Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 111 Gagal Kerja Sama


__ADS_3

#Flash back On..


Vaya ditemani Nyonya Iswara dan Roy Kumala segera menuju bar and lounge The Riltz Carlton untuk menemui Giandra. Dengan wajah cerah, mereka sudah berdandan untuk menyambut tamu penting yang sudah membuat janji untuk bertemu dengan mereka. Setelah bertanya pada petugas hotel, mereka disilakan masuk ke private room dimana Giandra dan rekannya sudah menunggu di dalam.


"Good job.., ternyata anda tepat waktu datang kesini. Aku memang butuh tim untuk membuat karya anak bangsa, yang selalu berusaha untuk selalu on time karena menghargai betapa pentingnya waktu." ucap Giandra sesaat menyambut kedatangan Vaya dan rombongannya. Laki-laki itu berdiri kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat tangan tamunya.


Nyonya Iswara, Vaya dan Roy Kumala menerima jabat tangan tersebut. Nyonya Iswara tampak takjub melihat orang yang berada pada instansi bergengsi di negeri ini, dengan mudah menjabat tangannya.


"Terima kasih Tuan Giandra.., ijin saya membawa mama saya karena beliau ingin memastikan keamanan putrinya. Juga teman saya ikut menemani." Vaya mengenalkan Nyonya Iswara dan Roy Kumala.


"Tidak apa-apa.., tapi silakan kalian berdua pindah di meja sana! Ada hal rahasia yang akan aku bicarakan dengan Vaya." Giandra meminta Nyonya Iswara dan Roy Kumala untuk berpindah temoat duduk. Dengan agak bersungut, Nyonya Iswara mengikuti apa yang diperintahkan Giandra.


Setelah Giandra melihat ke sekitar ruangan, dan memastikan tidak ada yang mencuri dengar dia menyesap minumannya.


"Minumlah dulu.., akan ada yang mengurusi mamamu, kamu tidak perlu khawatir!"


Vaya mengikuti Giandra, dia mengambil minuman dari atas meja kemudian meminumnya beberapa teguk. Tampak rasa percaya diri yang besar dalam gayanya. Gadis itu memang sudah terlatih berhadapan dengan orang-orang asing, karena dia sering mengadakan tour keliling dan bertemu dengan orang-orang baru.


"Kamu bawa gadget saat ini?' tanya Giandra tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan laki-laki itu, Vaya agak kaget. Tetapi dengan segera dia menguasai emosinya, dia menganggukkan kepala kemudian mengeluarkan Ipad dari dalam tasnya. Ipad itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Thomas masa lalu.

__ADS_1


"Aku ingin lihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu mendemonstrasikan keahlian yang kamu miliki sekarang! Saat ini di dunia maya sedang beredar banyak pihak yang pro kontra dan akhirnya ditunggangi oleh buzzer, tentang pemimpin negara ini. Bersihkan kerjaan para buzzer dengan berita negatif sekarang!" Giandra langsung memberi Vaya perintah.


Vaya terkejut mendapatkan perintah tersebut, dia sama sekali tidak membayangkan apa yang akan ditanyakan oleh laki-laki di depannya itu. Dia berpikir, malam ini dia akan menanda tangani sebuah kontrak perjanjian kerja sama atas pengangkatannya sebagai peneliti junior di pusat komputer nasional. Dia juga sama sekali tidak memahami apa yang disampaikan oleh laki-laki tersebut. Pada beberapa mata pelajaran, meskipun dia belum mencapai nilai unggul dia masih bisa memahaminya, apalagi dari piano. Tetapi untuk urusan Data Programming dia sama sekali buta akan hal tersebut.


"Cepat lakukan perintahku, waktuku tidak banyak disini! Hanya dalam waktu beberapa menit, kamu sudah bisa membersihkan kekacauan di dunia internet beberapa waktu yang lalu. Sekarang tunjukkan kemampuanmu, dan segera perjanjian kerja sama akan kita tanda tangani." kalimat yang disampaikan seperti menimbulkan tekanan pada Vaya.


"Tuan.., saya tidak begitu mengerti apa yang Tuan Giandra katakan pada saya. Kekacauan yang mana, dan orang-orang yang Tuan kirimkan pada saya beberapa hari lalu, mereka sama sekali tidak menyinggung akan hal ini."Vaya terlihat bingung.


