
Aldo uring-uringan di rumah, sudah dua hari dia tidak mendengar kabar tentang Ivona. Semua panggilan masuk yang dia lakukan ke gadis itu seperti teralihkan ke nomor panggilan lain. Berkali-kali dia mendatangi mansion yang ditempati Ivona milik Richard, selalu pelayan mengatakan jika gadis itu sudah dua hari tidak kembali. Ketika dia mengarahkan mobil untuk menuju mansion Tuan Frans Mahendra, sekelompok militer menghalangi jalannya untuk masuk menuju ke arah bukit. Begitupun Richard.., laki-laki itu juga tidak bisa dihubunginya sama sekali. Berkali-kali dia mendatangi kantornya, hanya sekretaris dan asisten pribadi yang handle semua pekerjaannya.
"Prang..." terdengar bunyi kaca meja pecah karena penyangganya ditendang sekencang-kencangnya oleh laki-laki itu. Dari luar ruangan, Donny dan sekretaris berlari masuk ke dalam ruangan.
Dua orang itu terdiam, melihat meja di depan sofa ruang kerja Aldo pecah berantakan. Dan laki-laki itu tanpa rasa bersalah, malah menatap mereka berdua dengan pandangan tajam. Kedua kaki Aldo diangkat dan diselonjorkan di atas sofa.
"Apa yang terjadi Tuan Muda.., kenapa bisa menjadi seperti ini?" dengan gugup sekretaris bertanya pada Aldo tentang apa yang dia lihat di depannya. Donny memegang lengan perempuan muda itu, dia memberi isyarat agar sekretaris itu diam. Benar seperti yang diduga oleh Donny, bukannya menjawab, Aldo malah melihat sekretaris itu dengan mata galak. Donny segera mendorong punggung sekretaris itu, memintanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Tanpa menunggu lagi, sekretaris itu langsung keluar dari ruang kerja Aldo. Donny menghampiri Tuan Mudanya, laki-laki itu duduk di kursi samping Aldo tidur.
"Tuan Muda.., apakah ada hal yang bisa saya bantu Tuan?" dengan suara lirih, Donny menawarkan bantuan pada Aldo. Laki-laki itu melihat ke wajah Donny, dia kurang percaya dengan kemampuan asisten pribadinya menyelesaikan urusannya. Tetapi mengingat selama ini, urusannya banyak dibantu dan diselesaikan oleh laki-laki itu, akhirnya Aldo melihat ke wajah Donny.
"Cari informasi keberadaan Ivona sekarang!! Aku membutuhkan gadis itu.." dengan suara tegas, Aldo memerintah Donny. Mendengar perkataan Tuan Mudanya, Donny merasa pesimis juga. Tetapi dia menyanggupi untuk mencari tahu dimana keberadaan gadis itu.
"Siap tuan Muda.., secepatnya saya akan mencari tahu keberadaan Nona Muda Ivona saat ini." sahut Donny. Saat Donny akan berjalan keluar, tiba-tiba pintu ruang di dorong orang dari luar.
__ADS_1
Baru saja Donny akan memberi teguran pada orang tersebut, terlihat Tuan Besar dan Nyonya Besar Girindra masuk ke dalam ruangan. Mata Nyonya Besar terbelalak, melihat ruang itu berantakan. Pecahan kaca banyak tersebar kemana-mana.
"Apa-apaan ini..? Aldo.., bisa-bisanya kamu bisa berada dalam ruang yang berantakan seperti ini. Pecahan kaca terhambur kemana-mana, papa tunggu sekarang di meeting room. Cepat papa tunggu disana!" dengan suara tegas bernada marah, Tuan Besar Girindra memberi teguran pada Aldo. Dengan rasa malas, Aldo mengikuti kedua orang tuanya berjalan memasuki meeting room. Di dalam meeting room, ternyata sudah ada penjahit butik langganan keluarga Girindra.
