
Ivona memasuki ruang tengah dengan santai, seakan tidak peduli dengan ketegangan di ruang itu. Setelah mendapat telpon dari Richard untuk segera datang ke mansion papanya, selepas operasi gadis itu langsung meluncur. Bahkan, dia tidak memberi tahu Aldo tentang kepergiannya itu. Dengan mata nanar, kakek menatap gadis itu tanpa berkedip. Richard memberi isyarat pada gadis itu, untuk sedikit menunduk pada kakek. Tetapi merasa tidak mengenal dengan laki-laki tua itu, dan juga tidak ada informasi apapun tentang kedatangan kakek, seperti biasa Ivona cuek dalam menemui orang.
"Selamat malam Tuan.., kak Richard.." sebelum duduk, Ivona memberi salam pada kakek dan Richard. Dengan menganggukkan kepala, Ivona tersenyum pada laki-laki tua itu.
"Apakah begitu orang tuamu mengajarkan sopan santun terhadap orang yang lebih tua..?" tiba-tiba terdengar suara kakek yang terkesan memberi teguran pada Ivona. Richard langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan dia menundukkan kepalanya. Mendapat teguran dari laki-laki yang tidak dikenalnya, Ivona tidak merasa marah. Gadis itu malah tersenyum dan dengan berani beradu pandang dengan kakek.
"Dimana letak ketidak sopanan saya dalam menyapa Tuan?? Saya sudah tersenyum dan menundukkan badan, dan sebelum saya duduk, saya sudah memberi sapaan pada Tuan. Tolong Tuan jelaskan.., dimana letak ketidak sopanan saya?" dengan nada tegas, Ivona bertanya langsung pada kakek.
"Na.., Nana.., kendalikan dirimu!" terdengar Richard mengingatkan gadis itu.
"Hmmm..., punya nyali juga kamu.." ucap kakek sambil menatap balik Ivona, tangannya memberi kode pada cucu laki-lakinya untuk membiarkan mereka adu argumentasi.
"Mama saya mengasuh dan mendidik saya dengan cara yang benar Tuan. Jika saya boleh sombong, dokter spesialis, laboran ahli.., arsitek peralatan medis berhasil saya kuasai di bawah didikan keras mama. Sampai kapanpun, saya tidak akan mengijinkan ada orang yang melakukan klaim atas kemampuan yang saya miliki, termasuk papa. Untuk itu, bagaimana bisa saya akan diam saja jika ada orang yang akan menindas saya." sambil tersenyum sinis, Ivona menanggapi perkataan kakek.
Kakek tersenyum kecut melihat kekerasan gadis itu. Laki-laki tua itu seperti berkaca, sifat keras dan tegas gadis itu persis sama dengan sifat dan karakternya. Tetapi dia masih ingin menguji nyali gadis itu, seberapa pantas dia untuk menyandang nama belakang Mahendra.
"Dengan apa yang kamu ceritakan.., itu yang kamu sombongkan di depanku gadis?" dengan nada sarkasme, kakek kembali menanggapi perkataan Ivona. Selesai berkata, kakek mengambil lagi gelas bergagang, dan mulai menyeruput minuman yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Saya tidak bermaksud untuk sombong Tuan.., saya hanya sedang membela diri dari orang yang jauh lebih sombong, dan suka menindas. Jangan panggil saya dengan nama belakang Carminda, jika saya hanya diam saja dalam keadaan tertindas. Mama tidak akan pernah mentolerirnya." dengan tegas, Ivona tidak kehabisan akal dan jawaban untuk beradu argumentasi dengan kakek.
Di luar dugaan, setelah Ivona menjawab setiap perkataan kakek.., perlahan laki-laki tua itu bergeser dari tempat duduknya dan mendekati Ivona. Tanpa berbicara apapun, laki-laki tua itu langsung memeluk Ivona.
"Cucuku..., kamu betul-betul cucuku Ivona.." ucap lirih laki-laki tua itu.
