
Karena kejadian tidak mengenakkan di J Mall, ijin untuk pergi keluar tanpa didampingi Alexander menjadi sangat sulit dilakukan oleh Ivona. Sebenarnya Ivona merasa bisa untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri, tetapi kemauan suaminya sudah keras, dan sangat sulit untuk dirubah. Bahkan Alexander memutuskan untuk tempat tinggal mereka saat ini, pindah di villa yang baru, yang berada diatas bukit. Tidak sembarang orang bisa mengakses jalan menuju ke villa tersebut.
"Nana.., kakak mau berangkat kerja dulu. Jika Carol atau Tommy ingin berbincang denganmu, suruh mereka yang datang kesini. Nanti kakak akan sampaikan pada petugas yang menjaga keamanan di portal depan." sebelum berangkat kerja, Alexander meninggalkan pesan untuk Ivona. Karena akses menuju villa hanya satu jalan, siapapun yang melakukan perjalanan keluar masuk, akan dapat dipantau dengan jelas oleh para pengawal.
"Iya kak.., kebetulan untuk hari ini Ivona juga lagi MAGER, pingin tiduran di rumah seharian. Nanti mau ngecek kiriman pekerjaan dari Marcus.." jawab Ivona dengan santai.
"Benar hanya melihat pekerjaan saja kan, tidak melakukan komunikasi dengan laki-laki itu." sambil memegang bahu Ivona Alexander bertanya. Mendapat pertanyaan itu, Ivona sedikit jengkel, dia merasa dicurigai oleh suaminya sendiri.
"Apakah kakak pernah menemukan Ivona berlaku genit dengan laki-laki lain?" tidak menjawab pertanyaan Alexander, Ivona malah pergi meninggalkan Alexander sendiri. Alexander tersenyum mendengar perkataan itu, laki-laki itu kemudian mengejar Ivona dan memeluknya dari belakang. Dagu Alexander diletakkan di pundak Ivona dari belakang.
"Jangan marah sayang..., apakah tidak boleh jika suamimu ini sangat mengkhawatirkan istrinya yang cantik?" Alexander mencoba merayu Ivona.
"Posesif.., Ivona tidak suka." jawab gadis itu cepat. Alexander memberi ciuman ke pipi Ivona sambil tetap memeluknya.
"Jaga diri ya, kakak akan berangkat sekarang." tidak mendapat tanggapan dari istrinya,Alexander langsung berpamitan sambil tersenyum. Masih dengan mulut yang cemberut, Ivona mengikuti Alexander dan mengantarnya sampai ke parkiran mobil.
"Cup.." sekali lagi Alexander mencuri ciuman dari bibir Ivona. Gadis itu menatap suaminya dengan melotot.
"He.., he.., he.., habis bibir Nana seksi minta dikecup.." ucap Alexander yang langsung masuk ke dalam mobil.
*************
__ADS_1
Ivona menyalakan iPad untuk membunuh rasa sepi berada di villa sendirian, hanya ditemani oleh pelayan rumah. Susahnya jalan untuk keluar masuk karena selain naik turun, juga berbelok-belok menjadikannya lebih menyukai berada di rumah daripada harus pergi keluar. Sambil berselonjor diatas sofa, Ivona segera mengirimkan konsep hasil pikirannya ke email Marcus. Kemudian gadis itu mengunjungi web-web untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan dunia Information and Technology.
"Tring.." notifikasi pesan masuk di aplikasi chatting milik Ivona. Gadis itu meliriknya, dan ternyata Marcus yang mengirim emoticon padanya.
"Hi Marc... ada apa?" Ivona menanggapi kiriman emoticon dari Marcus.
"Sudah selesai belum project barunya?? Jika sudah ada yang akan aku sampaikan nih."
"Cek email, beberapa detik lalu sudah ada notifikasi message sent!" dengan santai Ivona menanggapi pertanyaan Marcus.
"Okay.., bentar lagi aku download. Iv.., mau nanya nih. Kabarnya pusat komputer nasional mengirimkan penawaran padamu, tetapi tidak kamu respon ya?? Mereka confirm ke aku, dipikir mereka, aku yang melarang kamu untuk join dengan mereka. Meskipun iya juga sih, jika kamu bertanya padaku." Marcus menanyakan tentang tawaran dari pusat komputer nasional.
"Mungkin.." jawab Ivona cepat.
