
Di kantor polisi
Sebelum dilakukan penyidangan atas tuduhan penukaran bayi dan penyuapan petugas rumah sakit, Kepala Rumah Sakit Jiwa atau ayah Vaya ditahan oleh kantor kepolisian sebelum dilakukan penyidangan di pengadilan. Atas intruksi dan pengawasan dari Kavindra Group, tidak semua orang bisa menemui tersangka di kantor polisi. Kakak laki-laki kandung Vaya yang saat ini diijinkan oleh polisi, harus melalui prosedur rumit untuk dapat dipertemukan dengan tersangka tersebut.
"Bagaimana keadaan ayah disini.., aku sudah berusaha untuk mencari pengacara terkenal. Tetapi anehnya tidak ada satupun yang bersedia untuk membela kasus ayah ini." putra laki-laki Kepala RSJ menyampaikan berita pada ayahnya. Laki-laki itu tampak prihatin melihat keadaan ayahnya. Luka lebam di sekujur tubuhnya, sebagai bukti perlakuan menyedihkan yang dialami ayahnya saat berada di dalam. Mereka tidak tahu jika Kavindra Group sudah menekan para pengacara untuk dapat menangani kasus mereka.
"Kenapa bisa begitu.., apakah kamu tidak mencoba mencari pengacara di kota lain? Aku bisa mati disini, para polisi setiap hari menghajarku. Jika tidak.., mereka akan memasukkan preman disini untuk mencari gara-gara denganku," Kepala RSJ mengeluhkan bagaimana pihak kepolisian memperlakukannya.
"Aku juga tidak tahu yah.., kemarin anak buahku ada yang melaporkan. Sebenarnya ada pengacara dari Indonesia Timur yang bersedia untuk mendampingi ayah, tetapi dia tidak memiliki reputasi apapun. Selain itu, bayaran yang dia minta sangat tinggi sekali. Aku khawatir, tidak akan bisa membayar jasanya." terdengar suara lirih kakak laki-laki Vaya.
Kepala RSJ terdiam.., dia juga tidak memiliki simpanan uang. Gaji maupun uang lain yang selalu diberikan Vaya untuknya, selalu habis untuk bermain dengan perempuan-perempuan nakal, dan juga main judi.
"Apakah Vaya sudah tahu masalah ini?? Jika sudah, kenapa kamu tidak bicara padanya. Aku yakin, Vaya masih memiliki uang, karena Nyonya Iswara sering memberinya uang dalam jumlah yang besar." tiba-tiba muncul ide untuk menanyakan keuangan putri kandungnya.
"Coba nanti aku akan memberi tahu Vaya yah. Siapa tahu gadis itu masih memiliki simpanan uang yang banyak. Jika tidak.., maka asset-asset kita harus dijual, agar kita bisa membayar jasa pengacara. Dan berita buruknya, saksi kunci sampai sekarang belum bisa aku temui. Bahkan satupun keluarganya juga menghilang, jadi tidak ada yang bisa digunakan sebagai sandera," kakak laki-laki Vaya tertunduk malu.
Tiba-tiba...
__ADS_1
"Waktu berkunjung sudah habis.., segera tinggalkan tersangka sendiri." belum selesai pembicaraan Kepala Rumah Sakit Jiwa dengan anak laki-lakinya, petugas sudah memberi tahu untuk segera meninggalkan tersangka.
"Aku pergi dulu yah.. Jaga kondisi dengan baik." segera setelah mendengar peringatan dari petugas, kakak laki-laki Vaya kemudian berpamitan.
*************
Rumah Keluarga Iswara
Tuan Iswara bergegas mencari istrinya, dan berhasil menemukan Nyonya Iswara sedang duduk di balkon kamar mereka. Di tangan Tuan Iswara.., terdapat sebuah amplop panjang berwarna coklat dari pengadilan negeri.
"Tentang apa pa..? Tumben juga jam segini papa sudah pulang dari perusahaan." Nyonya Iswara segera menjawab. Tuan Iswara menyerahkan amplop pada istrinya, dan Nyonya Iswara tidak sabar segera membukanya. Setelah membacanya beberapa saat, rauh wajah Nyonya Iswara menjadi berubah pias..
