
Pagi hari saat terbangun, Ivona masih merasakan pegal-pegal di sekujur tubuhnya. Sebenarnya hanya tidur selama tiga jam, dia masih merasa malas untuk beranjak. Tetapi karena dia ingat kedatangannya ke negara ini, Ivona langsung bangun dan menuju kamar mandi. Dengan malas, gadis itu langsung berendam di bath-up dan membuka gordyn jendela kamarnya. Matanya memandang suguhan pemandangan yang ada di depannya. Setelah beberapa saat, Ivona menyelesaikan acara paginya dan mulai berpakaian.
"Aku akan mencari breakfast saja terlebih dahulu.., baru nanti lanjut koordinasi dengan Marcus." gumam Ivona pada dirinya sendiri.
Perlahan Ivona berjalan ke atas meja sofa, dan melihat denah menuju restaurant.
"Wow.., ternyata ada di rooftop. Tempat favorit untuk melihat Hong Kong dari atas ketinggian." senyuman ungkapan rasa senang muncul di bibir Ivona.
Setelah membawa iPad.., gadis itu segera keluar dari pintu kamar. Dia melirik ke kamar lain yang ada di Presidential Suite.., tetapi melihat tiga kamar lain yang ada disitu masih tertutup rapat. Perlahan gadis itu keluar, kemudian langsung menuju ke pintu lift yang sedang terbuka, karena ada pelayan hotel yang sedang keluar dari dalam. Ivona segera menekan tombol menuju lantai teratas hotel tersebut.
Pagi cerah dengan sinar matahari yang belum panas, Ivona melihat itu di sekeliling restaurant. Melihat ada meja kosong dengan view langsung keluar, Ivona langsung menuju kesana. Gadis itu kemudian menarik kursi, dan setelah duduk tangannya melambai memanggil seorang waiters.
"Is there anything I can help you with, Miss?" palayan hotel datang menawarkan bantuan pada Ivona.
"Okay..., serve me a cup of hot coffee, and pancakes with maple sauce!" malas untuk berjalan kesana kemari, Ivona sambil menyalakan iPadnya, meminta pada pelayan untuk menyiapkan satu cangkir kopi panas, dan pancake dengan saus maple.
"Okay Miss..., wait a minute, I will prepare your order." pelayan segera meninggalkan Ivona, untuk menyiapkan pesanan gadis itu.
Ivona memantau google classroom untuk melihat tugas sekolah yang sudah diunggah oleh guru-gurunya di sekolah. Tidak berapa lama, gadis itu sudah mengerjakan semua tugas dan mengunggah semua jawaban ke kelas yang sudah disediakan. Ivona tidak habis pikir, kenapa dia masih mau mengerjakan tugas sekolah yang sangat sepele, jika dikerjakan oleh gadis jenius sepertinya. Tetapi untuk mengurangi kejenuhan, dia hanya menganggap tugas-tugas sekolah itu seperti mengisi Teka-teki silang saja.
__ADS_1
"Excuse me, Miss... this is the food and drink you ordered." pelayan meletakkan minuman dan makanan yang sudah dia pesan.
"Okay thanks." setelah mengucapkan terima kasih, Ivona segera menyesap kopi panas, dan mulai memotong kecil-kecil pancake. Perlahan, dia mulai menikmati makanan itu sambil matanya melihat gedung-gedung bertingkat di kejauhan.
"Drtt.., drttt.., drttt.." tiba-tiba ponsel Ivona bergetar. Gadis itu melirik, dan melihat kakaknya Thomas sedang melakukan panggilan masuk.
"Ya.., ada apa kak Thom?" sahut Ivona.
"Kamu ada dimana Na.., apakah kamu tidak kasihan kakek. Dari semalam kakek menanyakanmu." Thomas memberi tahu jika kakek mencarinya.
"Ivona sedang ada urusan kak. Paling satu minggu lagi, jika tidak ada kendala, Ivona akan kembali ke rumah keluarga. Minta tolong sampaikan pada kakek, jika Ivona sedang study tour, jadi untuk sementara belum bisa mengunjungi kakek." Ivona membuat alasan pada Thomas. Bagaimanapun perlakuan Thomas di masa lalu, akhir-akhir ini kakaknya itu sudah banyak melakukan kebaikan untuknya. Jadi, Ivona mencoba mengesampingkan rasa jengkelnya pada laki-laki itu.
