Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 276 Lupakan Masa Lalu


__ADS_3

Mahendra merasa terharu dengan kesediaan cucunya Ivona, yang tetap memperlakukannya dengan baik. Bagaimanapun kejadian yang sudah dia lakukan di masa lalu, tidak akan dapat diulang lagi pada saat sekarang. Kakek dan cucu itu berbincang tentang banyak hal, dan lebih banyak Ivona yang menceritakan tentang kehidupannya pada Mahendra. Sedang asyik mereka berbincang, dari arah pintu terlihat pengawal Mahendra masuk dan memberi hormat pada laki-laki tua itu.


"Tuan Besar.., mau melaporkan jika kedua orang yang Tuan Besar undang sudah turun ke lobby." pengawal itu melaporkan jika orang yang ditunggu sudah datang. Mahendra melirik pada Ivona sebentar, dan terlihat gadis itu sedang meminum kopi dari cangkir secara langsung.


"Langsung diarahkan untuk masuk ke ruangan ini saja! Apakah sudah ada kabar dari Richard dan Frans?" sebelum pengawal itu kembali keluar ruangan, Mahendra kembali bertanya.


"Sepertinya mereka sudah dalam perjalanan kemari Tuan Besar. Ijin untuk mengantarkan kedua tamu untuk datang ke ruangan ini." pengawal itu membungkukkan badan, kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut.


"Nana.., ada yang ingin kakek pertemukan denganmu siang ini. Bukan untuk apa-apa, tetapi kakek ingin mengakhiri semuanya dengan tenang, dan kakek dapat menghabiskan masa tua tanpa ada pikiran berat." tiba-tiba dengan suara berat, Mahendra menatap wajah Ivona. Gadis itu meletakkan cangkir di atas meja, kemudian menatap Mahendra dengan banyak pertanyaan di dalam pikirannya,


"Maksud kakek..?" tanya Ivona dengan nada lirih.


"Tunggulah sebentar.., ada yang ingin aku pertemukan denganmu. Dan harapan kakek, kehadiranmu disini dapat membantu kakek untuk mendapatkan pengampunan dari orang yang akan datang." Mahendra berkata dengan lirih pula.


Ivona dan Mahendra terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.., dan tiba-tiba pintu terbuka dari luar ruangan. Melihat siapa yang saat ini dia lihat di depannya, Ivona merasa tidak percaya. Gadis itu mengucek matanya dengan keras, tetapi yang dia lihat tetap sama.

__ADS_1


"Mamaaaa...., benarkan yang Ivona lihat saat ini?" gadis itu berlari menghampiri Carminda yang berjalan di belakang pengawal Mahendra. Di samping perempuan paruh baya itu, terlihat Dokter Rafi tersenyum melihat putri sambungnya juga ada di dalam ruangan itu.


"Nana.. putriku.." dengan penuh rasa haru, Carminda memeluk erat tubuh putrinya. Air mata mengalir dari pelupuk mata kedua perempuan itu. Mahendra melihat interaksi di depannya dengan rasa bahagia, meskipun rasa malu menyisip di hatinya. Ivona mengajak mamanya duduk di sofa, dan Dokter Rafi mengikuti Carminda duduk.


Setelah beberapa saat mereka berpelukan dan saling berpegangan tangan, Ivona merasa tersadar jika peran dari Mahendra kakeknya yang bisa mendatangkan mama dan Dokter Rafi di hadapannya saat ini.


"Kakek..., apakah ini semua peran kakek?? Mama dan Dokter Rafi bisa ada di depan Ivona saat ini." Ivona melepaskan pelukan dari Carminda, kemudian bertanya pada Mahendra. Mendengar pertanyaan dari cucunya, Mahendra tersenyum kecut kemudian menganggukkan kepala. Melihat itu, tanpa diminta  dan tanpa ragu, Ivona mendekat dan memeluk erat tubuh laki-laki tua itu. Carminda melihat interaksi putrinya dengan Mahendra dengan tatapan datar. Perempuan itu tidak memiliki reaksi apapun, dan Dokter Rafi langsung mengambil tangan perempuan paruh baya itu dan menggenggamnya erat.


