Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 86 Pingsan


__ADS_3

Sampai satu jam lebih, Vaya masih tidak mau keluar dari kamar mandi. Dia merasa ketakutan dan diteror dengan perasaannya sendiri. Dari hari kemarin, dia sudah mendapatkan hujatan dari banyak orang. Apalagi orang suruhan dia yang mengaku jadi fans, dan dia bayar agar membuat postingan tentang berita bohong Ivona juga terus menterornya. Laki-laki itu merasa mendapatkan kerugian yang besar dengan diblokir dan hilangnya akun yang dia punya. Sedangkan bayaran yang diterima dari Vaya tidak sebanding dengan akunnya yang sudah dihapus oleh hacker.


"Will.., aku sudah ke kamar mandi, tetapi Vaya tetap belum mau keluar dari sana. Bagaimana, apakah kita dobrak pintu kamar mandinya atau kita biarkan saja?" tanya teman William yang disuruh untuk memanggilkan Vaya tadi.


Tadi mereka membuat taktik murahan agar Vaya mau menemui William, tetapi ternyata dengan berbohong jika ada orang yang sedang mencari dan sudah sampai di pintu gerbang, malah menjadikan Vaya tidak berani untuk keluar dari dalam toilet.


"Kita tunggu saja sebentar lagi, memangnya ada murid yang betah di dalam toilet sekolah sampai berjam-jam." ucap William santai.


"Tapi ini sudah satu jam lebih lho, Vaya berada di dalam kamar mandi." sahut temannya.


"Mungkin saja, Vaya memang masih ada urusan di dalam sana. Sudahlah kita tunggu saja dia disini sebentar lagi." kata William, kemudian duduk di kursi panjang yang ada di selasar. Tadi setelah menyalin catatan dari bukunya Ivona, dia langsung keluar kelas untuk membolos. Dia merasa mendapatkan injeksi materi pelajaran dari murid yang duduk sebangku dengannya, yaitu Ivona.


"Kamu ga kembali ke kelas ya Will? Sudah masuk tuh, guru mata pelajaran selanjutnya." tanya salah satu temannya tiba-tiba.


"Ga.., malas. Mending tidur." jawab William cuek, dan dia langsung memejamkan mata sambil menyandarkan kepala di tembok yang ada di belakangnya.


Baru sesaat William memejamkan matanya, tiba-tiba...


"William..., tolongin Vaya dong!! Dia tadi terdengar masih nangis kencang banget di dalam kamar mandi, tapi kok sudah beberapa saat sudah tidak terdengar suara lagi dari luar." terlihat Chandra teman mereka berlari sambil menghampiri William.


"Kenapa kamu malah datang kesini. Harusnya kamu gedor dong pintunya, atau sekalian didobrak." ucap William dengan nada tinggi. Dia langsung berdiri dan bergegas menuju kamar mandi. Beberapa murid laki-laki mengikutinya dari belakang.


 


*************


 


"Brakk..." terdengar pintu kamar mandi didobrak dari luar. Tidak berapa lama pintu terbuka, ternyata handle sudah dibuka oleh Vaya. Terlihat Vaya tergeletak di lantai kamar mandi sambil memejamkan mata.


"***.*., Vaya pingsan dodol." teriak William. Dia langsung mengangkat tubuh gadis itu dengan kedua tangannya, dan dengan berjalan cepat dia bergegas menuju ke UKS.


"Ada apa ini? Siapa yang pingsan?" tanya petugas jaga di UKS.

__ADS_1


"Vaya bu.., barusan pingsan di toilet." sahut Chandra.


"Cepat baringkan di ranjang UKS!"


William segera membaringkan tubuh Vaya di atas ranjang, dia melihat Vaya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Kalian keluar dulu, setelah aku olesi minyak kalian baru boleh masuk kembali." petugas jaga itu dengan cepat mengambil minyak angin, dan dengan cekatan dia membaui hidung Vaya dengan minyak angin. Tangan gadis itu tampak dingin, petugas jaga juga mengoleskan minyak tersebut di punggung dan telapak kakinya.


William dan Chandra menunggu Vaya di kursi tunggu yang ada di depan UKS. Mereka membicarakan apa kira-kira yang menyebabkan Vaya menjadi seperti itu.


"Ini semua pasti berhubungan dengan Ivona." kata Chandra tiba-tiba.