"Cepat lakukan fitting pada Aldo!! Aku akan menungguinya.., jangan sampai laki-laki ini membuat ulah." teriak Tuan Besar Girindra memberi perintah pada penjahit langganan mereka. Dengan sigap dua orang berjalan maju dan melakukan fitting pada laki-laki itu. Tanpa bicara dan tanpa bertanya, Aldo berdiri dan dua orang itu leluasa melakukan fitting baju pada laki-laki itu.
**********
Sama halnya dengan Aldo, Ivona juga merasakan hal yang sama. Akses keluar dari villa yang dia tempati dengan papanya, dijaga ketat oleh militer. Mengingat tingginya posisi kakek, akhirnya gadis itu berusaha memaklumi keadaan tersebut. Tetapi yang menjadi tanda besar baginya adalah nomor ponselnya tidak dapat menghubungi Aldo. Selalu ada jawaban, jika nomor yang anda hubungi sedang dialihkan. Bahkan chat-chat yang dia kirimkan melalui media sosial juga tidak terkirim. Seperti ada bug yang sengaja membatasi aksesnya untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya. Tetapi mengingat posisi dan kerahasiaan kakeknya selama di villa ini, Ivona berusaha untuk memakluminya. Gadis ini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, daripada keluar karena tidak bisa dipungkiri, Ivona memang membatasi interaksi dengan Mahendra.
"Kamu tidak bertanya dulu pada papa, akan diajak kemana?" tanya Frans sambil tersenyum pada putrinya. Tanpa diduga, Ivona merangkul papanya, dan keduanya berjalan berdampingan.
"Papa adalah papa Ivona, meskipun belum lama Nana tahu informasi ini. Kebahagiaan bagi Nana, untuk dapat menemani papa." jawab Ivona, gadis itu memaksakan senyumnya.
__ADS_1
Dari arah ruang belakang, Mahendra tersenyum masam melihat kedekatan Frans dengan putrinya. Meskipun terlihat jika Ivona seperti terpaksa mengikuti papanya, tetapi mereka terlihat lebih dekat dan lebih akrab.
Sesampainya di ruang tengah, kening Ivona berkerut. Di ruangan tersebut, terlihat beberapa orang dari butik seperti sedang menyiapkan gaun pernikahan untuknya.
"Ada apa ini pa..? Gaun pengantin siapa yang papa siapkan ini?" dengan penuh tanda tanya, Ivona menanyakan gaun itu pada Frans. Laki-laki itu tersenyum dan melihat ke wajah Ivona.
"Pada saatnya nanti kan putri papa juga akan menikah. Mumpung papa masih hidup, dan juga kakekmu ada disini, papa akan menyiapkan untuk putri papa. Bahkan jika Nana mau, perhelatan pernikahan bisa digelar secepatnya." ucap Frans tiba-tiba, sampai sejauh ini laki-laki ini masih menutupi semuanya dari gadis itu.
"Ivona tidak akan menikah dengan siapapun pa.., jika tidak ada mama disini." ucap Ivona kecut.
"Nanti kita pikirkan ke depan. Saat ini, papa ingin melihat putri papa melakukan fitting gaun pengantin, papa juga akan memaksa Aldo untuk melakukannya. Bukankah laki-laki itu yang kamu inginkan untuk menjadi pendampingmu sayang?" dengan lirih, Frans Mahendra berbicara pada Ivona.
Tidak mau memperlama waktu, Ivona mendekati orang-orang butik. Dengan cepat orang-orang itu segera melakukan fitting, dan mencatat dengan cepat kekurangan dari gaun yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Senyum cerah menghias di bibir orang-orang butik, karena calon pengantin perempuan lebih mudah bekerja sama, dari pada Aldo. Frans Mahendra tersenyum senang melihat kesediaan Ivona untuk melakukan fitting baju pengantin. Menurut kabar dari keluarga Girindra, Aldo juga sudah melakukannya meskipun dengan paksaan dari tuan Girindra. Tanpa sadar air menetes dari sudut laki-laki paruh baya itu, tidak disadarinya jika putrinya akan datang dan sudah mempersiapkan sebuah gaun.
__ADS_1
**********