yang diberikan kakek pada menantunya itu, dan mencoba menerka-nerka apa yang sudah dialami oleh Ivona di rumah itu.
"Kakek minum dulu ya, Ivona ambilkan!" merasa khawatir dengan kesehatan kakek, Ivona segera menawarkan kakeknya minum untuk menenangkannya. Alexander terkesiap dan cukup kaget dengan kesabaran gadis itu dalam melayani kakeknya. Dia sama sekali tidak menyangka jika terselip sikap kedewasaan pada Ivona, dan tahu mengambil langkah yang benar saat ada masalah di depannya. Beberapa kali bertemu dengannya, gadis itu selalu terlihat sedang membutuhkan bantuan. Tetapi kali ini, gadis itu bisa bertindak sebaliknya. Alexander melengkungkan dua sudut bibirnya ke atas.
"Terima kasih cucuku.., memang hanya kamu yang bisa mengerti kakek." setelah meminum beberapa teguk, kakek menyerahkan kembali cangkir pada Ivona, dan sambil tersenyum gadis itu meletakkan cangkir di atas meja.
"Oh iya kek.., by the way saya sudah berhasil berhubungan dengan Dokter Purnomo, seorang dokter spesialis otak. Dia sangat expert dan menjadi rujukan bagi dokter-dokter lain pada bidang yang sama. Jadi dia termasuk salah satu dokter terkenal pada bidang otak." Tuan Iswara ikut berusaha mencairkan suasana dan berkata pada kakek dengan penuh hormat.
Thomas melihat pada papanya, tetapi sedikitpun dia tidak ikut berkomentar tentang perkataan Tuan Iswara.
"Dokter dari rumah sakit mana Tuan Iswara?" Jack bertanya pada Tuan Iswara.
"Dia Dokter yang sehari-hari dinas di rumah sakit swasta di Jakarta. Selain itu, Dokter Purnomo memiliki pasien yang sangat banyak, dan dia sangat sulit untuk dihubungi. Tapi syukurlah.., aku bisa berhasil menghubungi dan sudah mengatur janji dengannya." dengan bangga Tuan Iswara menceritakan keberhasilannya.
"Bagaimana anda bisa mendapatkan contact person, padahal Dokter Purnomo katanya merupakan Dokter yang memiliki jadwal praktik yang crowded." lanjut Jack penasaran.
Mendengar pertanyaan pria muda itu, Tuan Iswara tersenyum dan terlihat sangat bangga. Dia memiliki niat untuk memamerkan pada yang saat ini sedang berada di ruang tengah itu, siapa putrinya Vaya.
"Aku bisa mendapatkan contact person dokter itu karena putriku Vaya. Dokter Purnomo memiliki kesan mendalam terhadap putriku saat berkunjung dan memberikan pidato di SMA Dharma Nusa. dari situ akhirnya kami saling mengenal, dan bertukar nomor contact." kata Tuan Iswara sambil tersenyum.
"Memang putri kami Vaya selalu membuat kami bangga dimanapun. Di setiap perform yang dia tampilkan, apakah dalam bidang akademik, musik maupun bidang yang lain, selalu penampilannya mendapatkan apresiasi dari orang lain." Nyonya Iswara tampak berminat ikut memberi pernyataan yang menguatkan perkataan Tuan Iswara.
__ADS_1
"Ah mama dan papa terlalu memuji Vaya. Semua itu Vaya lakukan karena hanya menjalankan pesan yang sudah mama dan papa sampaikan, agar Vaya selalu menjadi orang yang berguna, dimanapun dan dalam bidang apapun. Jadi semua yang vaya lakukan, itu sudah menjadi kewajiban Vaya." kata Vaya yang pura-pura malu dan merendah.
"Memang begitulah adanya Vaya.. mama dan papa hanya membicarakan hal yang memang perlu untuk disampaikan. Agar Tuan Jack dan Tuan Alexander juga ikut mengetahui prestasi putri mama." kata Nyonya Iswara yang kemudian diiyakan oleh Tuan Iswara.
