
Ingin mengetahui bagaimana kabar Ivona, dan juga karena dorongan dari ayahndanya, Richard mengikuti Aldo berangkat Ke Hong Kong. Laki-laki itu juga tidak bisa memahami dirinya sendiri, seperti ada dorongan untuk menemukan Ivona secepatnya. Richard menduga terdapat hubungan misteri antara Ivona dengan ayahndanya, meskipun dia juga tidak tahu ada apa di balik itu semua.
"Apakah sudah kamu pikir Richard.., kamu akan mengikuti aku ke Hong Kong untuk mencari gadis itu?" tanya Aldo meyakinkan Richard. Dia juga tidak menyangka, begitu berkata jika akan ke negara itu untuk menemukan Ivona, Richard bersikeras ingin mengikutinya.
"Sudah diamlah kamu..., kita lihat nanti disana. Kamu pasti akan membutuhkan bantuanku setiba di negara itu." ucap Richard meremehkan Aldo.
"Ingat Richard.., kita ini pesaing. Dan yang perlu kamu harus tahu diawal, jika tidak siapapun yang boleh memiliki gadis itu. Ivona Carminda sudah ditakdirkan untuk menjadi milikku, kapanpun dan dimanapun. Dalam sepuluh kelahiranpun, gadis ini sudah menjadi takdirku." untuk tidak memiliki harapan lebih terhadap Ivona, Aldo mengingatkan Richard.
"Itu maumu kan..??? Kita lihat saja nanti.., apakah Ivona memilih untuk bersamamu.., ataukah dia akan malah mengikutiku." Richard menanggapi perkataan Aldo dengan santai. Dari awal, memang dia tidak pernah ada keinginan untuk memiliki Ivona sebagai pendamping hidupnya. Di sudut hatinya.., dia menginginkan gadis itu selalu dekat dengannya tetapi bukan sebagai pasangan.
Aldo terdiam, dia tidak menanggapi perkataan yang disampaikan Richard. Yang paling penting saat ini baginya adalah bagaimana dia bisa menemukan keberadaan gadis itu. Maksud hati ingin mengorek keterangan dari Richard, ternyata malah laki-laki itu tertarik untuk mengikutinya ke Hong Kong.
"Tuan Muda.., kita sudah memasuki area bandara. Tuan Muda menghendaki akan rest di lounge dulu., atau langsung boarding di pesawat?" terdengar Donny mengatakan jika mereka sudah memasuki area bandara.
"Langsung boarding.., siapkan logistic di pesawat langsung. Aku tidak mau sampai di Hong Kong International Airport menjelang pagi." ucap Aldo sambil melepas seat belt dari pinggangnya. Richard hanya melihat laki-laki yang duduk di depannya itu sambil geleng-geleng kepala.
"Siap Tuan Muda.., semua sudah saya kondisikan. Termasuk untuk penjemputan di airport.., juga sudah saya siapkan." kata Donny sambil menghentikan mobil di depan area kedatangan penumpang. Laki-laki itu kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk Aldo dan Richard. Tanpa berbicara kedua laki-laki itu langsung turun. Petugas bandara mendatangi mereka dan meminta kunci mobil yang dibawa Donny untuk diparkirkan mobilnya.
"Lewat sini Tuan muda.., untuk menghindari pemeriksaan dari petugas bandara!" Donny memimpin Aldo dan Richard melewati pintu kecil langsung menuju tempat parkir jet pribadi. Tidak lama mereka berjalan, pramugari yang akan menemani selama penerbangan sudah menunggu di pintu masuk jet.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan Muda.., silakan masuk!" dengan sapaan khas, pramugari menyilakan Aldo dan Richard untuk segera memasuki pesawat. Keduanya langsung bergegas masuk.., dan pilot serta co pilot menyambut mereka berdua di dalam pesawat.
"Selamat datang Tuan Muda.., kenalkan saya pilot yang akan memimpin perjalanan ini. Nama saya Smith.., dan co pilot saya Mark yang akan menemani saya menerbangkan private jet ini." pilot dan co pilot mengenalkan diri mereka, dan Aldo serta Richard hanya menganggukkan kepala dan langsung duduk menyelonjorkan kakinya.
"Aku mau langsung tidur.., nyamankan dirimu sendiri. Panggil pramugari jika kamu butuh sesuatu.." Aldo mengajak bicara Richard, dan tidak menunggu jawaban Richard, laki-laki itu sudah memejamkan matanya.
