Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 271 Kedatangan Kakek


__ADS_3

Frans Mahendra meletakkan beberapa lembar foto kebersamaan Aldo dan Ivona di depan Tuan dan Nyonya Besar Girindra. Kedua orang itu segera mengambil lembar foto tersebut, dan mata mereka bersinar melihat kebersamaan putranya dengan seorang gadis. Terlebih lagi, gadis itu sudah diketahui oleh Nyonya Besar dan sempat dibawa ke rumahnya. Setelah melihatnya beberapa saat, dengan mata bersinar..


"Tuan Frans.., dari mana Tuan mendapatkan foto-foto ini?? Apakah undangan yang Tuan berikan pada kami, ada hubungannya dengan foto-foto kebersamaan putra kami dengan gadis ini?" tidak sabar, Nyonya Besar Girindra langsung melakukan konfirmasi atas gambar-gambar tersebut. Tuan Girindra memegang lengan istrinya, memberi isyarat untuk bersabar.


"Gadis yang bersama putra kalian di dalam foto itu adalah putriku. Jika kalian setuju, hari Minggu ini aku akan menikahkan putra kalian dengan putriku. Apabila kalian tidak setuju, aku akan tetap menikahkan mereka tanpa persetujuan kalian." tanpa memberikan pilihan pada keluarga Girindra, Frans Mahendra memaksakan keinginannya.


Tidak diduga, pasangan suami istri itu saling berpandangan mata dan tersenyum, kemudian keduanya kembali mengarahkan pandangan pada Frans Mahendra.


"Ternyata Tuan Frans Mahendra tidak seperti yang kita dengar selama ini. Orang bodoh mana yang akan menolak perjodohan ini, sebenarnya saya sudah mengenal Nona Ivona.., hanya saja kami tidak pernah mengetahui jika gadis itu adalah putra dari konglomerat negara ini. Kami sangat tersanjung dengan usul dari Tuan Frans Mahendra." Tuan Besar Girindra langsung menyetujui perjodohan itu.


Setelah ada kesepakatan antara dua keluarga, Frans Mahendra memanggil Helen untuk masuk ke dalam ruangan. Helen yang merupakan sekretaris di perusahaan Richard itu langsung masuk ke dalam. Gadis itu memang bekerja cepat, trampil dan tertata. Untuk urusan-urusan penting, Richard selalu meminta gadis itu untuk handle pekerjaan-pekerjaan itu.


"Gimana Tuan Frans.., apakah ada yang bisa saya bantu?" sesampainya di dalam, Helen langsung mendekati Frans dan segera melakukan konfirmasi.


"Jelaskan konsep pernikahan Aldo dan Ivona pada Tuan dan Nyonya Girindra. Kamu yang lebih paham daripada aku." Frans Mahendra langsung menanggapi pertanyaan gadis itu.

__ADS_1


"Baik Tuan.." gadis itu langsung menyanggupi, kemudian duduk di depan Tuan dan Nyonya Girindra.


"Maaf Tuan, ijin untuk menjelaskan apa yang tadi sudah disampaikan Tuan Frans kepada Tuan dan Nyonya berdua." Helen minta ijin, dan kedua orang itu tersenyum dan menganggukkan kepala.


Dengan gamblang, Helen menyampaikan konsep acara yang sudah rapi dan tertata, Bahkan untuk pakaian pengantin, dan wedding organizer terkenal di kota ini juga sudah dilakukan konfirmasi oleh perempuan muda ini. Untuk tamu, karena ingin menjaga kesakralan acara, Tuan Frans menghendaki hanya mengundang orang-orang terdekat dan memiliki hubungan emosional dengan kedua pengantin. Tanpa banyak tanya, kedua orang tua Aldo langsung menyetujui susunan acara dan konsep wedding yang sudah disiapkan. Bahkan tampak kekaguman di wajah kedua orang itu, melihat bagaimana pihak Frans Mahendra bisa membuat konsep pernikahan yang tertata dan rapi, tanpa mengurangi kualitasnya.


"Bagaimana Tuan dan Nyonya Girindra.., apakah ada masukan atau ada yang perlu  saya saya sempurnakan dari konsep acara yang sudah kami siapkan?" dengan sopan, Helen menyampaikan pertanyaan setelah selesai memberikan penjelasan.


