
Selama 3 jam, Ivona berkutat di depan Ipad-nya. Tepat pada pukul 11 siang, dia melakukan proses log out dari akun yang dia gunakan untuk mengikuti battle. Tertulis dengan font besar dalam screen-nya... "Congratulations, you are amazing!". Tetapi Ivona bersedia ikut battle bukan untuk mendapatkan pujian atau reward, karena dengan kemampuan genius di masa lalu, soal-soal yang baru saja dia kerjakan merupakan sesuatu yang masih dibawah standarnya. Dia bersedia mengikuti kompetisi dengan sistem battle, hanya untuk menghormati Pak Haryo, guru yang telah memilihnya dan juga sebagai guru kelas untuk mata pelajaran tersebut. Dengan muka cerah dia menutup gadgetnya itu, dan tanpa sadar..
"Kruk.., kruk.." perut Ivona tiba-tiba berbunyi.
"Kamu lapar ya, kita makan dulu saja!" Ivona kaget, ternyata Alexander duduk di kursi dalam kamarnya. Dia melihat semua tingkah lakunya saat mengikuti battle.
"Kak Alex.. ups," seru Ivona terkejut, semburat merah melintas di pipinya.
Melihat gadis itu terkejut dan malu, Alexander tersenyum. Dia kemudian berdiri, dan berjalan menghampiri Ivona.
"Sudah selesai?? Dari tadi kakak duduk disini melakukan review pekerjaan kantor secara online. Yah.., sekalian sih siapa tahu kamu membutuhkan bantuanku, ternyata kehadiranku disini saja, sama sekali kamu tidak menyadarinya." kata Alexander sambil mengulurkan tangannya.
"Iya sih kak.., sebenarnya Ivona sudah selesai dari tadi. Tapi akun belum bisa kita log out sebelum waktu battle selesai." sahut Ivona. Gadis itu kemudian ikut berdiri, dan tangan Alexander langsung memegangi tangannya.
"Pasti begitu, jika kegiatan kompetisi diadakan secara profesional. Espritt the corps, adalah semangat untuk mendesiminasikan jiwa kohesivitas bagi sebuah tim. Meskipun pada saat kalian melakukan kompetisi, kalian bersaing untuk saling memperebutkan posisi, tapi kohesivitas sesama anggota yang bergabung merupakan nilai yang ingin dikedepankan." Alexander menyoroti sistem kompetisi penyelenggara.
Ivona kaget melihat tiba-tiba Alexander banyak bicara, dan laki-laki muda itu seperti sangat mengetahui tipe-tipe permainan tersebut.
"Kakak ternyata tahu banyak." ucap Ivona sambil menutup mulut dengan menggunakan telapak tangannya.
"Kamu bisa saja." Alexander mengacak-acak rambut di kepala gadis itu.
__ADS_1
"Dulu saat masih di High School, kakak pernah ditunjuk untuk mewakili sekolah juga sebagai wakil untuk mata pelajaran Fisika. Jadi, kakak bisa bicara karena pernah menjalaninya juga." lanjut Alexander.
"Wow..., ternyata Ivona tinggal dengan kakak yang genius juga ya." kata Ivona dengan mata bersinar.
Alexander langsung menarik Ivona, dan mengajaknya keluar dari dalam kamar. Dengan sigap, gadis itu menyambar Ipad dan tasnya, kemudian mengikuti Alexander. Dengan sabar Alexander menuruti apa yang dimaui oleh gadis itu. Dia sendiri dia juga heran dengan apa yang terjadi dengan dirinya akhir-akhir ini. Sejak Ivona tinggal bersamanya, dia lebih menyukai berada di dalam villa, dari pada harus keluar rumah dengan tujuan tidak jelas. Ejekan teman-temannya tidak pernah dia hiraukan, yang penting dia merasakan kenyamanan saat bersama dengan Ivona.
"Apakah Kak Tommy dan kak Rio sudah berangkat ke rumah sakit?" tanya Ivona sambil berjalan mengikuti Alexander.
"Ya, dia akan menggantikan Thomas untuk menjaga kakek. Kita akan cari makan dulu, baru kita menuju rumah sakit."
Alexander langsung menggandeng tangan Ivona, kemudian mereka masuk lift dan langsung turun ke basement tempat parkir mobil.
