
Sebenarnya Ivona sedikitpun tidak merasa mabuk, karena di dalam kehidupan sebelumnya, minuman alkohol menjadi keseharian dari gadis itu. Tetapi untuk menghargai niat baik Alexander, dan juga jerih payah dari pelayan rumah, setelah menerima supnya, Ivona langsung menghabiskan sup tersebut. Bibi Mina nama pelayan di rumah Alexander, tersenyum bahagia melihat Ivona memberikan kembali mangkok kosong kepadanya.
"Terima kasih Non.., sudah menghabiskan sup buatan Bibi. Apakah Bibi Mina diperbolehkan mengetahui nama Nona Muda?" dengan ramah Bibi Mina mengajak Ivona berbincang.
"Boleh Bibi Mina.., namaku Ivona. Sup yang barusan Bibi buat, sangat lezat rasanya. Biasanya aku tidak pernah menghabiskannya, tetapi barusan aku langsung menghabiskan supnya." jawab Ivona dengan menunjukkan senyum dan gigi manisnya, dan mata yang mengerjap indah.
Bibi Mina langsung jatuh hati dengan Ivona, karena gadis itu terlihat sangat cantik dan memiliki tutur kata yang bagus dan sopan. Gadis itu tidak melihat statusnya yang hanya sebagai pelayan di rumah ini, tetapi memperlakukannya sama dengan memperlakukan orang yang memiliki status lebih tinggi.
"Wah Nona ini sangat pintar menyenangkan hati Bibi Mina ya."
"Lho benar Bi, memang sangat lezat sup itu. Dari bahan apa, Bibi membuat sup itu?" tanya Ivona penasaran.
"Sup itu Bibi buat dari rebusan tulang kaki, sanding lamur dan intestin sapi Non. Kemudian juga Bibi campur dengan pasta kedelai dan sayuran kobis. Apakah Non tertarik untuk membuatnya?" Bibi Mina menjelaskan bahan untuk membuat sup penghilang mabuk.
"Siapa tahu kapan-kapan aku butuh Bi, jika sudah tahu bahannya, aku akan membuatnya sendiri." jawab Ivona sambil tersenyum.
Alexander terpana melihat senyum dan mata gadis kecil itu, sehingga sepatah katapun dia tidak berkomentar atas obrolan pelayan rumahnya dengan adik temannya itu. Tetapi kemudian dia ingat, jika harus mempersiapkan perlengkapan untuk Ivona.
"Bibi Mina..., persiapkan kamar tamu! Untuk sementara, gadis ini akan menginap disini. Dan jangan lupa, telponkan butik langganan Mama, untuk mengantarkan pakaian untuk gantinya!" Alexander tiba-tiba memberi perintah pada pelayannya tersebut.
"Baik Tuan.., segera saya akan telponkan butik langganan Tuan." Bibi Mina segera berjalan meninggalkan mereka berdua. Dia menuju tempat pesawat telpon yang diletakkan di sudut ruangan. Tanpa banyak bicara, dia langsung melaksanakan perintah dari majikannya.
"Nana...., bagaimana keadaanmu, apakah masih pusing?" selesai bertanya, Alexander sendiri merasa bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba dia bisa berbicara lembut dengan Ivona.
Sedangkan Ivona sedikit terkejut, kemudian memandang pada laki-laki yang sudah berkali-kali menolongnya itu. Kali kedua Alexander memanggilnya dengan sebutan itu, tetapi dengan cepat Ivona menutupi keterkejutannya itu.
"Tidak kak, aku sudah fit lagi. Jadi malam ini, beneran aku bisa menginap disini?" tanya Ivona dengan muka polos, yang membuat orang tidak akan memiliki hati untuk menolak keinginannya.
"Iya.., tidurlah disini sesukamu. Lumayan.., jadi ada suara di rumah ini." Alexander menganggukkan kepala, kemudian menggoda gadis itu.
"Jadi menurut kakak, aku ini banyak bicara ya? Ya sudah, kalau begitu aku akan diam saja." Ivona pura-pura cemberut.
__ADS_1
"He..he..he.., tidak.., tidak.., masak begitu saja kamu sudah ngambek. Sudah aku mau mengerjakan sesuatu dulu di kamar, jika kamarmu sudah siap, segera kamu istirahat juga." setelah meminta Ivona untuk istirahat, Alexander meninggalkan gadis itu.
"Non Ivona..., silakan jika mau beristirahat! Kamarnya sudah siap." Bibi Mina memberi tahu Ivona jika kamarnya sudah dipersiapka.
"Terima kasih Bibi Mina. Aku langsung ke kamar ya."
"Iya Non.., silakan."
Tersenyum Bibi Mina melihat Ivona segera menuju kamar yang baru saja dia ganti covernya. Dia melihati gadis itu, sampai masuk ke dalam kamar.
"Aku harus mengabarkan kedatangan gadis itu pada Nyonya Besar, baru kali ini Tuan Alexander membawa seorang gadis ke rumah." dengan mulut penuh senyuman, Bibi Mina berpikir sendiri.