"Apakah kamu punya bukti dan dasar, kenapa langsung menuduh murid pindahan itu yang menjadi penyebab Vaya menjadi pingsan seperti ini?" tanya William.


"Siapa lagi Will, kejadian ini bertepatan dengan hebohnya tentang berita jika Ivona adalah anak haram dari keluarga Iswara. Setelah ke sekolah hari ini, tiba-tiba Vaya langsung mengurung diri di toilet. Dia menangis sampai pingsan seperti ini." Chandra membuat alibi untuk menyalahkan Ivona.


Mendengar penjelasan dari Chandra, William hanya tersenyum dingin. Kemudian dia berdiri dan berjalan meninggalkan Chandra sendiri disini.


William tidak menghiraukan pertanyaan William, dia terus melangkah. Tidak menunggu waktu lama, berita tentang dibawanya Vaya yang pingsan di toilet oleh William, dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru sekolah.


 


 


*********************


 


Melihat William tidak merespon kata-katanya, Chandra terlihat kesal. Dia kemudian masuk ke dalam UKS, dan melihat petugas jaga sudah kembali duduk di kursinya.


"Apakah saya sudah boleh masuk Bu.., saya ingin melihat Vaya." Chandra bertanya pada petugas jaga.


"Boleh.., tapi gadis itu belum sadar. Tunggulah beberapa saat, jika dalam 30 menit ternyata belum sadar juga. Nanti kita rujuk dia ke rumah sakit terdekat." jawab petugas jaga.

__ADS_1


Mendengar perkataan petugas jaga tersebut, Chandra semakin merasa khawatir dengan keadaan Vaya. Dia segera menuju ke samping ranjang, tempat Vaya dibaringkan.


"Sialan kamu Ivona..., aku akan membuat perhitungan denganmu. Gara-gara kamu, temanku Vaya menjadi seperti ini." gumam Chandra sambil menggerutu. Dia merasa prihatin melihat keadaan Vaya.


"Hmmm.., air.., air." tiba-tiba Vaya tersadar. Chandra langsung terlihat sangat senang.


"Kami sudah sadar Vaya.., tunggu aku ambilkan air minum."


Chandra segera mengambil gelas dan menuangkan air dari dispenser yang tersedia disitu. Kemudian dia mendudukkan Vaya dengan menyandarkan punggungnya diatas bantal, kemudian membantu gadis itu untuk minum dari gelasnya.


"Terima kasih Chan.., kamu sudah peduli terhadap aku. Jika tidak ada kamu, siapa yang masih mempedulikanku. Hiks.." Vaya kembali menangis.


"Sabarlah Vaya..! Semua orang menyayangi kamu, tidak ada yang membencimu." Chandra menghibur Vaya, agar gadis itu menghentikan tangisannya.


"Hiks..hiks.. aku saat ini bukan siapa-siapa Chan. Aku sudah diusir dari keluarga Iswaya, aku tidak tahu lagi harus tinggal dengan siapa.. hu..huuu..." Vaya tambah keras menangis.


"Kamu diusir dari keluarga Iswaya?? Siapa yang mengusirmu, apakah papa dan mamamu?" tanya Chandra terkejut.


"Bukan.., tapi kakek. Untung ada mama, mamalah yang sudah menyelamatkan aku Chan. Jika tidak, aku mungkin sudah menjadi gelandangan di kota ini." Vaya menceritakan jika Nyonya Iswara yang sudah menyelamatkan dirinya.


Chandra menghela nafas, dia ikut prihatin dengan nasib yang sedang menimpa temannya itu saat ini.


"Kamu jangan bersedih lagi Vaya. Aku yakin kakekmu tidak beneran mengusirmu untuk keluar dari rumah. By the way.., aku dengar berita jika kakakmu Tommy hari ini pulang dari luar negeri." kata Chandra tiba-tiba.


Mendengar ucapan Chandra terakhir Vaya merasa senang dan kembali bersemangat. Dia merasa memiliki harapan baru.


"Benarkah Chan?" tanya Vaya dengan antusias.


"Iya.., informasi yang aku dapatkan valid. Kamu bisa menjemputnya hari ini langsung di bandara.., aku yakin kak Tommy akan terkesan padamu."


 


********************

__ADS_1


__ADS_2