
Setelah Tommy pergi dulu meninggalkan restoran, Alexander pura-pura tetap fokus melanjutkan makannya. Dia bahkan tidak memperhatikan saat Ivona kembali dari toilet.
Ivona melihat ke arah Alexander, dan kursi yang tadi diduduki kakaknya Tommy. Dia mencibir ketika kakaknya sudah tidak ada di kursinya. Akhirnya dengan pandangan sinis, dia kembali duduk di depan pria muda itu.
"Sudah selesai.., lanjutkan makannya! Masih banyak nih makanannya." dengan suara pelan, Alexander mengajak bicara Ivona.
"Mana kak Tommy?" tanya Ivona dengan nada judes.
"Kakakmu sedang ada acara mendadak. Ada artis baru yang harus dia wawancarai. Lanjutkan makanmu dulu, setelah kenyang baru kita kembali pulang ke rumahku!" Alexander kembali berbicara dengan nada pelan dan sabar pada Ivona.
"Tidak ada tanggung jawabnya sama sekali, mengajak orang pergi makan, malah ninggalin orang seenaknya." Ivona menggerutu sendiri.
Alexander tersenyum, dan untuk mengurangi rasa kekesalan gadis itu, Alexander mengambilkan beberapa lauk kesukaan gadis itu dengan alat penjepit makanan, kemudian meletakkannya di atas piring Ivona.
"Sudahlah.., kamu tidak perlu memikirkan kakakmu Tommy. Memang sudah menjadi tuntutan pekerjaannya seperti itu, dia harus stand by 24 jam untuk mendapatkan artis yang memiliki kapabilitas untuk film-filmnya. Atas kerja kerasnya itu, maka keberadaan kakakmu di industri music dan film sangat diperhatikan di negara ini." Alexander membela Tommy, dia ingin mengembalikan kedudukan Tommy sebagai kakak kandung yang sebenarnya bagi Ivona.
Ivona tetap masih merasa kesal, dia sama sekali tidak menanggapi apa yang sudah disampaikan oleh Alexander. Dia dalam diam malah asyik melanjutkan makannya. Gadis kecil itu memiliki selera makan yang bagus, bahkan porsi makan Alexander masih kalah jika dibandingkan dengan porsi makannya. Tetapi karena tubuh Ivona tetap kecil, Alexander membiarkannya. Apalagi menu yang dia pesan untuk makan sore ini, sudah memiliki nutrisi yang bagus untuk pertumbuhan badan. Bahkan lemak yang digunakan adalah lemak yang sehat.
"Mau nambah lagi, jika mau kakak pesankan lagi?" Alexander melihat menu makanan kesukaan Ivona sudah habis.
"Gak, cukup." jawab Ivona singkat masih dengan nada kesal.
Alexander menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia betul-betul kehabisan cara untuk menghibur dan melunakkan hati gadis yang ada di depannya itu. Dia juga heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia menjadi penurut di depan Ivona. Padahal selama ini, dengan gadis manapun, bibirnya tersenyum saja menjadi harga yang sangat mahal baginya. Tetapi dia merasa tidak berdaya dan hanya ingin menyenangkan hatinya jika sedang bersama dengan Ivona.
"Aku sudah kenyang, sana segera dibayar!" dengan bersungut-sungut, Ivona meminta Alexander membayar menu makan mareka. Yang mengajak keluar makan Tommy, tetapi yang diminta untuk melakukan pembayaran Alexander.
__ADS_1
"Jangan khawatir, kakak akan segera membayarnya." Alexander mengusap puncak kepala Ivona, kemudian memanggil waiters.
"Iya Tuan.., apakah masih ada yang bisa kami bantu?" waiters menawarkan bantuannya.'
"Minta bill, dan taps saja kartu ini, tidak usah pakai PIN atau tanda tangan!" Alexander menyerahkan black card pada waiters.
"Baik Tuan, mohon ditunggu sebentar!" dengan sopan waiters menerima black card dari tangan Alexander, kemudian membawanya ke meja kasir.
Sambil menunggu, Ivona memainkan sedotan di gelas minumannya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk mengatakan apapun.