Thomas menunjukkan ekspresi sebal mendengar perkataan papa dan mamanya. Sedangkan Ivona terlihat cuek dan acuh seperti biasanya, dia tidak memiliki ketertarikan untuk terlibat dalam pembicaraan dan malah tenggelam dalam dunianya sendiri.
***************
Alexander melirik gadis yang saat ini duduk di sampingnya, karena merasa bosan dengan apa yang diceritakan. Tuan dan Nyonya Iswara. Pria muda itu berniat untuk kembali menggoda Ivona, tetapi melihat keseriusan gadis itu saat ini dengan ponsel yang ada di tangannya, Alexander mengurungkan niatnya.
"Tring.." tiba-tiba ponsel Ivona berdering menandakan ada pesan masuk. Saat melihat pengirimnya adalah Marcus, mata gadis itu langsung bersinar, dia kemudian segera membukanya.
"Okay.., terima kasih Marcus."
Ivona tersenyum setelah mendapatkan nomor contact dari Dokter Tantowi. seorang dokter spesialis otak. Setelah menambahkan pada nomor kontak pada ponselnya, Ivona langsung mengirimkan pesan padanya.
"Selamat malam.., saya Ivona teman dari Marcus yang kemarin mengirimkan proposal untuk Dokter Tantowi." Ivona mulai mengenalkan dirinya.
"Malam Nona Ivona.., kebetulan sekali sepertinya kita memang berjodoh untuk bekerjasama. Baru saja saya akan menghubungi kamu, ternyata Non Ivona sudah terlebih dahulu menghubungi saya." Dokter Tantowi langsung menjawab pesan yang dikirimkan Ivona.
__ADS_1
"Terima kasih Dokter untuk waktunya. By the way.., bagaimana dengan project yang saya tawarkan, apakah Dokter tertarik?" tidak mau berpanjang lebar, Ivona langsung to the point.
"The project you made is amazing. Bagaimana aku dapat menolaknya, sebuah usulan untuk mempertahankan hidup orang-orang yang terdiagnose penyakit berat. Alat-alat medis yang kamu ciptakan itu akan dapat membantu untuk menyembuhkan penyakit tersebut." Doter Tantowi memuji hasil karya Ivona.
"Terima kasih untuk pujiannya Dokter. Aku hanya berharap agar usulan project itu bisa bermanfaat bagi orang banyak, sehingga mereka bisa berkumpul lebih lama dengan keluarganya di rumah."
"Pasti Ivona... aku setuju untuk bekerja sama denganmu. Secepatnya draft Perjanjian kerja Sama akan segera dikirimkan ke emailmu, pelajari dulu. Jika semua sudah agree.., segera kita atur untuk penanda tanganan bersama."
"Dokter... aku ada sedikit masalah yang sangat memerlukan bantuan dari Dokter." tiba-tiba Ivona mau memanfaatkan kesempatan itu.
"Oh ya?? Masalah apa itu Ivona. Tell me..., aku akan berusaha untuk membantumu jika memang aku memiliki kemampuan untuk itu." dengan antusias Dokter merespon perkataan Ivona.
"Aku punya kakek... Dokter. Dan kebetulan kakekku saat ini divonis Dokter sedang menderita kanker otak."
"Really?? Dimana dia sekarang,. Coba nanti kamu kirimkan berkas kakekmu, agar aku segera mempelajarinya, kemudian secepatnya melakukan suatu tindakan." Dokter Tantowi merasa antusias, karena saat ini dia juga sangat menginginkan Ivona untuk bergabung. Kemampuan Ivona akan memiliki manfaat yang besar bagi pengembangan Institut Kedokteran mereka. Dengan otaknya yang cemerlang, akan banyak alat-alat medis baru yang akan dihasilkan.
"Iya Dokter.., secepatnya akan aku kirimkan. Diagnose terakhir dari rumah sakit di kota ini, kakek segera harus dilakukan tindakan operasi. Menurutku Dokter Tantowi akan sangat cocok dan aku percaya untuk melakukan tindakan operasi pada kakakku."
__ADS_1
*****************