"Bukannya kakak sudah berada di Soekarno-Hatta, saat Ivona akan take off. Harusnya sudah tahu dong, dimana Ivona saat ini berada. Sudah ya kak.., Ivona sedikit sibuk.." Ivona langsung mematikan panggilan telpon secara sepihak. Untuk menghindari gangguan dari keluarganya di Indonesia, Ivona mematikan telpon selulernya. Setelah menghabiskan pancake.., Ivona berdiri untuk mengambil salad buah sambil mengagumi suasana di sekelilingnya.
"Betapa bodohnya orang-orang ini.., menghabiskan uang ratusan juta hanya untuk menikmati fasilitas ini. Sepertinya asyik juga, jika ke depan aku bisa menguasai industri perhotelan juga." Ivona membatin sendiri. Dia kembali menikmati salad buah sendiri, beberapa orang mengajaknya berkenalan dengan menganggukkan kepala. Tetapi dia tidak berminat untuk menambah kenalan di negara asing itu.
***************
Di Institut Komputer Internasional
__ADS_1
Masih dengan mengantuk, Ivona mengikuti Marcus untuk berkunjung ke Institut Komputer International. Kekaguman terlihat di matanya melihat perangkat teknologi yang sangat canggih, dia merasa seperti masuk ke dalam lorong waktu dengan laboratoriumnya Tony Stark yang ada pada judul film Avengers. Tetapi gadis itu berusaha untuk menekan rasa kagumnya itu, meskipun binaran matanya tidak dapat dibohongi.
"Ivona.., kenalkan mereka semua adalah anggota timku disini! Andy, Leony, and Mack.., kenalkan Ivona yang kemarin mengirimkan prothotype alat-alat medis ke email." Marcus mengenalkan teman-teman satu timnya pada Ivona.
Dengan santai untuk menciptakan suasana friendy.., Ivona langsung mendatangi mereka satu persatu. Ketiga anggota tim Marcus, mengajak Ivona untuk melakukan toss.
"Give me five..!" seru Andy yang langsung matanya hijau melihat penampakan gadis yang selalu diceritakan dan dipuja Marcus tersebut. Teman-teman satu tim Marcus, mereka mengetahui jika anak itu sangat memperhatikan dan memiliki ketertarikan dengan Ivona meskipun belum berani untuk menyampaikannya.
"Ehemm.., suit.., suit.." Mack terpana melihat Ivona, keluar deheman dan suitan dari mulutnya.
"Ivona..., buat dirimu nyaman disini. Abaikan tatapan mata keranjang mereka disini.., jika mereka mengganggumu, sampaikan padaku! Akan aku buat mereka jadi potongan puding." Leony berdiri dan memegang kedua bahu Ivona sambil tersenyum.
"No problem Leony..., I like it. Kita harus maklum juga.., mereka setiap hari melihatnya hanya keyborard and screen. So.., setiap melihat seorang perempuan jadi lebih bersemangat. Asal tidak melihat kucing dikasih kacamata, dia melihatnya seperti wajah seorang gadis saja. He..he..he.." Ivona menanggapi gurauan Leony dengan santai.
"Ha.. ha... ha.., aku suka candaanmu pagi ini Ivona." sahut Andy sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Okay.., sudah.., sudah.. bercandanya. Ivona.., baru nanti siang kita akan diskusi dengan technical project yang menangani pembuatan peralatan medis. Mungkin pagi ini, sambil menunggu.., kamu bisa lakukan penegecekan lagi pada material concept yang pernah kamu kirimkan padaku! Meskipun sebenarnya, bisa juga kamu kerjakan di kamarmu." Marcus menyela candaan mereka di pagi ini. Dengan serius Marcus membawa Ivona, dan menunjukkan ruangan paling pojok untuk tempat Ivona bekerja. Sedangkan posisi duduk di sampingnya, tempat Marcus biasa membuat penelitian sehari-hari.
Leony menyentil Mack sambil menutup mulut, mereka senyum-senyum membuat pengaturan Marcus untuk mereka. Bagaimanapun sebagai pemimpin tim kerja, mereka harus menurut apa yang sudah diatur oleh Marcus.
__ADS_1
*************