
Alexander tersenyum kecut, saat dia menoleh ke samping. Ternyata sedari tadi dia bicara, entah apakah ada yang masuk di telinga Ivona. Ternyata gadis itu tengah tertidur di sampingnya, tanpa sadar tangan kirinya mengusap pipi Ivona. Kemudian dia kembali konsentrasi dan melanjutkan perjalanan ke villa.
"Semoga dengan tidur sebentar, rasa marahmu sudah menguap Nana.." gumam Alexander.
Tidak berapa lama mengemudi, Alexander sudah memarkirkan mobil di depan teras masuk ke rumahnya. Beberapa pelayan rumah bergegas membukakan pintu masuk rumah dan pintu mobil untuk mereka.
"Pergilah, aku akan membawa Ivona sendiri!" Alexander memerintah para pelayan untuk meninggalkannya sendiri. Laki-laki muda itu segera keluar dari mobil, dan berjalan memutar depan mobil untuk mengangkat Ivona. Dia melepaskan seat belt yang mengunci tubuh Ivona, kemudian dengan kedua tangannya dia mengangkat Ivona dengan gaya bridal style.
"Ehmmm..," Ivona mencari kenyamanan di dada bidang Alexander.
"Hah.., kamu lucu jika sedang tidur Nana." sambil mengangkatnya ke dalam, Alexander bergumam sendiri. Dia merasa bingung, tiba-tiba merasakan gelenyar aneh saat kepala gadis itu meringkuk di dadanya. Alexander merasa nyaman membawa gadis itu dalam dekapannya, dengan tersenyum dia segera masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua.
Dengan hati-hati Alexander membaringkan Ivona di atas ranjang, dan gadis itu langsung memeluk guling. Alexander sebenarnya ingin membangunkan gadis itu untuk memintanya mandi. Tetapi melihat tidurnya yang pulas, dia tidak tega. Perlahan laki-laki muda itu menarik selimut, kemudian menyelimuti gadis itu.
"Selamat tidur Nana.., sweet dream." bisik Alexander pelan di telinga Ivona, kemudian mengusap wajahnya sebentar.
Setelah melihat gadis itu sebentar, Alexander tersenyum kemudian keluar dari dalam kamar.
*****************
Vaya merasa jengkel dan mencari cara agar bagaimana dia bisa kembali ke rumah keluarga Iswara. Setelah kedua kakaknya pergi, dan melihat tatapan ingin tahu teman-temannya di SMA Dharma Nusa, Vaya segera pulang menuju hotel. Dia memang dicarikan hotel untuk menginap oleh Nyonya Iswara, dan hotel itu berada tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Iswara. Sesampainya di kamar hotel, Vaya bingung mau mengerjakan apa. Dia tiba-tiba teringat dengan Nyonya Iswara, tetapi terlalu gengsi untuk menghubunginya karena tidak mau terkesan jika dia membutuhkan sumber daya dari keluarganya itu.
__ADS_1
"Aku harus memancing agar mama menghubungi aku saat ini." Vaya berpikir sendiri.
Dia kemudian mencari ponselnya, kemudian mencari picture air mata yang menetes dari kelopak mata seorang gadis. Setelah mendapatkan, dia lakukan download.
"Aku akan menggunakan picture ini sebagai story pada statusku." gumam Vaya. Gadis itu segera membuka aplikasi whattsapps dan mengunggah gambar yang barusan dia download untuk statusnya.
"Yang terbuang dan terlupakan.. hiks." bunyi status dalam picture unggahannya.
Benar yang menjadi dugaan Vaya, tidak berapa lama Nyonya Iswara memberikan panggilan telpon padanya. Dia mendiamkan panggilan telpon tersebut, dan setelah tiga kali panggilan tidak terjawab, dia baru menerima panggilan tersebut.
"Ada apa Ma..?" dengan suara yang dibuat seperti sedang menangis, Vaya menyapa Nyonya Iswara.
"Kamu dimana putriku.., apakah sudah berada di hotel? Sabarlah sayang.., ini tidak akan lama. Tunggulah setelah kakek selesai operasi, kamu akan segera kembali pulang ke rumah keluarga Iswara!" Nyonya Iswara menanggapi perkataan Vaya.
