
Ivona berpapasan dengan Dokter Rafi di koridor laboratorium, dengan senyuman, laki-laki paruh baya itu menyapa Ivona. Sebagai rasa hormat terhadap yang lebih tua dan juga merupakan atasannya, gadis itu menganggukkan kepala pada laki-laki tersebut.
"Selamat pagi Dokter.." dengan senyum sumringah, Ivona mendahului menyapa dokter itu dengan kata-kata. Dokter Rafi berjalan lebih dekat ke Ivona, dan menjejeri langkahnya. Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju main laboratory bersama-sama.
"Sebenarnya ada yang ingin aku diskusikan denganmu Miss Nana.., kapan kamu ada waktu senggang berbincang denganku?" tiba-tiba Dokter Rafi menoleh ke wajah gadis yang berjalan di sampingnya itu.
"Hmm.., tentang apa ya Dokter..?? Jika hal itu terkait dengan mama yang semalam meninggalkan Ivona, dan lebih mengutamakan Dokter, semua sudah dimaafkan." dengan santai Ivona menggoda Dokter Rafi. Laki-laki itu tersenyum kecut dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Kamu jangan berpikiran tidak-tidak tentang semalam, tidak ada yang terjadi antara aku dengan mamamu. Kami hanya berbicara tentangmu, dan itulah yang ingin aku diskusikan denganmu secepatnya." Ivona sontak terkejut dengan perkataan Dokter Rafi. dia mengalihkan pandangannya ke wajah laki-laki itu lagi. Tidak ada kebohongan di mata Dokter Rafi.
"Maksud dokter?? Hal apa yang ingin dibicarakan tentang Ivona. Jika Ivona boleh meminta Dokter.., hentikan saja jika Dokter dan mama berupaya untuk mengeluarkanku dari sini. Dengan adanya mama disini, jujur Dok... Ivona masih merasa memiliki saudara, memiliki teman. Kecuali mama juga bisa keluar dari laboratorium ini, Ivona baru bersedia untuk menghabiskan hidup di luaran sana." gadis itu mendahului membicarakan tentang dirinya, dia tidak ingin laki-laki itu dan mamanya berhadapan dengan resiko hanya untuk mengeluarkannya dari sini. Dia memahami betapa rahasianya identitas peneliti yang bisa memasuki laboratorium, dan bahkan beberapa harus mengabdikan hidupnya sampai usianya berakhir.
"Mamamu akan merasa sedih Miss.., jika kamu korbankan waktu dan masa mudamu disini. Kamu harus melanjutkan hidupmu, masa depanmu.., keturunanmu. Kamu tidak akan bisa mendapatkan semua, jika bertahan di main laboratory. Tenanglah..., aku akan memikirkan cara untuk mengeluarkanmu dari sini. Terlepas kamu mau atau tidak." dengan suara lirih, Dokter Rafi memaksakan jika gadis itu harus secepatnya keluar dari lingkungan ini.
"Kenapa dokter berpikir untuk memaksakan hal itu pada Ivona?? Saya saja merasa jauh lebih baik berada disini, apalagi setelah bertemu dengan mama Dokter." selain alasan sudah bertemu kembali dengan mamanya, Ivona sekilas terbayang wajah Alexander suaminya. Meskipun, pernikahannya dengan laki-laki itu seperti sebuah mimpi baginya, tetapi dia tetap merasa jika semua itu adalah nyata.
__ADS_1
"Jangan mengaturku dan Carminda.. Kami semua berpikir untuk kebaikanmu." ucap Dokter Rafi dengan nada sedikit tinggi. Melihat kekerasan hati laki-laki itu, dan membayangkan wajah mamanya yang sudah banyak berkorban untuknya, Ivona terdiam. Dia mencoba untuk tidak membantah perkataan laki-laki itu. Bagaimanapun mamanya memiliki keterikatan dengannya. Tanpa sadar mereka sudah tiba di depan pintu masuk ke ruang kerja mereka.
"Dokter.., Ivona masuk dulu ya. Jangan berpikir terlalu jauh tentang saya ya Dokter.., untuk saat ini, bersama dengan mama, Ivona merasa jauh lebih tenang dan lebih baik. Ivona permisi dulu, mau masuk ke ruangan." gadis itu langsung meminta ijin untuk masuk ruang kerjanya, ketika sudah selesai menyelesaikan perkataannya.
"Ya.., take care." dengan senyum pahit, Dokter Rafi menatap gadis itu sampai masuk ke dalam ruang kerjanya.