"Kita langsung pulang, atau Nana masih ada yang mau didatangi? Jika masih ada, kakak akan mengantar kamu sendiri." Alexander bertanya apakah masih ada urusan yang lain.
"Pulang." jawab Ivona ketus.
Alexander bingung mau berkata apa lagi, dia merasa semua kosa katanya untuk membujuk Ivona sudah habis. Akhirnya mereka kembali terdiam sampai waiters datang membawakan bill dan mengembalikan black card milik Alexander.
*************
Sesampainya di halaman parkir, Alexander membukakan pintu mobil untuk Ivona. Setelah gadis itu masuk dan duduk, dengan pelan Alexander kembali menutup pintunya. Kemudian pria muda itu berjalan memutar dan segera masuk ke belakang kemudi. Sebelum menyalakan mesin mobil, Alexander menyerahkan coklat pada Ivona.
"Nih untuk mood booster! Biar senyum kembali terbit." ucap Alexander menggoda Ivona.
__ADS_1
"Ga lucu." dengan nada cepat, Ivona menanggapi Alexander. Tetapi tangannya mau menerima coklat yang disodorkan padanya.
Alexander tersenyum kecut, melihat respon gadis itu yang masih terlihat ngambek.
"Mau ke rumah keluarga Iswara dulu atau kita langsung pulang ke rumah?" Alexander bertanya pada Ivona sambil menyalakan mesin mobil.
"Pulang." jawab Ivona singkat. Karena tidak ada agenda lainnya, Alexander segera mengarahkan mobilnya menuju jalan pulang ke rumah.
"Jangan salahkan Tommy, sebagai seorang kakak yang baik, dia sangat mengkhawatirkan kamu. Karena selama dua minggu dia harus bekerja di luar negeri, akhirnya dia minta tolong padaku." Alexander berusaha menjelaskan kenapa Tommy bisa menitipkan Ivona padanya.
Gadis itu tetap terdiam, dan Alexander menoleh padanya sambil tersenyum.
"Apakah kamu pikir aku ini mudah untuk menerima penitipan seorang gadis? Hah.., aku mau menerimamu, karena kita sudah saling mengenal. Semula aku juga menolaknya, tetapi begitu Tommy mengirimkan fotomu, aku jujur langsung kaget. Setelah berpikir, akhirnya aku menerima tawaran dari kakakmu." tambahnya lagi.
"Jadi.., sekarang kak Alex lebih membela kak Tommy, mendukung aksi kak Tommy. Terus Ivona gitu yang kolokan, atau kekanak-kanakan jika marah karena merasa dibohongi." sahut Ivona dengan ekspresi masih kesal.
"He.., he.., he.., tidak begitu juga kali. Hargai niat baik Tommy, dia itu sangat memperhatikan kamu, dia sangat peduli sekali. Hanya karena waktunya yang tidak bisa menjagamu 24 jam dalam sehari, maka dia minta tolong padaku. Percayalah padaku Na.." dengan lemah lembut, Alexander terus berusaha membujuk Ivona, agar kemarahannya segera hilang.
"Terus setelah ini, kak Alexander pasti akan memaksa Ivona untuk pulang ke rumah begitu?? Jika jawaban kakak iya, maka mending kak Alex antar Ivona ke asrama sekolah saja. Sepertinya lebih enak tinggal di asrama, daripada harus kembali ke rumah keluarga Iswara." tidak diduga, Ivona malah berbicara semakin keras.
"Look in to my eyes.., Ivona!! Apakah dari tadi aku bicara, pernah mengajakmu untuk kembali ke rumah keluarga Iswara? Tidak kan, Tommy saja juga mengalah padaku. Dia menyerahkan kebebasan pada dirimu, mau pulang atau tetap tinggal denganku di villa. Jujur.., aku juga tidak mau kamu tinggalkan sendiri di villa." tanpa sadar, Alexander berbicara jujur. Ivona memandang Alexander, dan tampak kesungguhan di muka pria muda itu.
"Sudah ya marahnya..., please! Janji deh, nanti aku akan bicara dengan Tommy. Jika dia ingin ketemu kamu, harus minta ijin padaku terlebih dulu."
__ADS_1
***************