
Alexander tersenyum melihat kedatangan Ivona, gadis yang sudah berpisah dengannya sejak dia masuk ke sekolah tadi pagi. Biasanya sepulang sekolah, dia yang menjemputnya, tetapi sore ini dia harus mendengarkan permintaan dari Tommy yang akan menjemput Ivona. Untung saja Tommy memberi tahu dimana mereka akan makan bersama, sehingga dia bisa mendahului datang ke tempat ini.
"Ayo Nana.., segeralah kesini! Aku sudah menunggumu dari tadi." seru Alex memanggil Ivona. Dia berdiri menyambut Ivona, dan memintanya untuk segera datang ke kursinya.
"Kok Kak Alex bisa sampai di ruang ini." Ivona bertanya dengan tatapan bingung.
"Duduklah dulu.., ini sudah kakak pesankan menu-menu kesukaanmu!" kata Tommy mencoba menetralisir suasana. Ivona melihat di meja yang saat ini diduduki Alexander dan kakaknya Tommy, sudah tersedia beraneka makanan kesukaannya.
Alexander berdiri dan menarikkan kursi untuk Ivona, sedangkan Tommy jadi terdiam merasa serba salah. Dia khawatir jika Ivona akan salah paham terhadapnya, jika dia sampai tahu bahwa Tommylah yang menitipkannya pada Alexander. Padahal dia menitipkan Ivona pada pria muda itu, agar ada yang mengawasi dan menjaga adiknya saat dia sedang berada di luar negeri. Meskipun ada juga keinginannya untuk mendekatkan adiknya dengan CEO Kavindra Group itu.
"Ayo kita segera makan saja dulu, nanti saja Lex ngobrolnya!" Tommy mengajak mereka segera menikmati makanan yang sudah tersedia di depan mereka. Mendengar panggilan Tommy pada Alexander terdengar akrab dan familiar, Ivona kembali melihati kedua orang yang duduk di depannya itu.
Ivona diam sambil terus mengamati respon kakaknya, dia segera duduk di kursi yang sudah disiapkan Alexander untuknya. Dia terus memandang pada kakaknya, dan Tommy hanya tersenyum pahit. Tidak heran saat kejadian di MUSE Bar waktu itu, Alexander langsung mengajaknya untuk pulang ke villanya. Ternyata kakaknya Tommy memiliki andil untuk membuat Alexander membawanya.
"Ada yang mau menjelaskan pada Ivona tidak ini? Apakah ada yang selama ini hanya mengerjai aku, dan pura-pura berbuat baik padaku, padahal dia telah membohongi aku?" Ivona bertanya dengan nada pedas dan sarkasme.
Tommy menelan ludah, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Ivona, dan hanya bisa tersenyum pahit. Kemudian dia memandang Alexander yang terlihat sangat santai menghadapi situasi itu. Tommy tidak tahu, jika sebelum dia menitipkan Ivona padanya, pria muda itu sudah terlebih dulu mengenal Ivona.
"Sudah Ivona.., kita makan dulu. Kakak janji, nanti kakak akan ceritakan semuanya padamu. Ini bebek peking, empuk dagingnya dan tidak ada rasa apeknya sama sekali. Dimasak dengan cuka yang didatangkan dari negara China secara langsung, jadi rasanya khas." Tommy mengambil potongan bebek peking dengan menggunakan sumpit, kemudian menaruhnya di piring yang ada di depan gadis itu.
Melihat kedua orang itu terkesan mengalihkan pembicaraan, Ivona tidak menanggapi perkataan Tommy. Dia dengan sinis melirik pada dua laki-laki muda di depannya itu, dan terlihat sangat kesal pada kedua laki-laki itu. Bahkan dengan Alex pun, Ivona juga tidak mau mengajaknya untuk bicara. Dia langsung makan apa yang ada di depannya tanpa bersuara sedikitpun. Saat dia melirik piring saji yang berisi makanan, tahu-tahu kedua pria itu sudah mengambilkannya dan langsung menaruhnya di piringnya.
