Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 191 Kesalahan Fatal


__ADS_3

Rossie merangkul Vaya dan membawanya berjalan menuju lantai diskotik. Tetapi melihat gadis itu tidak merespon dengan gerakan mengikuti irama musik, Rossie membawanya untuk duduk di depan meja bartender. Vaya lebih cocok untuk didekati oleh laki-laki, bukan untuk mendekati laki-laki.


"Duduklah disini Vay.., aku akan berjoged dulu!" bisik Rossie dengan senyum yang sulit diterjemahkan. Vaya hanya melihatnya tanpa menjawab, tetapi kemudian gadis itu menganggukkan kepala.


Rossie segera menelusup ke orang-orang yang sedang berjoget, sambil matanya mencari mangsa untuk dia umpankan pada Vaya. Dia sudah berpikir, jika sebentar lagi akan ada aliran dana yang masuk ke dalam rekeningnya.


"Nathan.., bagaimana kabarmu?" dengan ramah, Rossie menghampiri laki-laki perut buncit dan memanggilnya dengan panggilan Nathan.


"Hi pretty woman.., masih sama seperti dulu Rossie. Selalu mendambakan pelukan dan ciuman darimu." Nathan langsung memeluk Rossie dan mengecup sekilas bibir Rossie.


"Mau yang baru tidak?? Jika mau, aku ada barang baru nih. Dijamin.., dalam hitungan menit kamu akan klepek-klepek Nathan." dengan senyuman nakal, Rossie berniat menawarkan Vaya pada laki-laki itu. Terlalu sayang jika seorang gadis secantik Vaya hanya diterjunkan sebagai Ladies Club. Menjualnya akan lebih mendapatkan uang yang jauh lebih besar baginya, dan juga bagi gadis itu.


"Mana Ross.., aku harap kamu jangan mencoba bermain-main denganku. Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu, jika berani untuk mempermainkanku." mendengar perkataan Rossie; Nathan langsung tertarik.


"Tuh.., lihat gadis yang duduk di depan bartender itu! Aku bisa membawanya ke ranjangmu malam ini, tapi kamu tahu sendiri, berapa bayaran yang pantas untuknya." ucap Rossie sambil tersenyum menggoda. Nathan mengarahkan tatapan ke arah yang ditunjukkan oleh Rossie. Melihat penampilan Vaya yang terlihat imut dan menggoda, mata laki-laki itu menjadi berkilat.


"****.., baru melihatnya dari jauh saja, gadis itu sudah membuatku horny Ross.." sambil berbicara, laki-laki itu mengambil ponselnya.


"Cek mobile banking, itu sebagai down payment. Sisanya akan aku kirim, setelah aku mendapatkan kepuasan dari gadis itu." ucap Nathan dengan tatapan yang tidak mau lepas dari tubuh Vaya, yang tampak ketakutan saat ada laki-laki tua yang mendekatinya.

__ADS_1


Rossie segera mengambil ponselnya, dan mulutnya menyeringai puas saat melihat angka sembilan digit masuk ke rekeningnya.


"Okay.., tunggu di private room. Aku akan segera membawanya kesana untukmu." ucap Rossie sambil mengerling.


"Jangan private room, aku kurang puas untuk memperlakukannya sesuai obsesiku. Bukakan kamar untukku.' ucap Nathan.


"Siap Boss.." Rossie kemudian meninggalkan Nathan, dia berjalan ke reservasi room, dan meminta satu kamar untk dibukakan atas namanya. Setelah urusannya selesai, Rossie kemudian berjalan menghampiri Vaya.


"Heh.., menyingkir dari orangku!" Rossie menghardik seorang laki-laki yang sedang menggoda Vaya.


"Terima kasih kak Rossie.., Vaya takut berada disini." Vaya sangat senang saat melihat kemunculan Rossi di dekatnya, gadis itu langsung memeluk Rossie. Gundukan dua bukit Vaya menempel di dada Rossie, dan perempuan itu memejamkan mata menikmatinya sebentar.


Setelah bartender menyerahkan minuman, Rossie memasukkan sebutir pil ke sloki yang akan dia berikan untuk Vaya. Kemudian dia berjalan menghampiri gadis itu.