***********
Tuan Johnny membawa dua orang bersamanya menuju integrated laboratory menggunakan mobil komando militer tertinggi di negara itu. Tidak lama, Richard dan Aldo serta Dokter Marcus juga sudah tiba di belakang mobil militer tersebut. Penjaga pintu gerbang, berlari-lari membukakan pintu gerbang begitu melihat mobil yang datang, dan terlebih driver yang mengemudikan mobil tersebut menunjukkan surat penugasan untuk memasuki laboratorium itu.
"Selamat siang Kolonel Jendral Johny, apakah ada yang bisa kami bantu?" petugas keamanan segera memberi hormat pada laki-laki itu, pangkat militer yang dimiliki Johnnya membuat orang yang bertemu dengannya, dengan sikap sempurna akan menyapanya.
"Siap Kolonel Jendral.., mari kami antar dulu untuk masuk ke ruang transit. Mohon ijin untuk memeriksa keamanan orang-orang yang datang bersama dengan Kolonel Jendral." dengan penyampaian hati-hati, petugas keamanan meminta ijin untuk memeriksa rombongan yang dibawa Johnny.
"Laksanakan." dengan tegas, Johnny menjawab kemudian berjalan masuk ke laboratorium. Dua orang ajudannya berjalan di belakang laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Siap." setelah menjawab, beberapa petugas dengan membawa detector memeriksa Richard, Aldo, dan Dokter Marcus. Setelah memastikan ketiga orang itu aman, petugas keamanan mengijinkan mereka masuk. Sedangkan Ronald staf cabang dari perusahaan Aldo, diminta untuk stand by di mobil.
Dengan langkah cepat, ketiga orang itu segera mengejar ketertinggalan mereka dengan rombongan yang datang bersama Johnny. Kedekatan emosional antara Richard dengan laki-laki itu, membuat orang tertinggi di Badan Intelejen itu dengan suka rela membantunya. Apalagi informasi tentang kemungkinan besar, gadis yang akan mereka bawa keluar adalah cucu perempuan dari kakek Richard.
Terlihat sekretaris dan petugas receptionis pemimpin tertinggi laboratorium, menyambut kedatangan Kolonel Jendral Johnny dan rombongannya dengan gugup. Mereka merasa tidak siap menyambut kedatangan, karena tanpa ada kabar dan pemberitahuan sebelumnya.
"Silakan duduk dulu Kolonel Jendral..., kami akan segera mengkomunikasikan kedatangan Tuan dan rombongan kepada pemimpin kami. Kebetulan, pemimpin kami sedang mengadakan rapat di meeting room." dengan gugup, sekretaris mempersilakan mereka duduk.
"Ya.., tidak perlu sungkan kepada kami. Tinggalkan kami disini, dan urus pekerjaanmu. Jika Kepala Laboratorium sudah bisa menemui kami, informasikan secepatnya." dengan dingin, Tuan Johnny menanggapi perkataan sekretaris itu.
"Siap Kolonel Jendral.." dengan membungkukkan badan, sekretaris segera meninggalkan rombongan dari komando militer, untuk menyiapkan wellcome drink.
Richard beserta dua orang bersamanya segera memasuki ruang transit, tanpa bicara mereka langsung duduk di belakang Johnny. Marcus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dari mana Aldo dan Richard dapat membawa orang penting dari komando militer. Laboratorium ini memang di bawah komando dari mereka, sehingga keberadaan komando militer negara tersebut memiliki kekuasaan tertinggi disitu.
"Richard.., titipan dari kakekmu. Serahkan pada gadis itu, jika memang terbukti jika gadis itu benar-benar adikmu beda ibu." dari kursi di depannya, Johnny menyerahkan amplop besar yang dia bawa dari tadi. Richard menatap wajah Johnny, setelah laki-laki itu menganggukkan kepala, Richard langsung menerimanya. Mata Richard terpaku pada amplop besar, karena tidak disegel dia bisa melihat ada dua pesan di dalamnya. Melihat satu note yang ditulis untuk dirinya, Richard segera mengambil dan membacanya.
__ADS_1
"Jika gadis yang diceritakan Johnny benar-benar adikmu.., berikan amplop itu padanya. Orang yang paling tepat untuk disalahkan adalah kakek, dan bawa dia untuk menemui kakek." Richard menghela nafas, setelah membaca tulisan tangan kakeknya itu.
*************