
Di dalam mobil seperti biasa, Ivona langsung memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba wajah Alexander sudah diatas wajahnya. Gadis muda itu langsung membuka matanya, tangannya langsung menggeser muka Alexander ke samping.
"Kenapa Nana.., tidak kuat ya melihat tatapan kakak." muncul keisengan Alexander menggoda Ivona. Laki-laki tetap tidak mau memindahkan wajahnya, padahal saat ini mereka masih berada di halaman rumah keluarga Iswara.
"Gede rasa.., bisa tidak sih kakak segera jalankan mobilnya! Jika tidak.., Ivona akan kembali turun. Malam ini Ivona akan menginap disini." Ivona mengancam Alexander.
"Dengan senang hati Tuan Putri." sambil mengacak-acak rambut Ivona, Alexander kembali ke posisinya. Perlahan sambil tersenyum, Alexander menjalankan mobilnya. Setelah beberapa saat Alexander mengemudi, Ivona mengalihkan tatapannya keluar jendela. Mereka terdiam tidak ada suara di antara mereka.
"Na.., kamu marah ya dengan kakak? Dari kemarin kita tidak ada bicara lho.., kamu kecewa dengan kakak?" tiba-tiba Alexander memecah kesunyian, sambil mengemudi dia bertanya pada Ivona.
Ivona menoleh ke arah Alexander. Gadis itu juga tidak bisa memahami perasaannya sendiri. Tiba-tiba saja dia merasa kesal dan jengkel dengan laki-laki muda itu. Tetapi dia sendiri tidak tahu, hal apa yang mendasarinya. Atau mungkin dia baru PMS..
"Kamu marah padaku? Jika marah, sampaikan dimana letak kesalahanku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." kembali Alexander mengulangi pertanyaannya.
"Ivona ga marah.. lagi malas bicara saja." sahut Ivona cepat, kembali gadis itu mengarahkan penglihatannya keluar jendela.
Alexander tersenyum, tiba-tiba tangan kirinya mencubit pipi kanan Ivona.
"Jangan iseng deh.., sakit tahu." teriak Ivona, gadis muda itu tiba-tiba melotot pada Alexander.
"Begitu dong. Masak aku seperti duduk dengan patung, menyanyi boleh, menari boleh, marah-marah juga boleh." tidak henti Alexander menggoda Ivona. Akhirnya Ivona mengangkat sudut mulutnya ke atas, kepuasan tergambar jelas di wajah Alexander.
Setelah beberapa waktu mereka berkendara, akhirnya mobil memasuki halaman rumah. Tetapi Alexander mengerenyitkan dahinya, saat melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman.
"Sepertinya mama datang ke rumah ini. Semoga saja, mama tidak membuat kekacauan disini." gumam Alexander pelan. Ivona menengok ke arah laki-laki muda itu
__ADS_1
"Siapa kak yang ke rumah? Apakah Nyonya Besar Kavindra yang datang?" tanya Ivona tiba-tiba, gadis itu memandang Alexander dengan rasa ingin tahu.
"Bagaimana kamu memanggil mamaku? Jangan ucap lagi seperti, panggil dengan sebutan mama bukan yang lain." tiba-tiba Alexander menyalahkan panggilan Ivona untuk Nyonya Besar Kavindra.
"Nanti Ivona harus bagaimana kak.., Ivona merasa ga enak dengan mama kak Alex." Ivona merasa khawatir.
"Tidak perlu khawatir ada kakak disampingmu." Alexander segera membuka pintu mobil, kemudian bergegas membukakan pintu mobil untuk Ivona. Laki-laki itu memegangi tangan Ivona, kemudian merangkul bahu gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
*************
Sesampainya di ruang tengah, Alexander melihat Clara duduk di sofa dengan mamanya. Laki-laki muda itu tidak melepaskan Ivona, tetapi malah mempererat pelukannya. Evan yang sedang melihat televisi langsung teriak kesenangan melihat kedatangan Ivona.
"Kakak cantik.., akhirnya kita ketemu kembali." Evan berlari, dan pada saat anak itu akan memeluk Ivona, tangan Alexander langsung menghalanginya.
"Tidak boleh asal peluk, sana kembali nonton televisi." Alexander langsung menghardik Evan. Evan langsung menundukkan kepalanya, tampak kesedihan di matanya.
"Aduh .., Ivona. Menantu idaman mama.. Tidak mungkin ya, masak mama lupa dengan gadis secantik kamu." terlihat rona kebahagiaan di mata Nyonya Besar Kavindra. Setelah mamanya Alexander melepaskan tangannya, Ivona langsung berjongkok, kedua tangannya segera memegangi bahu Evan.