Tetapi rupanya kekhawatiran Richard tidak terbukti. Laki-laki muda itu sejak tadi merasa was-was dan khawatir jika kakek akan semakin menekan adiknya, tetapi ternyata dari wajahnya, kakek malah semakin terlihat terhibur. Melihat hal itu, akhirnya Richard kembali berpikiran tenang.
*************
Malam itu Ivona tidak diijinkan pulang ke mansion Richard, kakeknya meminta gadis itu tetap berada di mansion ini selama kakek ada di Indonesia. Tidak memiliki kesibukan, akhirnya Ivona mengurung diri di kamar dan berselancar di dunia virtual. Bosan berurusan dengan dunia medis, Ivona mencoba mencairkan pikirannya dengan bermain e-sports. Menggunakan kostum dewi perang yang tomboy.., dengan cepat Ivona bergabung dengan partner dan lawan mainnya. Tetapi baru beberapa menit di permainan game, Ivona merasa bosan. Manuver-manuver yang dia lakukan tidak ada yang bisa mengejar, Ivona bisa melakukan pemusnahan sempurna hanya menggunakan satu tembakan. Tidak ada lawan yang bisa menandinginya.
"Atau aku mencoba menghubungi kak Alex ya.., sepertinya laki-laki itu bisa menolongku terlepas dari jurang kebosanan ini. Tapi.., jika sudah bersama dengan kak Alex.., bisa-bisa laki-laki itu tidak mau melepaskanku. Dia belum bisa move on.., jika saat ini kita berada dalam dunia yang berbeda. Kak Alex selalu berpandangan jika kita adalah suami istri." Ivona mengacak-acak rambutnya. Betul-betul hanya berada dalam kamar, bisa mencekiknya.
********
Di dalam kamar Frans Mahendra
__ADS_1
Kakek dan Richard mengajak Frans membicarakan rencana mereka untuk menggelar pernikahan Ivona. Mereka sengaja membicarakannya di kamar Frans, untuk menghindari kecurigaan jika Ivona sampai tahu.
"Terus apa rencanamu selanjutnya Frans..?" tanya kakek perlahan.
"Frans sebenarnya ingin mendatangkan Carminda kesini pa.. Tetapi papa tahu sendiri kan, bagaimana ketatnya penjagaan dan tata tertib di main laboratory." Frans Mahendra mengeluhkan tentang main laboratory.
"Kamu memiliki ide itu untuk menyenangkan hatimu untuk menemui perempuan itu, atau memang tulus untuk cucuku Ivona. Jangan bersembunyi di dalam perahu kamu Frans.." dengan nada tegas, kakek menyindir putra satu-satunya itu. Richard memandang mereka berdua secara bergantian. Sebagai generasi yang lebih muda, Richard memutuskan hanya menjadi pendengar saja.
Frans Mahendra tersenyum kecut. Jujur dalam hatinya, meskipun dia tahu jika Carminda sudah menikah dengan Dokter Rafi, tetapi dia tidak dapat membohongi perasaannya. Dia ingin melihat wajah wanita yang pernah dinikahinya, tetapi karena keadaan mereka harus terpisah.
"Pa.., Carmind sudah menikah dengan dokter yang juga sebagai laboran ahli di laboratorium itu. Yah.. untuk menyenangkan hati gadis itu saja, jika dalam pernikahannya orang yang melahirkan dan mengasuhnya turut mendampingi di hari bahagianya." Frans menyampaikan alasan Ivona.
Kakek terdiam, kemudian setelah mengambil nafas panjang..,
"Aku akan berusaha dengan menggunakan kekuasaanku. Aku akan memintakan ijin untuk Carminda dan suaminya datang kesini. Aku tidak akan segan menghajarmu, jika aku sampai tahu kamu masih memikirkan perempuan itu. Dia sudah bersuami, kecuali perempuan itu masih sendiri." akhirnya kakek akan menggunakan kekuasaanya.
"Benarkah pa..??" ucap Frans Mahendra dengan mimik bahagia. Richard turut merasa senang mendengar kabar sementara itu.
__ADS_1
************