"Benarkah semua ini pa?? Ditemukan kesengajaan pada saat mama, menjalani proses melahirkan putri mama belasan tahun yang lalu?" raut penyesalan dan kemarahan tergambar jelas di wajah perempuan itu. Tuan Iswara kemudian duduk di samping istrinya, laki-laki tua itu juga membayangkan bagaimana wajah Vaya dan Ivona.
"Papa juga tidak menyangka ma.., aku pikir kebetulan saja putri kita tertukar dengan bayinya Vaya, Tetapi ternyata saat ini ada yang mengajukan tuntutan, dan ayah kandung Vaya ternyata adalah Kepala Rumah Sakit Jiwa. Kita malah sudah buta selama ini.., aku juga belum tahu, siapa yang melakukan tuntutan ini. Pihak pengadilan mengundang kita untuk dimintai keterangan." Tuan Iswara tampak lesu, bahkan laki-laki itu tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat itu.
"Iya pa.., selama ini kita sudah menyayangi putri seorang penjahat, dan bahkan mengabaikan keberadaan putri kandung kita sendiri. Setelah putri kandung kita sudah kembali, bahkan perlakuan kita masih tetap sama. Mama menyesal pa.., kenapa tiba-tiba mama sangat merindukan putri kandung kita saat ini. Mama ingin memeluk dan meminta maaf padanya.." air mata mulai mengalir di pipi Nyonya Iswara. Perempuan itu tidak bisa mengendalikan perasaannya, kejadian demi kejadian bagaimana perlakuannya yang selalu membedakan antara Ivona dan Vaya tergambar jelas di matanya.
__ADS_1
"Berhentilah menangis ma.., nanti kita berdua menemui Ivona. Kita harus minta maaf pada putri kandung kita. Dan mulai sekarang, putuskan hubungan dengan Vaya. Orang tuanya sudah demikian teganya memperlakukan keluarga kita seperti ini." dengan wajah merah menahan marah, Tuan Iswara menenangkan Nyonya Iswara.
*************
Tatapan emosi muncul di wajah ketiga putra laki-laki Tuan dan Nyonya Iswara. Selepas makan malam, dengan mengesampingkan kakek akhirnya Tuan Iswara memberi tahu perihal surat panggilan dari pengadilan untuk keluarga Iswara. Meskipun ketiga putra laki-laki itu bukan ketiga putra asli mereka, tetapi mendengar kasus penukaran itu dilakukan dengan sengaja, mereka juga menjadi marah dan merasa tidak terima.
"Nanti Tommy yang akan mengurus semua pa. Papa dan mama istirahat saja di rumah, nanti biar kami bertiga yang akan menangani masalah ini." merasa jika Alexander berada di belakang kasus tuntutan ini, Tommy mencoba bersikap tenang. Karena tidak ada yang memiliki kekuasaan untuk mengendalikan kepolisian dan pengadilan, jika bukan kekuasaan dari salah satu orang terkuat di kota ini.
"Iya pa.., ma.., Thomas dan Rio akan mendamping Tommy. Juga secepatnya, kita akan berusaha agar Ivona kembali ke rumah ini. Sini adalah tempat tinggalnya, masak kita membiarkan putri kandung keluarga Iswara tinggal bersama orang lain." Thomas ikut menanggapi.
Mendengar kalimat Thomas, Tommy hanya bisa meNgambil nafas. Karena tidak akan semudah yang ada di ucapan, mereka bisa membawa pergi Ivona dari kehidupan Alexander. Bahkan Tommy sudah meyakini 100%, jika Alexander memiliki rasa ketertarikan dengan lawan jenis dengan Ivona. Tetapi dia juga tidak berniat untuk mengecewakan Thomas, dia berpikir agar semua mengalir dengan sendirinya.
"Baiklah besok adalah sidang di pengadilan. Siapa yang akan datang ke pengadilan?" Tuan Iswara kemudian bertanya pada putranya.
"Kami bertiga yang akan hadir di persidangan itu pa?? Melihat siapa yang berada dibalik kasus ini, kami yakin jika tidak akan ada pengacara yang berani memberikan pembelaan pada Kepala Rumah Sakit Jiwa itu." Rio mewakili kedua saudara laki-lakinya menanggapi perkataan Tuan Iswara.
***************
__ADS_1