"Tante.., itu kak Alex. Masa dari kemarin lebih mengutamakan gadis itu daripada Clara. Katanya Tante.., kita akan dijodohkan." Clara langsung merajuk pada Nyonya Besar Kavindra, saat melihat kedatangan Alexander dengan merangkul Ivona, dan melihat bagaimana Tantenya bersikap ramah dengan gadis itu.
"Kamu bicara apa Clara.. Dari kemarin sudah aku jelaskan padamu, jika antara kita hanya ada hubungan saudara tidak ada yang lain. Untuk masalah jodoh, aku tidak perlu mama untuk mencarikannya untukku. Ivona adalah gadis pilihanku.., dia yang akan menjadi jodohku. Alex pikir.., mama juga tidak akan keberatan. Iya kan ma..?" kata Alexander. Tetapi untungnya Ivona tidak begitu jelas mendengar perkataan itu, karena gadis itu sibuk menenangkan Evan yang ketakutan dengan kakak laki-lakinya.
"Tante.. itu kak Alex bicara seperti itu. Tante belain Clara dong!" dengan sikap manja, Clara merengek pada Nyonya Besar Kavindra.
Melihat ternyata gadis yang dipilih adalah Ivona yang sudah Nyonya Kavindra ketahui tutur katanya, kebaikannya, hati mama Alexander menjadi senang. Senyuman muncul di bibirnya, semula dia datang ke villa itu karena merasa ikut panas karena cerita Clara, saat ini mood nya berubah menjadi baik.
__ADS_1
"Clara.., tante pikir-pikir benar apa yang dikatakan Alex. Kalian ini berdua adalah saudara sepupu.., hubungan kalian menjadi saudara saja tidak lebih dari itu." dengan suara tegas, Nyonya Kavindra menasehati Clara.
"Kenapa tante berubah sih, tadi katanya akan membantu Clara. Sekarang.., malah mendukung hubungan Alexander dengan gadis itu." Clara menunjuk Ivona yang sudah mengajak Evan ke depan televisi. Alexander dengan muka jutek mengikut di belakang Ivona. Nyonya Besar Kavindra geleng-geleng kepala melihat ketidak cocokan antara Alexander dengan Evan.
**********
Malam hari
"Evan.., ayo pulang dulu. Besok kan kamu harus sekolah." Nyonya Besar Kavindra mengajak Evan untuk pulang. Mereka sudah menyelesaikan makan malam. Sedangkan dari tadi Clara cemberut, gadis itu merasa iri melihat kedekatan Alexander dengan Ivona.
"Tidak mau.. Evan mau disini dengan kakak cantik. Mama pulang saja sendiri.., di rumah tidak ada yang memperhatikan Evan." tiba-tiba Evan menolak untuk diajak pulang. Alexander mendatangi Evan yang masih bergelayut manja dengan Ivona.
"Anak nakal.. sana pulang ke rumah besar. Villa ini tidak cocok untuk anak kecil, sana segera kembali." Alexander ikut menyuruh Evan pulang. Tapi Evan tetap tidak mau beranjak dari sisi Ivona.
'Evan sayang.., Evan mau jadi anak pintar tidak?" dengan lembut, Ivona bertanya pada Evan. Laki-laki kecil itu menganggukkan kepala.
"Nha.., kalau mau jadi anak pintar, berarti Evan harus belajar karena besok Evan harus berangkat ke sekolah. Sekarang ini, Evan membawa buku pelajaran sekolah tidak?" kembali Ivona bertanya pada Evan, dan anak kecil itu menggelengkan kepala.
"Kalau tidak membawa buku pelajaran, bagaimana Evan akan belajar malam ini. Sekarang Evan pulang dulu.., besok kita bisa bertemu lagi, dan Evan membawa Max untuk berjumpa dengan kakak." Evan melihat ke mata Ivona, dan gadis itu menganggukkan kepala dengan senyuman manis di bibirnya.
"Baiklah.., malam ini Evan akan pulang dulu. Besok Evan akan membawa Max untuk berjumpa lagi dengan kakak cantik." dengan muka ceria, akhirnya Evan menyetujui usul Ivona untuk kembali pulang.
"Good boy.." Ivona mengusap kepala Evan.
"Mama.., ayo kita segera pulang. Karena kata kakak cantik, Evan harus belajar dulu, agar menjadi pintar." Evan segera mengajak Nyonya Kavindra pulang.
__ADS_1
*************