"Vaya sudah berada di kamar hotel ma. Memangnya mau kemana lagi, setelah semua mengusir Vaya dari rumah. Vaya tidak punya siapa-siapa lagi ma.., Vaya takut." Vaya terus menangis.
"Tapi kemarin malam kak Thomas sudah mengusir Vaya dari rumah ma. Itu menandakan jika kak Thomas sudah tidak lagi menyayangi Vaya, dia lebih memilih Ivona sekarang." semakin kencang Vaya menangis.
"Hush.., itu tidak benar Vaya sayang. Kakakmu Thomas hanya menjaga perasaan kakek, karena kamu tahu sendiri kan, bagaimana kakekmu itu marah-marah terus. Untuk menjaga kondisinya agar tetap stabil, maka kakakmu Thomas terpaksa melakukan hal itu. Dia mengusirmu dari rumah." Nyonya Iswara berusaha menutupi sikap putranya Thomas yang memang sudah tidak menyayangi Vaya. Dia bahkan harus memukul putranya itu, karena dia sudah berani mengusir Vaya keluar dari dalam rumah tanpa persetujuannya.
"Benarkah ma.., tapi bagaimana dengan kak Tommy dan kak Rio?" tanya Vaya, dia berusaha untuk membuat hati Nyonya Iswara muncul rasa trenyuh akan keadaannya saat ini.
"Kamu jangan bermain dengan pikiranmu sendiri. Sudah mama katakan dari tadi kan, jika ketiga kakakmu itu sangat menyayangimu. Saat ini mereka hanya sedang berganti peran untuk menyenangkan hati kakekmu, tunggulah setelah kondisi kakek kembali sehat pasca operasi minggu depan."
"Iya ma.., Vaya akan mencobanya." Vaya mencoba menjawab dengan pasrah.
__ADS_1
"Syukurlah Vaya..., kamu memang putri mama yang baik dan pengertian. Bagaimana apakah kamu sudah makan, jika belum mama akan mengirimkan makanan ke hotel atau kamu akan mencarinya sendiri?"
"Tidak perlu ma..., Vaya akan mencarinya sendiri saja. Vaya tidak mau merepotkan mama," untuk menjaga citranya di mata Nyonya Iswara, Vaya berusaha merendah untuk meninggikan mutunya.
"Baiklah sayang..., mama tutup dulu ya telponnya. Habis ini check mobile banking.., gunakan uang yang mama kirimkan untuk menghibur hatimu. Ajak teman-temanmu makan-makan. Bye Vaya sayang."
"Bye Mama..., Vaya cinta banget sama mama."
Tidak berapa lama, setelah Nyonya Iswara mengakhiri panggilan telpon, terdengar notifikasi mobile banking di ponsel Vaya. Dia tersenyum saat melihat nominal Rp. 250 juta sudah terkirim ke rekeningnya.
*************
Hampir tengah malam, Ivona terbangun dari tidurnya. Sejenak dia bingung saat membuka matanya, karena di sudah berada di dalam kamar.
"Kenapa aku bisa berada disini? Bukankah tadi aku baru saja makan dengan kak Tommy dan kak Alex." Ivona berbicara dengan dirinya sendiri.
Dia membuka selimut, dan melihat dirinya masih mengenakan pakaian seragam.
"Berarti tadi aku tertidur di mobil, dan kak Alex tidak membangunkan aku. Terus siapa yang mengangkatku ke kamar ini dan membaringkanku di atas ranjang?" tiba-tiba rona merah menghiasi pipinya, saat dia berpikir jika Alexander yang membawanya dari mobil dan menidurkannya di atas ranjang.
Dia tiba-tiba teringat ada PR yang diberikan gurunya tadi siang. Dia kemudian bergegas, dan langsung masuk ke kamar mandi. Ivona merasa tubuhnya lengket, karena belum terkena air sejak dia berangkat sekolah tadi pagi. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dulu, baru kemudian akan mengerjakan PR nya.
__ADS_1
**************