*************
"William, apa maumu sebenarnya? Kamu ini sudah kelas 2, kamu harus berubah untuk menjadi manusia yang lebih baik!" Pak guru sangat marah pada William.
Laki-laki teman sekelas Ivona itu, mengacuhkan omelan dari pak guru. Matanya dari tadi tidak memandang guru yang sedang memarahinya, tetapi selalu melihat ke pintu masuk.
"Dengar tidak yang Bapak sampaikan? Jika kamu memang berniat untuk sekolah, mau menuntut ilmu. Taati peraturan sekolah, jangan sampai kamu ulang lagi berangkat sekolah seperti mau berangkat piknik saja!"
"Bajuku basah pak!" asal bicara, William menanggapi perkataan pak Guru.
"Harusnya kamu itu tahu, coba gunakan pikiranmu. Seragam itu merupan identitas kita di lokasi tertentu. Saat ini kamu sedang berada di sekolah, seragam yang kamu kenakan adalah identitas jika kamu itu berasal dari sekolah ini."
William tidak mendengarkan dan tidak mempedulikan kemarahan pak Guru, dia malah memikirkan seseorang yang sangat dia tunggu kedatangannya.
__ADS_1
"Kenapa dia belum datang juga ya." William berpikir sendiri, tapi tiba-tiba dia tersenyum. Dia melihat seseorang yang ditunggunya dari tadi, sudah sampai di depan pintu. Tanpa mengetuk pintu, gadis itu sekilas minta ijin untuk memasuki kelas.
"Permisi pak, apakah saya diperbolehkan masuk?.." ucap Ivona yang langsung masuk kelas untuk menuju mejanya.
"Hai kamu siapa? Murid pindahan yang sedang jadi perbincangan itu?" tanya pak Guru yang tampak marah melihat Ivona.
"Huuuuuu..." beberapa murid di kelas tersebut menyoraki gadis itu.
Ivona cuek, dia berhenti dan tetap berdiri di depan pintu dengan rasa malas. Jika bukan karena paksaan Alexander, dia lebih suka bergelung di bawah selimutnya. Memang hari ini dia mengenakan seragam sekolah, tetapi penampilannya kali ini seperti orang yang akan berangkat main. Lengan bajunya dilipat ke atas, dan bajunya juga tidak dimasukkan ke dalam pinggangnya. Persis penampilan bad girl tetapi berwajah cantik. Hari ini dia memang tidak membawa buku dan tas, karena perlengkapan sekolahnya berada di rumah keluarga Iswara, sehingga tidak bisa mengambilnya pagi-pagi kesana.
"Duduk di meja kalian, dan sekarang keluarkan PR mu, juga sekalian kamu William!" pak Guru memerintahkan Ivona dan William untuk mengeluarkan PR nya.
"Belum mengerjakan pak, kan bapak tahu jika aku murid pindahan disini. Jadi yah, mohon dipahami pak jika tidak tahu mana PR nya." asal bicara Ivona menjawab.
"Saya juga sama pak, lupa kalau ada PR." sahut William malas.
"Memang kalian berdua itu. Kapan kalian akan mendengarkan guru bicara? Buku tidak bawa, PR tidak mengerjakan, dan kamu William masih ditambah tidak mengenakan pakaian seragam. Ini itu sekolah, bukan taman bermain." Pak guru sangat murka.
"Lihat si gadis liar itu, darimana dia itu berasal? Etika, tata krama berbicara dengan pak Gurupun dia tidak tahu." melihat Ivona kena marah pak Guru, Kelly terlihat sangat senang. bahkan dengan teman sebangkunya mereka membicarakan keburukan Ivona.
"Iya Kell.., apakah jika keluarga Iswara tahu, hal itu tidak mencoreng nama besar mereka?"
"Nanti kita ceritakan saja kelakuan buruk gadis itu pada Ivona, biar dia juga mendapatkan hukuman dari keluarganya."
"Okay.., sekarang sebagai bentuk punishment akan perilaku tidak tertib dan tidak disiplin kalian berdua, rangkum buku Fisika sebanyak tiga kali!" mendengar gunjingan murid-murid lain tentang kelakuan buruk mereka, pak Guru menghukum William dan Ivona.
Mendengar hukuman yang diberikan padanya, William dan Ivona hanya berpandangan mata. Mereka berdua ternyata sama-sama tidak membawa buku, dan mereka duduk sebangku. Melihat sikap masa bodoh mereka, suara pak Guru kembali menegur mereka.
"Kalian berdua, pindah tempat duduk! Cari teman sebangku yang saat ini mereka membawa buku!"
"Will..., William, sini duduk bareng aku! Kita bisa membaca bersama." teman baik William memanggil untuk membaca bersama buku Fisika.
__ADS_1
Tetapi hal berbeda terjadi dengan Ivona, karena dia tidak mengenal siapapun di kelas ini.
***********************