"Kami akan menjadi orang yang kolot dan tidak tahu perkembangan, jika kami berani mencela apalagi mengkritisi konsep yang sudah tertata dengan sangat bagus. Kami setuju Nona Helen.., lakukan apa yang sudah direncanakan. Jika Nona membutuhkan bantuan kami, jangan ragu untuk memberi tahu kami." Tuan Girindra langsung menyetujui konsep acara. Frans Mahendra tersenyum puas, mendengar penerimaan dari kedua orang tua Aldo.


Dengan langkah tegap kakek Richard memasuki mansion Frans. Meskipun laki-laki itu sudah berusia senja menginjak 70 tahun, tetapi untuk ukuran seorang kakek, badannya masih terlihat tegap. Bahkan jika dilihat lebih dekat, terlihat seperti kakak dan adik jika didudukkan dengan Frans Mahendra. Dua orang pengawal berada di belakangnya, untuk memastikan keselamatan orang tersebut.


"Kakek..., kenapa tidak kasih tahu Richard.. jika kakek akan datang kali ini." dari ruang tengah, Richard segera menghampiri kakeknya, setelah mendapatkan telpon dari penjaga pintu gerbang. Untungnya sejak tadi malam, dia memutuskan untuk menginap di tempat papanya, sehingga dapat langsung ketemu dengan kakeknya.


"Dasar cucu kurang ajar ya kamu.. Bisa-bisanya menjual nama kakekmu ini untuk menindas Johnny." melihat kemunculan Richard, kakek memukul punggung laki-laki itu menggunakan tongkat komando yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Urgent kek..., kapan sih memangnya Richard pernah mengganggu kakek. Hanya baru kali ini saja.., jika kakek tahu untuk apa, Richard yakin kakek tidak akan menyalahkan cucu kakek yang ganteng ini." sambil merayu kakeknya, Richard merangkul laki-laki tua itu dan membawanya duduk di sofa.


"Apa kamu pikir, meskipun urgent.., tanpa ijinku si Johnny akan mau membantumu?? Sekarang mana yang katanya cucuku, dari perempuan yang tidak jelas asal-usulnya itu." dengan nada tegas, kakek menanyakan Ivona. Richard hanya tersenyum kecut, dia tidak berani membantah jika kakeknya sudah bicara.


"Akan segera Richard minta untuk datang menemui kakek secepatnya. Kebetulan Ivona sedang berada di mansion Richard, karena gadis itu ada urusan untuk melakukan operasi di rumah sakit. Partner kerjanya sedang berada di Lombok, sehingga dia yang harus handle jadwal operasi atas nama temannya." Richard menyampaikan alasan kenapa Ivona tidak ada di mansion ini.


"Urus pertemuanku dengan gadis itu secepatnya! Kamu tahu kakekmu tidak akan lama berada di negara ini." dengan cepat, kakek memberi tugas untuk Richard.


Tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti, ketika pelayan rumah membawakan air minum untuk kakek dan kedua pengawalnya. Melihat gelas besar berisi teh panas, wajah kakek terlihat berbinar. Berada di negara asing untuk beberapa waktu yang lama, tidak melupakan laki-laki tua itu dengan cita rasa teh Pekalongan. Tanpa menunggu untuk dipersilakan, kakek langsung memegang gagang gelas besar dan mulai meniup teh panas karena tidak sabar untuk mencicipinya. Melihat reaksi kakek yang cepat berubah, Richard tersenyum sambil menutup mulutnya.


"Kek.., kenapa kakek tidak menanyakan dimana papa?" tiba-tiba Richard mengganggu kenikmatan laki-laki tua itu menikmati teh.


"Tutup mulutmu.., kamu menggangguku!! Papamu sedang bertemu dengan seseorang, tadi kakek sudah menghubunginya, saat berada di bandara. Jaga papamu, dia putra papa satu-satunya. Sejak kecil, papamu sudah sakit-sakitan.., sehingga kakek tidak memaksanya untuk mengikuti jejak kakek di militer." sambil berbicara dengan nada tinggi, kakek menatap cucu laki-lakinya itu.


Akhirnya tidak mau mengganggu kenikmatan kakek dan kedua pengawalnya menikmati teh panas, Richard mengalihkan fokusnya dengan membaca berita dari ponsel yang ada di tangannya.

__ADS_1


**********


__ADS_2