"Minumlah ini Ivona.. ini teh olong hangat. Sangat cocok untuk melarutkan kandungan lemak buruk yang ada dalam porsi makan kita hari ini." Tommy terus melayani Ivona, dia ingin membuat adiknya itu merasa senang. Tommy sangat takut jika adiknya salah paham, dan marah padanya. Sedangkan Ivona terus mendiamkannya menjadikan kedua pria itu menjadi serba salah.
__ADS_1
Tommy melirik pada Alexander, dia mengisyaratkan jika membutuhkan bantuan Alexander untuk menenangkan Ivona. Tetapi pria muda itu hanya mengangkat kedua pundaknya, dia juga merasa bingung dengan tingkah Ivona. Lebih baik mereka berdua ini diomeli oleh Ivona, daripada didiamkan seperti itu.
*********
Setelah mereka makan dalam diam, Ivona berdiri tanpa pamit pada Tommy dan Alexander. Kedua pria itu kembali berpandangan mata, dan saat Ivona mulai melangkahkan kakinya.
"Nana mau kemana?" tanya Alexander tiba-tiba.
Ivona menoleh sebentar pada Alexander, tetapi tanpa menjawab pertanyaan pria muda itu, dia langsung berjalan meninggalkan mereka. Kedua pria itu sedikit bernafas lega, saat melihat Ivona berjalan masuk ke arah toilet.
"Pendapatmu sendiri bagaimana Tomm? Kalau aku sih punya cara sendiri untuk membujuknya, karena kami sudah dekat." kata Alexander sambil tersenyum.
"Iyakah..? Sejak kapan, mustahil Lex. Baru berapa hari kamu tinggal dengan adikku, masa semudah itu kamu bisa menundukkan Ivona." Tommy kurang mempercayai apa yang disampaikan Alexander.
"Kamu itu minta bantuanku, kenapa tidak percaya padaku? Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, saat memintaku untuk menjaga dan mengawasi gadis itu." Alexander balik bertanya pada Tommy.
"Aku sudah kenal Ivona sejak lama sebenarnya, cuma aku tidak memberi tahunya padamu. Jika belum kenal sebelumnya, mana mungkin adikmu itu menurut padaku, saat aku bawa pulang dari MUSE Bar dua minggu yang lalu." Alexander menambahkan.
Tommy berpikir sebentar, dan akhirnya dia membenarkan perkataan yang diucapkan oleh Alexander.
__ADS_1
*****************
Ivona berdiri meninggalkan Tommy dan Alexander tanpa kata, setelah dilihati ternyata gadis itu pergi ke toilet.
"Bagaimana ini Lex.., bantu aku dong! Aku yakin Ivona marah ini. Dia pasti sudah tahu jika dia tinggal bersamamu, karena usulku." Tommy mengajak bicara Alexander tentang Ivona.
"Kan marahnya sama kamu, bukan sama aku." sahut Alexander santai.
"Jangan gitulah bro.., kamu juga terlibat dong dalam hal ini. Bantu aku, please...!" Tommy terus meminta Alexander untuk membantunya.
"Aku punya cara sendiri, agar Ivona tidak marah padaku. Kamu tidak tanya padaku, kenapa tiba-tiba aku mau menerima dia untuk tinggal di villa bersamaku." kata Alexander sambil senyum-senyum.
Tommy terdiam, dia jadi teringat bagaimana sifat Alexander sesungguhnya. Dia tidak pernah mau ada keterlibatan lebih dekat dengan perempuan manapun. Saat dia minta tolong padanyapun, di awal laki-laki muda itu menolaknya. Setelah dia mengirimkan foto Ivona, tiba-tiba dia mau menjaga dan mengawasi Ivona saat dia dalam perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Oke kalau begitu, untuk membujuk adikku aku serahkan padamu. Bujuk dia, agar dia mau pulang ke rumah keluarga Iswara, dan segera menghentikan marahnya."
"Untuk membujuknya agar Ivona tidak marah, tapi untuk agar mau kembali ke rumah keluarga Iswara aku tidak janji. Karena kakek sendiri yang memintaku untuk menjaga dan mengawasi adikmu."
Tommy terdiam, dan dia pamit untuk pergi lebih dulu, dia pasrah pada Alexander untuk membujuk agar adiknya menghentikan marahnya.
__ADS_1
***************