"Mobil siapa kak?" tanya Ivona heran. Karena mereka kemarin menuju hotel dari rumah sakit, dengan naik helikopter. Saat ini sebuah mobil mewah sudah menunggunya di bawah.
***********
Sesampainya di kamar rawat inap kakek, Alexander kembali berubah menjadi seorang pria dingin. Setiap orang yang melihatnya, akan merasakan aura dingin di sekujur tubuhnya. Keberadaannya seperti mendominasi dengan kekuasaannya.
"Tuan.., ada sambungan telpon dari Nyonya Besar. Beberapa kali Nyonya menghubungi Tuan, katanya tidak tersambung." Rico mendatangi Alexander, dan menyampaikan jika ada sambungan telpon dari mamanya.
"Berikan padaku!" ucapnya dingin. Rico langsung memberikan ponselnya pada Alexander.
__ADS_1
"Ada apa ma?" tanyanya dingin tanpa senyum.
"Mama saat ini ada di villamu. Kemana saja kamu, kata Bi Mina dari semalam kamu tidak pulang ke rumah. Capai-capai mama sampai kesini karena Bi Mina cerita jika ada seorang gadis yang menemanimu tinggal disini. Ternyata kamu dan Mina sama saja, suka membohongi aku." ucap Nyonya Besar dengan nada tinggi.
"Alex ada perjalanan bisnis mendadak ke Jakarta ma. Ini ada juga Rico menemani disini." Alexander membuat alasan. Kali ini dia merasa beruntung karena dia meminta Rico untuk bersamanya pergi ke Jakarta. Dia bisa menggunakan asistennya untuk alasan.
"Kamu menginap dimana, kamar nomor berapa? Ada putri teman mama yang akan berkunjung ke kamarmu." mendengar putranya sedang menginap di Jakarta, secara spontan Nyonya Besar memiliki ide untuk mengirim seorang perempuan ke kamar putranya.
"Mama itu selalu begitu, selalu mengirimkan perempuan acak untuk merayu putranya sendiri. Alexander sudah punya pacar ma, suatu saat nanti, Alex pasti akan membawanya untuk berkenalan langsung dengan mama." Alexander menolak perkataan mamanya.
"Dasar anak tidak tahu diuntung. Kamu bilang jika mama mengirimkan seorang perempuan acak. Mereka itu putri dari kolega-kolega mama, dari bibit, bobot, maupun bebet mereka terlahir dengan grade penilaian tinggi. Mama tidak akan melakukan hal ini, jika mama tahu dengan mata sendiri jika kamu membawa seorang perempuan." Nyonya Besar terus mengomeli putra laki-lakinya itu.
Mendengar mamanya bicara dengan nada tinggi, Alexander menyerahkan ponselnya kembali kepada Rico. Dia malas mendengar ocehan dan omelan dari mamanya dengan masalah yang selalu sama, yaitu masalah perempuan. Rico yang menerima kembali ponselnya bingung, dia masih mendengar Nyonya Besar mengomel, dan dia akan menyerahkan kembali ponsel kepada Alexander dia tidak berani.
"Alex.., kamu dnegar tidak apa yang mama bicarakan padamu?" terdengar suara Nyonya Besar kembali dengan nada tinggi.
"Maaf Nyonya Besar.., Tuan Alex baru ke toilet sebentar. Apa masih ada yang akan Nyonya Besar sampaikan, nanti Rico akan meneruskannya pada Tuan Alex." Rico dengan garuk-garuk kepala mengaku pada Nyonya Besar.
"Dasar anak kurang ajar, tidak tahu diri. Orang tua bicara, malah ditinggal pergi. Kirimkan alamat hotel tempat Alex menginap!" mendengar jika dia ditinggal pergi Alex, Nyonya Besar semakin marah.
"Kita menginap di tempat biasa Nyonya, di The Ritz Carlton Hotel. Karena Cavindra Group juga punya saham di hotel itu, jadi kita putuskan untuk menginap disana." sahut Rico takut.
__ADS_1
Setelah Rico memberikan alamat hotel tempat mereka menginap, Nyonya Besar langsung mengakhiri panggilan telponnya. Khawatir mendapat tambahan omelan dari Alexander, Rico langsung keluar dari kamar rawat inap kakek Ivona.
***************