Giandra penelti senior pada pusat komputer nasional merasa ditampar oleh seorang anak kecil. Dia mengganti perintah dengan tugas lain yang lebih rendah, tetapi karena Vaya memang tidak familiar dengan perangkat komputer, gadis itu tetap tidak bisa memenuhinya.


"******.., apa-apaan ini? Bisa-bisanya aku datang kesini hanya untuk dibohongin seorang anak kecil." seru Giandra dengan suara menggelegar. Mukanya tampak merah kehitaman menahan marah.


"Aku tidak bohongin kalian, siapa yang telpon duluan? Anak buah kalian kan, mereka bilang dari pusat komputer nasional, yang memintaku untuk menjadi peneliti junior di instansi mereka." terdengar jelas suara Vaya membela diri.


Nyonya Iswara dan Roy Kumala berpandangan, kemudian mereka berdiri dan mendatangi tempat duduk Vaya dan Giandra.


#Flash back Off


************


Tommy dan Alexander melihat ke dalam private room yang ada di samping ruangan tempat mereka duduk. Tampak seorang laki-laki paruh baya dengan ditemani dua orang laki-laki muda meninggalkan Vaya dan Nyonya Iswara serta Roy Kumala. Merasa bukan urusannya, Alexander menepuk punggung Tommy kemudian pergi meninggalkan sahabatnya itu sendiri. Selama tidak menyangkut masalah Ivona, Alexander tidak mau campur tangan dengan urusan keluarga Iswara.

__ADS_1


Sepeninggalan Alexander, Tommy menghampiri Nyonya Iswara. Jika tidak ada Nyonya Iswara disitu laki-laki muda itu juga enggan untuk campur tangan dalam masalah ini. Tetapi, karena ada mama dari Tommy masa lalu, maka dia segera datang untuk menanyakan keadaannya.


"Mama.., ada apa mama berada disini?" tanya Tommy pada Nyonya Iswara. Melihat kedatangan Tommy, Nyonya Iswara merasa mendapatkan pembelaan.


"Tomm.., tolonglah adikmu Vaya! Dia sudah dibohongi oleh laki-laki yang baru saja meninggalkan ruangan ini. Yang tadi berhadapan denganmu saat mereka mau keluar dari sini." Nyonya Iswara langsung meminta Tommy untuk membereskan masalah Vaya.


"Dibohongi.., masalah apa Ma? Ya tidak mungkinlah, Tommy tidak tahu apa permasalahan Vaya, tiba-tiba harus mendatangi orang yang tidak dikenal. Bisa-bisa malah Tommy mendapatkan somasi dari laki-laki itu." Tommy mencari alasan untuk menolak perintah dari Nyonya Iswara.


Nyonya Iswara kemudian menceritakan asal mula mereka bisa sampai disitu, tetapi Nyonya Iswara menyembunyikan jika orang-orang suruhan Giandra pertama kali datang ke rumah dengan mencari Ivona bukan Vaya. Dia sendiri yang terlalu geer untuk mengganti nama Ivona dengan nama Vaya. Setelah dia menceritakan kembali pada Tommy, Nyonya Iswara baru menyadari jika semua kekacauan ini bersumber dari dirinya.


Tommy mengambil nafas panjang, dia melirik ke arah Vaya yang berdiri dengan muka angkuh di samping Roy Kumala.


"Sudah ma.., tidak perlu lagi dibuat panjang lebar masalah ini! Apalagi untuk saat ini, kekuatan keluarga Iswara tidak artinya di kota besar ini. Bisa-bisa jika Tommy mengejar orang-orang tadi, malah Tommy yang berakhir celaka. Disikapi saja, jika semua tadi hanya untuk memberikan pembelajaran bagi kita. Tommy capek ma, mau istirahat dulu." Tommy membuat alasan.


Mendengar perkataan Tommy, Nyonya Iswara terdiam. Dia membenarkan perkataan tersebut.


"Istirahat.., di hotel mana kamu menginapnya?" tanya Nyonya Iswara.


"Di hotel ini, Tommy satu kamar dengan Rio. Kebetulan ada dua room di kamar." sahut Tommy enteng.


"Ya sudah.., carikan kamar di hotel ini juga. Mama dengan Vaya ikut sekalian menginap disini. Nak Roy..., kamu tidak keberatan kan untuk mengantarkan barang-barang Vaya kesini?"

__ADS_1


Tommy hanya garuk-garuk kepala mendengar permintaan dari Nyonya Iswara, dia harus bersiap mendapatkan omelan dari Alexander esok paginya.


*************


__ADS_2