"Minumlah dulu Vay.., kita akan segera pergi dari tempat ini!" ucap Rossie dengan suara lembut.


Tanpa banyak prasangka, Vaya langsung mengambil sloki dan langsung meminum minuman soda itu sampai habis. Rossie tersenyum licik, melihat Vaya minum tanpa curiga.


*************

__ADS_1


Rossie segera memapah Vaya yang mengeluh kepalanya sedikit pusing karena mabuk. Rossie tersenyum sambil mendorong pintu kamar VVIP yang sudah dia pesan di reservasi room.


"Kenapa kita tidak langsung pulang kak.., ini kamar siapa?" ucap Vaya merasa aneh, saat dia diajak masuk ke dalam kamar. Dia memandang Rossie dengan penuh tanda tanya.


"Istirahatlah dulu disini Vay.., sambil menunggu orang-orang di club ini bubar dan club nya ditutup. Kamu akan aman disini, dan tidak akan diganggu kakakmu. Tidurlah dulu.., aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu." pura-pura menjadi dewi penolong yang menyelamatkan Vaya, Rossie bersandiwara menjadi orang baik.


"Baik kak.., Vaya akan tidur dulu sebentar sambil menunggu kak Rossie bekerja." Vaya kemudian berjalan meninggalkan Rossie di depan pintu. Dia merasa agak heran, karena tiba-tiba dia merasakan kepalanya menjadi pusing. Tanpa memperhatikan Rossie pergi, Vaya langsung berbaring di atas ranjang, dan tidak lama matanya langsung terpejam.


Beberapa saat Vaya tertidur, tetapi tiba-tiba gadis itu merasa gerah. Tubuhnya berkeringat, dan dia tidak melihat jika ada laki-laki dengan perut buncit tersenyum sambil mengamati tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tanpa disadari, Vaya melepaskan baju yang dia kenakan, dan kembali dua bukit kembar yang masih terlihat kencang mencuat keluar. Gadis itu merasakan seperti aliran darah yang kuat mengalir cepat menuju organ kewanitaannya, dan dia merasa tiba-tiba ingin mengeluarkan sesuatu dari organnya tersebut. Air liur Nathan hampir menetes melihat pemandangan itu. Tanpa menunggu lagi, laki-laki itu kemudian melepaskan bajunya sendiri dengan tidak sadar.


"Honey.., kita akan nikmati malam ini berdua honey.." dengan suara serak Nathan berbisik di telinga Vaya. Mencium aroma maskulin di dekatnya, tangan Vaya langsung meraih leher Nathan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nathan. seperti mendapatkan durian runtuh, bibir Nathan langsung menyergap bibir Vaya. Kedua bibir kenyal itu saling melu**mat, menghisap, dan saling mengisi satu dengan yang lain.


"Aahh..., mmm...uhhh.." suara de**sahan dan lenguhan terlolos dari mulut Vaya. Gadis itu benar-benar sudah kehilangan kesadarannya, dalam sekejap tanpa melihat laki-laki yang sedang bersamanya, dia bertingkah seperti seorang gadis yang binal.


Bibir Nathan bergerak turun menyusuri leher Vaya, dan belakang telinganya. Gadis itu sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, aroma amor sudah melingkupi kamar itu. Tanpa mengenal rasa malu, seperti mendapat warisan sifat dasar dan alami manusia, Vaya membalikkan tubuh Nathan, dan dia memimpin di atas. Laki-laki itu merem melek mendapatkan perlakuan penuh ga**irah dari seorang gadis yang masih muda.


Satu tangan Nathan mere**mas bukit kenyal sebelah kiri, sedangkan mulutnya menghisap bukit yang sebelah kanan. Hasrat kedua manusia itu seperti tidak terpuaskan.., dan dengan kasar tangan Nathan menyibakkan kedua kaki Vaya, dan tanpa ijin dari gadis itu, Nathan menyatukan inti mereka.


"Aaaw..., sakittt..." Vaya teriak dan menjerit kesakitan saat ada benda asing yang menyeruak masuk ke organ intimnya.

__ADS_1


 ***************


__ADS_2