**************
Senyuman muncul di bibir Ivona saat melihat kedatangan Marcus yang sudah sangat dinantikannya. Marshall melihat mereka dengan tatapan penuh makna, tetapi mendengar perkataan gadis itu sesaat sebelum Marcus datang, sedikit membuatnya kecewa. Tidak tahu sebabnya, Marshall melihat jika Ivona merupakan gadis yang tepat untuk menjadi pendamping Marcus.., tetapi ternyata hal itu bertolak belakang dengan keinginan Ivona.
"Marc.., kenapa tidak kasih kabar kalau datang hari ini?? Aku pikir kamu melupakan janjimu padaku." Ivona langsung menghambur ke pelukan Marcus. Mereka berpelukan sebentar, kemudian keduanya duduk di kursi.
"Sudah.., sudah.., ayo kita makan siang dulu!!" Marshall memotong percakapan Marcus dan Ivona.
"Hadeh Shall.., okay.., okay. Aku juga sudah lapar.., dari airport langsung hotel, tidur sebentar terus menuju kesini aku." ternyata Marcus dan Marshall memiliki hubungan dekat. Ivona heran, karena Marcus tidak pernah menceritakan hubungan kedekatan mereka.
Ivona langsung mengambil piring dan mengisi dengan nasi beserta lauknya. Marshall tersenyum melihat perubahan Ivona begitu ada Marcus. Gadis itu seperti sudah akrab dengannya saja.
"Kenapa mundur kedatanganmu kesini Marc..?" sambil mengunyah makanan, Ivona bertanya pada Marcus.
__ADS_1
"Biasa Na.., Na.. Itu Tuan Frans dan Tuan Richard cek kondisinya pasca operasi. Mereka memaksa rumah sakit untuk menugaskan aku atau kamu untuk memeriksa kembali kesehatan Tuan Frans. Padahal namamu kan silent di rumah sakit itu, ya sudah akhirnya aku yang mengalah, daripada laki-laki kaya itu meratakan rumah sakit." Marcus menceritakan alasan kemundurannya untuk datang ke Hong Kong. Ivona menghentikan makannya sebentar, dia menengok pada laki-laki itu.
"Dan kalau kamu mat tahu Na.. Tidak tahu kenapa.., mereka malah bertanya tentang keberadaanmu. Sedikitpun mereka tidak berkonsultasi tentang kondisinya." lanjut Marcus lagi.
Ivona terdiam, muncul kecurigaan tentang hubungan antara Tuan Frans dengan mamanya. Tapi sudah satu minggu lebih, dia berada di laboratorium ini, sedikitpun dia mendapatkan informasi tentang keberadaan mamanya. Marshall diam-diam mengamati obrolan kedua orang itu. Beberapa saat mereka terdiam fokus pada makanan di depan mereka.
"Oh ya Marshall..., kapan kamu akan menugaskan Ivona dengan nama yang pernah aku tanyakan padamu?" tiba-tiba Marcus membuka percakapan tentang Nyonya Carminda.
Marshall meletakkan sumpit di tangannya, laki-laki itu mengambil nafas.
"Jujur Marcus.., Carminda saat ini sedang terlibat dalam penelitian rahasia. Orang yang terlibat dalam penelitian ini, mereka tidak bisa berhubungan dengan dunia luar untuk sementara, sampai penelitian ini selesai. Prothotype jadi, uji coba.., sampai betul-betul produk itu jadi. Apakah benar kamu akan mengorbankan Miss Ivona berada dalam lingkungan seperti itu?" merasa sayang dengan kondisi yang akan dialami Ivona.., Marshall menceritakan situasi bekerja di laboratorium terpadu ini.
"Nana.., kamu sudah mendengar sendiri perkataan Marshall. Semuanya tergantung padamu.., siapkan kamu berada dalam situasi itu untuk sementara?" Marcus membalikkan pada Ivona, sebagai teman dekat gadis itu, jujur dia tidak akan tega menjerumuskan Ivona dalam kondisi seperti itu.
Tidak diduga.., Ivona tersenyum. Hal itu mengagetkan Marcus dan Marshall, kedua laki-laki itu saling berpandangan.
"Aku menyetujuinya Tuan Marshall, Marcus. Sama saja aku kerja di luar sini, karena ada tujuan lain yang harus aku singkap dengan bertemu dengan mamaku." ucap Ivona perlahan. Mendengar jawaban Ivona.., Marshall terkejut.
"You.., putri dari Nyonya Carminda?" tanya Marshall dengan nada terkejut. Sambil tersenyum, Ivona menganggukkan kepala.
__ADS_1
*************