"Semoga kamu bahagia Nana..., dan senyummu kembali ceria. Makanya kakek mengusahakan agar Carminda berada disini, untuk mendampingimu di hari bahagia," ucap Mahendra, dan Ivona mengerutkan kening, tidak memahami perkataan laki-laki tua itu.


**********


Setelah beberapa saat


"Carmind..., jika masih bisa aku meminta, maukah kamu memaafkan laki-laki tua ini Carminda? Karena keegoisanku di masa lalu, kamu dan Ivona harus terpisah dengan Frans," dengan suara tercekat, Mahendra mengawali pembicaraan dengan meminta maaf pada Carminda. Mendengar perkataan laki-laki tua itu, semua orang yang di dalam ruangan terdiam. Tidak ada satupun yang berani menyela pembicaraan.

__ADS_1


"Maaf untuk apa Tuan Besar..? Huh.., semua sudah terlanjur dan sudah terjadi. Memang ini adalah jalan hidup yang harus saya lalui, menikah, ditinggalkan..., didatangi lagi dan akhirnya menghilang untuk selamanya. Tetapi itu tidak menimbulkan kekecewaan pada diri saya. Pengalaman itu menjadikan saya lebih kuat, dapat mendidik putri saya Ivona dengan sangat baik.., dan akhirnya saya betul-betul dapat memahami siapa laki-laki yang memang tulus menyayangi saya. Terima kasih honey..., kamu selalu bersamaku, menguatkanku, dan tidak sedikitpun membiarkanku sendiri." sambil tersenyum, Carminda menoleh pada suaminya Dokter Rafi yang duduk di sampingnya. Di depan semua orang, tanpa merasa sungkan, Carminda memberi pengakuan untuk suaminya di depan semua orang. Sebuah kecupan lembut di bibir laki-laki itu, diberikan oleh Carminda.


Melihat pemandangan di depannya, muka Frans menjadi merah menahan marah. Tetapi diapun sudah tidak dapat melakukan apa-apa, karena perlakuannya pada Carminda di masa lalu memang tidak mudah untuk mendapatkan maaf. Richard terdiam melihat komunikasi para orang tua di depannya, dan dia memutuskan untuk tidak bersuara, karena memang bukan kapasitasnya.


"Karena aku yang memerintahkan Johnny untuk melakukan semua ini. Karenaku, kamu dan Frans menjadi terpisah, dan ketika muncul ideku untuk menyatukan kalian kembali, ternyata Dokter Rafi sudah mendahuluinya." ucap Mahendra. Mendengar perkataan laki-laki tua itu, muncul kemarahan di hati Ivona. Tetapi melirik ke arah mamanya, perempuan itu malah tersenyum mendengarnya.


"Kakek.., mohon maaf jika Nana menyela dan merusak suasana. Sepertinya kakek perlu berpikir terlebih dulu sebelum mengatakan sesuatu. Tidak akan ada yang disatukan kembali, papa Frans harus berpikir kembali tentang kesalahannya. Biarlah semua berlalu seperti alur takdir, dan terima kasih papa Rafi.., ijinkan putrimu ini memanggilmu papa. Upaya papa Rafi sudah membuktikan bahwa mama Carminda memang sangat berharga." tiba-tiba kalimat-kalimat yang disampaikan Ivona seakan menampar Tuan Besar Mahendra dan Frans. Richard hanya menatap adiknya, tanpa memiliki keinginan untuk mencegahnya.


Carminda tersenyum dan mengusap kepala Ivona. Gadis itu semakin dewasa, dan akan selalu berada di depan untuk melindunginya.


"Terima kasih putriku.." bisik lirih Nyonya Carminda di telinga gadis itu.


"Nana harus mengatakan yang memang harus dikatakan mama. Biarlah semua kejadian di masa lalu akan menjadi pembelajaran bagi kita semua. Tidak perlu kita mengingat-ingatnya, dan yang perlu mama ketahui. Sampai kapanpun, mama akan berada di hati Nana. Mamalah yang terbaik." Ivona mencium tangan perempuan paruh baya itu. Mahendra terhenyak dan tersenyum masam melihat kejadian itu.


***********

__ADS_1


__ADS_2