"Saat aku masih sekolah, sepertinya ada yang mengirim orang ke rumah Keluarga Iswara, tempat orang tuaku. Tetapi untungnya Nyonya Iswara memilih Vaya untuk bertemu dengan mereka, dan failed akhirnya." akhirnya Ivona menjelaskan pada Marcus.
"Tetapi mereka menyampaikan padaku, jika mereka mengundangmu secara resmi via surat. Surat itu mereka kirimkan ke sekolahmu, dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik yang menerimanya." dahi Ivona berkerut. Akhirnya dia mengingat ada amplop warna coklat yang diberikan Wakil Kepala Sekolah, saat dia mengambil hasil Kelulusan.
"Oh surat yang itu. Sudah aku buang ke bak sampah." Marcus tersenyum sendiri membaca tulisan pesan Ivona.
"By the way.., kapan kamu akan memutuskan untuk pindah ke negaraku. Atau kamu memilih negara selain Hong Kong, aku akan membuat pengaturan untukmu." Marcus menanyakan tentang kepindahannya. Ivona memang tidak bercerita, jika dia sudah mengakhiri masa lajangnya. Apalagi Alexander juga memberi kebebasan untuk mengerjakan pekerjaannya secara online. Bahkan, dia juga sudah didaftarkan Alexander untuk pergi kuliah ke Institut Teknologi yang memiliki peringkat terbaik di Indonesia.
__ADS_1
"Sorry Marc.., aku belum ada pikiran saat ini. Aku sedang menikmati hari-hariku saat ini, yang tidak memikirkan lagi beban sebagai murid sekolah." dengan cepat, Ivona menanggapi perkataan Marcus.
"Oh ya Marc.., aku masih ada pekerjaan yang lain. Kita akhiri ya chat kita." tidak mau berpanjang lebar, Ivona mengakhiri chat dengan Marcus.
"Yap, sesukamu." respon Marcus, tetapi Ivona sudah tidak membacanya.
***********
Di rumah kakak Vaya
"Vay.., kamu harus menurut sama kakak! Tidak ada hasil yang banyak jika kamu terus-terusan hanya bekerja sebagai SPG. Nanti malam, kamu ikut kakak!" kakak Vaya mengajak adiknya berbicara sambil sarapan pagi.
"Maksud kakak?? Vaya diminta keluar dari pekerjaan sebagai SPG. Syukurlah.., terima kasih kak." mata Vaya langsung berbinar mendengar perkataan dari kakaknya itu. Gadis itu melanjutkan sarapan paginya dengan semangat.
"Ya.., kamu mulai nanti malam harus bekerja di club. Majestic Club membutuhkan satu tambahan ladies club, nanti akan ada orang yang akan mengajarimu bagaimana harus menghadapi para tamu." ucap kakak Vaya dengan enteng. Wajah Vaya mendadak pucat pasi, saat mengetahui kemana kakaknya akan membawanya nanti malam.
"Maksud kakak, Vaya akan kakak minta menemani para pengunjung Club?? Kak.., jangan paksa Vaya untuk melakukan kegiatan itu kak! Vaya tidak mau melayani om-om gendut dengan perut buncit, jangan kak!" nafsu makan Vaya langsung menghilang. Dia merayu kakaknya, untuk membatalkan ajakannya.
"Kamu hanya menemani dan melayaninya minum, joget. Kakak tidak memintamu untuk tidur dengan mereka. Menurut.., jangan melawan kamu!" dengan nada tinggi, kakak Vaya memaksa adiknya untuk menuruti kemauannya.
"Tapi kak.., semua orang akan mengejekkku. Mereka akan membubuhkan cap padaku sebagai seorang agdis yang nakal. Kasihani Vaya kak.." air mata Vaya mulai mengalir membasahi pipinya. Harapan untuk merasa dilindungi oleh kakak kandungnya, ternyata hanya angan-angannya saja. Ternyata dia malah diperalat untuk mencari uang, untuk bersenang-senang kakaknya itu.
__ADS_1
"Diam kamu! Sekali lagi kamu membantah, aku akan seret kamu ke rumah bordil. Apa susahnya, hanya menemani laki-laki minum, berjoged, bahkan jika kamu bisa merayunya, maka uang dollar akan mengalir dengan mudahnya ke rekeningmu." ucap kakak Vaya, sambil berdiri dan meninggalkan adiknya sendiri di dapur.
*************